Pemurtadan, Firqah, TBC, Ghazwul Fikri, NAHIMUNKAR — August 23, 2017 at 19:32

Ziarah Kubur Sebagai Syariat, Telah Ternoda Akibat Tradisi Syirik dan Bid’ah!

by
Ziarah Kubur Sebagai Syariat, Telah Ternoda Akibat Tradisi Syirik dan Bid’ah!

Ziarah kubur sebagai sebuah syari’at Islam, kini telah banyak tercemar dan ternoda oleh mulut-mulut pendusta dari kalangan ulama suu’, kiyai suu’, maupun ustad suu’ yang semoga Allah menyelamatkan kita dari bahaya fitnah mereka. Amin Yaa Rabbal ‘alamin…

Islamkafah.com – Ziarah kubur pada asalnya adalah sebuah syari’at yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wassalam- sebagaimana sabda beliau -Shallallahu ‘alaihi wassalam-, ” “Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim no. 976)

Juga, kaum muslimin pun tidak lupa dianjurkan ketika sedang berziarah kubur, untuk mendoakan para penghuni kubur. Namun, tidak boleh mengingalkan adab dan tuntunan syar’inya yakni ketika berdoa harus menghadap kiblat bukan menghadap ke arah kuburan. Doa berziarah kubur adalah sebagaimana dibawah ini:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ (وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ) وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

(Assalamu ‘alaikum ahlad diyaar minal mu’minin wal muslimin –wa yarhamullahul mustaqdimiin minna wal musta’khiriin- wa innaa insya Allah bikum laahiquun. As-alullaha lanaa wa lakumul ‘aafiyah)

Artinya: “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, (semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan). Kami insya Allah akan bergabung bersama kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 975)

Menyikapi Ziarah Kubur yang ternoda di Indonesia

Wali Songo, kuburannya memang terkenal sekali di Indonesia ini. Tak tangung-tanggung, banyak mereka yang berasal dari daerah terpencil pun berbondong-bondong dan berjuang gigih agar bisa sampai dan berziarah kubur di salah satu makam wali songo.

Jika kita mau lebih jujur. Sebenarnya perbuatan semacam ini adalah perkara Bid’ah yang sangat berbahaya. Yakni, bid’ah yang menyerang Aqidah kita dan berpotensi menyeret kita kedalam lembah kemusyrikan. Terlebih mereka beranggapan bahwa safar dari tempat tinggal ke makam wali songo adalah sebuah ibadah yang agung.

Lantas, benarkah klaim dusta yang sering dikumandangkan da’i – da’i suu’ (pendusta) tersebut? Simaklah hadits dibawah ini:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ – صلى الله عليه وسلم – وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: masjidil haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil aqsho” (HR. Bukhari 1189 dan Muslim no. 1397).

Hadits tersebut diatas menjelaskan bahwa safar dalam rangka beribadah kepada Allah ke suatu tempat yang tidak ada dalilnya, yakni selain ketiga tempat diatas, adalah sebuah safar yang bathil dan tidak mendapatkan apa-apa selain kerugian.

Dan perkara ini jangan disamakan dengan safar karena ingin bersilaturahim, berdagang, belajar, dan segala kegiatan yang dimubahkan dalam syari’at Islam. Perkara Ziarah kubur ini adalah perkara yang serius dan musti diobati. Apabila tidak ada yang mengobati dan tidak ada yang mengingatkan, maka sampai kapan kaum muslimin satu persatu terus murtad tanpa sadar akibat perbuatan syiriknya?

Waiyyadubillahi.

Lantas, timbul pertanyaan. Mana kesyirikan yang ada dalam praktik ziarah kubur yang lagi marak di Indonesia, ini?

Ya ikhwah…..

Kesyirikan dan kebid’ahan yang berada dalam praktik ziarah kubur itu banyak, bahkan sangatlah banyak. Contoh yang paling populer adalah tradisi memberi sesajen, ngalap berkah, shalat di kuburan wali, baca Qur’an atau dzikir serta beribadah yang dianggap lebih afdhal dikerjakan di makam dari pada dikerjakan di masjid. Dan, masih banyak yang lainnya. Namun, biasanya yang paling disoroti adalah tentang perihal mereka yang bertawasul atau meminta-minta (berdoa) kepada Allah melalui para kyai atau siapaun yang dianggap shalih oleh mereka, namun sudah MENINGGAL.

Hal ini jelas sebagai jika dinisbatkan kedalam agama Islam, maka disebut Bid’ah. Bahkan, bid’ah mukafiroh. Yakni, Bid’ah yang menyebabkan orang yang menjalankannya langsung Kafir dan Murtad tanpa sadar. Waiyyadubillahi.

Allah Azza wa Jalla, berfirman:

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.” (QS. Az Zumar:3).

Kaum musyrikin yang difonis kafir akibat tawasul kepada orang yang sudah mati, berusaha membela diri bahwa apa yang mereka lakuan adalah bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Namun, jelas bahwa Allah Azza wa Jalla membongkar kedustaan perkatan mereka dalam ayat Al-Qur’anul Karim di atas.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Barang siapa berdoa kepada sesembahan selain Allâh, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Rabbnya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung. [al-Mu’minûn/23:117]

Ayat diatas menjelaskan kekafiran bagi mereka yang berdoa, tapi tidak langsung kepada Allah. Padahal Allah memerintahkan hamba-Nya untuk langsung beribadah dan berdoa hanya kepada Allah.

Firman Allah Azza wa Jalla, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna , maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu…” (QS. Al A’raf:180).

Juga,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS. Ghafir: 60).

Dan,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”.” (QS. Yunus: 18).

Serta,

قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yunus: 18).

Mengenal Berbagai Macam Tradisi Musyrik dan Bid’ah Ziarah Kubur

1.  Doa Ziarah Kubur Walisongo (Tercantum dalam buku tuntuan ziarah kubur Walisongo pada umumnya).

الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا شَيْخَ عَبْدَ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيْ مَحْبُوْبَ اللهِ أَنْتَ صَاحِبُ الإِجَازَةِ إِجَازَة مُحَمَّدٍ مُحَمَّدٌ إِجَازَةُ اللهِ أَنْتَ صَاحِبُ الْكَرَامَةِ كَرَامَةُ مُحَمَّدٍ مُحَمَّدٌ كَرَامَةُ الله أنْتَ صَاحِبُ الشَّفاعَةِ شَفَاعَةُ مُحَمَدٍ مُحَمَّدٌ شَفَاعَةُ الله يا شَيْخَ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيْ أَغِثْنِيْ أَغِثْنِيْ أَغِثْنِيْ سَرِيْعًا بِعِزَّةِ الله

Artinya: “Semoga sholawat dan salam dilimpahkan kepada engkau wahai tuanku wahai Syeikh Abdulqadir Jailani, orang yang dicintai Allâh. Engkaulah pemilik ijazah, ijazah Muhammad dan Muhammad adalah ijazah Allâh. Engkaulah pemilik karamah, karamah Muhammad dan Muhammad adalah karamah Allâh. Engkaulah pemilik syafaat, syafaat Muhammad, Muhammad syafaat Allâh. Wahai Syeikh Abdulqadir al-Jaelani tolonglah aku tolonglah aku tolonglah aku segera, dengan kemulian Allâh”.[6]

2. Bait-bait “Burdah” yang berisi Istighasah, permohonan perlindungan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

يَا أَكْرَمُ الْخَلقِ مَا لِيْ مَنْ أَلوذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمَمِ
ما سَامَنِيْ الدَّهْرُ ضَيْمًا و اسْتَجَرْتُ بِهِ إلاَّ وَ نِلْتُ جِوَارًا مِنْهُ لَمْ يُضَمِ
وَمَنْ تَكُنْ بِرَسُوْلِ الله نُصْرَتُهُ إِنْ تَلْقَهُ الأُسْدُ فِيْ آجَامِهَا تَجِمُ

Artinya: “Wahai makhluk termulia (maksudnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), aku tidak memiliki tempat berlindung kecuali engkau saat bahaya melanda.

Setiap zaman menganiaya diriku, lalu aku berlindung kepadanya (Nabi Muhammad), akupun mendapatkan keselamatan dan perlindungan darinya, tidak teraniaya.

Barangsiapa yang menjadikan Rasûlullâh sebagai penolongnya, jika bertemu singa di kandang pun akan diam saja”.

dan masih banyak lagi yang lainnya yang mungkin artikel ini menjadi sangat panjang apabila penulis memuat semua ritual sesat tersebut di postingan kali ini.

Maka, dengan adanya perbuatan musyrik yang diklaim sebagai ibadah ini sangat tersebar luas, dan dilindungi pun dilestarikan oleh para penguasa yang dhzalim (akbar). Perbuatan tersebut sampai hari ini masih tersisa dan terus berjalan dengan aman karena dilindungi oleh para penguasa dzhalim (akbar) dan ansharnya (pembela, pendukung, dan pelindungnya). (aus)

 


Baca tulisan Abu Umar Shalahuddin yang lainnya tentang serial kajian ilmiah dengan tema “Bid’ah” dibawah ini:

1. Mewaspadai Bid’ah yang Perlahan-lahan Membuat Kita Terseret dalam Kekufuran
2. Ziarah Kubur Sebagai Syariat, Telah Ternoda Akibat Tradisi Syirik dan Bid’ah!