Keluarga Samara, MUSLIMAH — December 27, 2017 at 21:09

Mengenal Faktor Faktor Pemicu Perceraian, dan Kiat Menghindarinya!

by
Mengenal Faktor Faktor Pemicu Perceraian, dan Kiat Menghindarinya!

Talak (perceraian) bukanlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga. Talak merupakan solusi terakhir bukan solusi pertama…

 

Tahukah Anda, bahwa setiap tahun grafik statistik kasus talak (perceraian) mencapai 30 % lebih dari total jumlah pernikahan. Kenyataan ini sangat memilukan. Perceraian yang diupayakan menjadi solusi atas suatu problem berubah menjadi problem baru yang lebih besar.

Dalam perceraian sebenarnya posisi seorang istrilah yang sangat rentan dan lemah.

Jika keputusan perceraian ini tidak melibatkan seorang istri –dan ini yang sering terjadi-, maka kepergiannya dari rumah mudah terjadi.

Untuk itu, penulis pesankan kepada setiap perempuan yang akan memutuskan menikah atau kepada semua yang telah menemui kendala dalam kehidupan rumah tangganya, agar menjadikan rumahnya sebagai surga yang penuh dengan kebahagiaan termasuk di antaranya adalah berhati-hati dalam memperhatikan hak-hak anak.

Talak (perceraian) bukanlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga. Talak merupakan solusi terakhir bukan solusi pertama.

Oleh karenanya, di dalam Agama Islam, pernikahan, perceraian, dan rujuk diatur dengan sangat sempurna.

Adapun faktor-faktor yang dapat memicu perceraian antara lain adalah sebagai berikut:

1. Istri berlebihan dalam mencurahkan pikiran untuk penampilan yang cantik dan perhiasan dengan mengorbankan rumah, anak-anak dan suami.

2. Istri Sering pergi ke salon kecantikan, berburu mode paling anyar di pusat perbelanjaan berkumpul dengan teman-teman di restoran-restoran dan segala aktivitas yang dapat melalaikan pekerjaan rumah, karena hal-hal ini dapat menggerus kesabaran suami.

3. Istri menjalin hubungan dengan laki-laki lain, pacaran atau lainnya.

Sehingga, ia mencurahkan semua kosa kata cinta dan kasih kepada teman laki-lakinya tersebut, sehingga suami pun tidak kebagian cintanya sama sekali dan merasa tidak mendapatkan apa-apa dari hak-hak kemesraan dan cinta yang mestinya dia peroleh.

4. Istri bergantung kepada pembantu rumah tangga dalam melayani suami.

Sehingga, sang pembantulah yang selalu ada untuk melayani suami saat makan, minum, menyiapkan pakaian dan lain-lain.

Seorang laki-laki sangat mendambakan minimal istrinya-lah yang menghidangkan makanan dan minumannya setelah dibuatkan oleh pembantu.

5. Seorang suami senang mendengar istrinya selalu memberikan kata-kata pujian dan kata-kata bangga dengannya baik dalam fisik, penampilan dan keromantisannya yang seakan sosok Qais yang melegenda itu.

Hendaknya sanjungan itu sedikit dibumbui dengan kata-kata rayuan bahwa sosok suami tidak ada yang menyamai di dunia ini. Sebagaimana seorang istri juga merindukan cinta, kasih sayang, sanjungan dan kebanggaan yang keluar dari suaminya.

6. Istri melalaikan tanggung jawabnya dalam rumah tangga, dan tidak menjaga kehormatan dan nama baik keluarganya. Kedua hal ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar bagi seorang istri.

7. Adanya intervensi pihak keluarga dalam problem suami istri, meskipun problem itu sangat kecil.

Sebab, intervensi mertua dapat menjadikan masalah yang semestinya kecil berubah semakin membesar.

8. Tidak ada rasa saling pengertian antara pasangan suami istri, padahal permasalahan sebesar apapun dapat dipecahkan bersama.

Jadi, jangan sampai salah satu pasangan tidak mendengar apa yang diungkapkan oleh pasangannya, sehingga keduanya saling marah dan menghina.

9. Istri memaksa suami agar dirinya bisa bekerja di luar rumah dan meyakini bahwa kehidupan telah berubah.

Sebagian laki-laki tidak senang hal ini terjadi. Mereka cenderung merasa tidak perlu mendapatkan bantuan istrinya dalam mencari uang, meskipun sang istri menjamin kehidupannya ke depan.

Namun, kasus seperti ini harus diselesaikan dengan saling pengertian di antara kedua pasangan.

10. Ketegangan, kegelisahan, perasaan tidak nyaman dan kesedihan karena kehidupan yang keras pada masa ini.

11. Penghinaan, sikap melukai perasaan pasangan, dan kecapaian kerja yang luar biasa dapat memperkeruh suasana dan lepas kendali dan kontrol emosi.

Sehingga, bahasa pukulan, penghinaan dan kata-kata keras saling meluncur dari kedua pasangan suami istri dan melenyapkan rasa hormat mereka berdua. Dan akhirnya saling tidak suka.

12. Lemahnya persiapan seorang wanita dan mempunyai keinginan yang muluk-muluk saat memutuskan menikah.

Pada saat itu, dia mempersepsikan bahwa kehidupan pasca menikah penuh keromantisan, cinta, kasih sayang, kekayaan yang melimpah dan kesenangan dalam segalanya.

Setelah pernikahan ia dibenturkan dengan setumpuk tanggung jawab yang harus dipikulnya. Untuk itu, seorang istri harus ingat betul bahwa kehidupan berumah tangga dengan suami berbeda jauh dari kehidupan di rumah orang tuanya.

13. Seorang istri membanding-bandingkan suaminya dengan suami sahabatnya.

Contohnya, suami sahabat itu menggelontornya dengan berbagai hadiah, menyayanginya sepenuh hati dan memberinya ini dan itu, sehingga kehidupan rumah tangga menjadi neraka yang amat panas.

Semoga kita semua terjauh dari hal-hal yang tidak kita inginkan dalam kehidupan berumah tangga. Oleh karena itu, marilah senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk mencontoh kehidupan rumah tangga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya.

Semoga bermanfaat. Disadur dari buku Kuni Aniqah karya Shafa Syamandi.


Sumber : http://bersamadakwah.net/inilah-13-faktor-pemicu-perceraian/