Tafsir Hadits, Tafsir Quran, KAJIAN, Hikmah — November 10, 2018 at 05:37

Wajibnya Mencegah Dan Mengubah Kemungkaran Di Sekitar Kita

by
Wajibnya Mencegah Dan Mengubah Kemungkaran Di Sekitar Kita

jika di dalam hati tidak ada pengingkaran dan pembencian terhadap kemunkaran itu, maka sudah tidak ada lagi iman yang bertempat disana

 

IslamKafah.com – Allah telah mengilhamkan setiap jiwa manusia potensi ketakwaan dan kefasikan. Jiwa manusia yang hanif akan cenderung kepada kebajikan dan menolak kemunkaran, terutama jiwa orang mukmin. Sehingga Al-Qur’an menerangkan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar adalah sifat orang beriman:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah [9] : 71)

Bertolak belakang dengan sifat orang munafik, Allah berfirman tentang mereka:
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya648. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah [9] : 67).

648 Maksudnya: berlaku kikir

Bahkan amar ma’ruf nahi munkar memiliki kedudukan istimewa sebagai karakteristik khusus ummat terbaik, sebagaimana firman Allah:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran [3] : 110).

Demikianlah ummat islam merupakan ummat terbaik pilihan Allah disebabkan salah satunya adalah karena memiliki sifat nahi munkar. Maka perhatikanlah keadaan Bani Israil yang dikutuk oleh para Nabi karena mereka tidak saling mencegah kemunkaran yang terjadi diantara mereka. Al-Qur’an menyebutkan:

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah [5] :78-79).

 

Siapa Melihat Kemunkaran, Wajib Mengubahnya Sesuai Kemampuan

Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran hendaklah ia mengubah kemunkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisan, jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (Syarah Shahih Muslim no. 49).

Hadits diatas memerintahkan untuk mengubah kemunkaran, mengubah maksudnya menghentikan. Menghentikan kemunkaran yang utama adalah dengan tangan (tindakan), yaitu kekuasaan. Seseorang yang memiliki kuasa atas orang lain, wajib memilih opsi ini. Contohnya pemimpin pemerintahan yang berkuasa atas rakyatnya, pemimpin perusahaan yang berkuasa atas bawahannya, bahkan pemimpin rumah tangga yang memiliki kekuasaan atas keluarganya. Bagi mereka wajib menerapkan aturan dan larangan yang sesuai dengan aturan Allah, sehingga amar ma’ruf nahi munkar bisa direalisasikan.

Namun bagi mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan tidak pula memiliki keberanian untuk bertindak menghentikan kemunkaran, pilihan kedua wajib ditempuh. Yaitu menghentikan kemunkaran dengan lisan (ucapan). Maksudnya dengan menasihati, bisa dengan cara lembut ataupun cara yang tegas disesuaikan dengan keadaan. Jika pun tak mampu dan tidak berani dengan lisan, maka wajib mengingkari dan membenci kemunkaran yang dilihat itu dengan hatinya, sambil meninggalkan tempat terjadinya kemunkaran itu. Karena ia tak mampu menghentikannya baik dengan tindakan maupun dengan ucapan, maka tidak boleh dia diam saja disitu menyaksikan kemunkaran tanpa berbuat apa-apa untuk menghentikannya (lihat, QS. 4 : 140). Keadaan yang demikian adalah keadaan orang yang paling lemah imannya.

Kelemahan iman tersebut (yaitu hanya bisa mengingkari kemunkaran dengan hati) sepatutnya kita hindari. Apalagi jika di dalam hati tidak ada pengingkaran dan pembencian terhadap kemunkaran itu, maka sudah tidak ada lagi iman yang bertempat disana. Perhatikan hadits berikut:

Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Kelak akan muncul para penguasa (pemimpin) setelah aku ‘wafat. Mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan, dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang berjuang (mengubah kemungkaran) mereka dengan tangannya, maka ia adalah seorang mukmin. Dan siapa yang berjuang (mengubah kemungkaran) mereka dengan lidahnya, maka berarti ia adalah seorang mukmin. Dan siapa yang berjuang (mengubah kemungkaran) mereka dengan hatinya, maka ia seorang mukmin. Tidak ada iman setelahnya.” (Shahih Ibnu Hibban no. 177).

Uraian diatas memerintahkan untuk menghentikan kemunkaran yang telah terjadi, lalu bagaimana dengan kemunkaran yang belum terjadi? Mari kita renungkan sabda Rasulullah saw. berikut:

Dari Anas radliallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” ‘Tolonglah saudaramu baik ia zhalim atau dizhalimi.” Ada seorang laki-laki bertanya: ‘ya Rasulullah, saya maklum jika ia dizhalimi, namun bagaimana saya menolong padahal ia zhalim? ‘ Nabi menjawab: “engkau mencegahnya atau menahannya dari kezhaliman, itulah cara menolongnya.” (Shahih Bukhari no. 6952).

Wallaahu a’lam bish-shawaab.

(AbuAzzam).

%d bloggers like this: