Manajemen Qalbu, KAJIAN — Sat 11 Safar 1443AH 18-9-2021AD at 22:51

Mengambil Ibarah dari Cara Bersyukur Ala Luqman Al-Hakim

by
Mengambil Ibarah dari Cara Bersyukur Ala Luqman Al-Hakim

Ibnu Katsir juga menjelaskan, “Maknanya, Kami perintahkan Luqman untuk bersyukur kepada Allah ‘Azza Wa Jalla atas karunia yang diberikan kepadanya dan hanya diberikan kepadanya, bukan kepada orang yang lain dan yang semasa dengannya.”(Tafsîr Al-Qur’ân Al-Adhîm, Ibnu Katsir: III/453)….

 

Kemudian Allah Ta’ala perintah kepada Lukman Al-Hakim, “Bersyukurlah kepada Allah.” (Luqmân: 12).

Ayat di atas, menurut Ibnu Jarir Maksudnya adalah pujilah Allah atas karunia-Nya yang diberikan kepadamu.” Ibnu Jarir menjadikan firman Allah tersebut sebagai penafsiran dari hikmah, karena sebagian dari hikmah yang diberikan kepada Luqman adalah rasa syukurnya kepada Allah atas pemberian dari-Nya. (Tafsîr Ath-Thabari, Ibnu Jarir Ath-Thabari: X/209)

Ibnu Katsir juga menjelaskan, “Maknanya, Kami perintahkan Luqman untuk bersyukur kepada Allah ‘Azza Wa Jalla atas karunia yang diberikan kepadanya dan hanya diberikan kepadanya, bukan kepada orang yang lain dan yang semasa dengannya.”(Tafsîr Al-Qur’ân Al-Adhîm, Ibnu Katsir: III/453)

Sementara itu, Sayyid Quthb menguraikan bahwa ayat tersebut adalah arahan Qur’ani secara eksplisit untuk bersyukur kepada Allah serta mengikuti orang bijak yang ditunjuk untuk menuturkan kisah dan firman-Nya.” (Fî Dzilâlil Qur’ân, Sayyid Quthb: V/2787)

Semuanya Kembali kepada Dirinya Sendiri

Masih pada ayat yang sama, Allah ta’ala melanjutkan:

وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

“…Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri ….”(Luqman: 12)

Ibnu Katsir menjelaskan, “Maksudnya adalah manfaat bersyukur dan pahalanya itu kembali kepada mereka yang bersyukur. Hal ini berdasarkan firman Allah:

‘Dan barang siapa yang beramal saleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan)’.” (Ar-Rûm: 44).

Penjelasan yang sama juga diungkapan oleh Sayyid Quthb, “Di samping arahan eksplisit ini, terdapat arahan lain. Yaitu, bersyukur kepada Allah sebenarnya adalah simpanan yang kelak bisa bermanfaat bagi orang yang bersyukur, sedangkan Allah tidak memerlukannya.”(Fî Dzilâlil Qur’ân, Sayyid Quthb: V/2787)

Lalu di penghujung ayat tersebut, Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

 “Dan barang siapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”(Luqmân: 12).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menerangkan, “Allah mengabarkan tentang karunia-Nya terhadap hamba-Nya yang mulia, Luqman, yang berupa hikmah. Yaitu, ilmu kebenaran sesuai dengan esensi dan hikmahnya. Hikmah adalah mengetahui hukum dan rahasia serta hukum yang tersirat di dalamnya. Bisa jadi, seseorang yang berilmu bukan seorang ahli hikmah. Karena, hikmah mengharuskan adanya ilmu, bahkan amal.(Tafsir Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm Al-Mannân, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di: VI/154-155)

Oleh karena itu, hikmah diartikan sebagai ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Karena Allah memberinya karunia agung ini, Dia menyuruh Luqman untuk bersyukur kepada-Nya atas apa yang diberikan agar diberkahi dan diberi karunia lebih.

Allah memberitahukan kepada Luqman bahwa syukur seseorang manfaatnya akan kembali pada dirinya sendiri. Siapa pun yang kufur dan tidak mensyukuri Allah, kerugiannya akan menimpa dirinya sendiri. “Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji,” atas takdir dan putusan-Nya dan terhadap orang yang membangkang terhadap perintah-Nya.


Sumber: https://www.kiblat.net/2017/02/14/belajar-bersyukur-ala-luqman-al-hakim/