FIQIH, Doa & Dzikir — Mon 21 Ramadan 1442AH 3-5-2021AD at 07:56

Memburu Lailatul Qadar, Malam yang Senilai dengan Seribu Bulan!

by
Memburu Lailatul Qadar, Malam yang Senilai dengan Seribu Bulan!

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (Qs Ad-Dukhan 3-4).

 

Ada yang mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan.

Ada pula yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang penuh sesak karena ketika itu banyak malaikat turun ke dunia.

Ada pula yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam penetapan takdir.

Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia.[1]

Semua makna Lailatul Qadar yang sudah disebutkan ini adalah benar.

  1. Keutamaan Lailatul Qadar

Pertama, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan).

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ, فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (Qs Ad-Dukhan 3-4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam Lailatul Qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al-Qadar. Allah c berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (Qs Al-Qadar 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ, سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (Qs Al-Qadar 3-5).

Sebagaimana kata Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, malaikat akan turun pada malam Lailatul Qadar dengan jumlah tak terhingga [2]. Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar.[3]

Kedua, Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan. Imam An-Nakha’i mengatakan, “Amalan di Lailatul Qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan [4].” Mujahid, Qatadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada Lailatul Qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar [5].

Ketiga, menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[6]

  1. Kapan Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”[7]

Dan terjadinya Lailatul Qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.”[8]

Lalu kapan tanggal pasti Lailatul Qadar terjadi? Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah Lailatul Qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun [9].

Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam ke-27 atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam ke-25, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”[10]

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya Lailatul Qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika Lailatul Qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.[11]

  1. Doa Malam Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa pada Lailatul Qadar, lebih-lebih doa yang dianjurkan oleh suri tauladan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau  berkata: ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab,”Katakanlah:

اَللّٰهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).”[12]

  1. Tanda Malam Qadar

Berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari: “Telah disebutkan dalam beberapa riwayat tanda-tanda lailatul qadr namun kebanyakan tanda-tanda tersebut tidak nampak kecuali setelah lewat malam tersebut.”

Para ulama telah menyebutkan beberapa tanda-tanda tersebut, berdasarkan hadits-hadits yang shahih di antaranya:

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.”[13]

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صُبْحَةَ لَيـْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَّمْسُ لاَ شُعَاعَ لَهَا كَأَنـَّهَا طَسْتٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ

Pagi hari dari malam lailatul qadar terbit matahari tidak menyengat bagaikan bejana, sampai meninggi”[14]

Keempat, bulan sabit. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami bermudzakarah (bertanya-tanya) tentang kapan malam lailatul qadr bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda:

الأَيـُّكُمْ يَذْكُرُ حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَهُوَ مِثْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ

Siapa saja di antara kalian yang mengingat ketika terbit bulan dan saat itu bulan bagaikan belahan piring (bulan sabit).”[15]

Namun tidak ada halangan bagi yang tidak melihat atau mengetahui tanda-tandanya untuk mendapatkan keutamaan dan pahalanya selama dia menghidupkan pada sepuluh malam terakhir dengan ibadah karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala.

  1. Cara Menghidupkan Malam Lailatul Qadar

Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari Lailatul Qadar, maka dia telah terluput dari kebaikan yang besar. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mencamkan baik-baik sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Di bulan Ramadhan ini terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.”[16]

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah Ta’ala. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ gيَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.”[17]

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha juga mengatakan:

كَانَ النَّبِىُّ gإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’) [18], menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.”[19]

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam Lailatul Qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Bahkan Imam Asy-Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat shubuh di malam qadar, maka ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut” [20]. Menghidupkan malam Lailatul Qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan zikir dan tilawah Al-Qur’an [21]. Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam Lailatul Qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[22]

  1. Bagaimana Wanita Haid Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh-Dhahak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haid, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar?” Adh-Dhahak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.”[23]

Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haid, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian Lailatul Qadar. Namun karena wanita haid dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya, di antaranya membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf [24], berzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan zikir lainnya, memperbanyak istigfar, memperbanyak doa [25] dan amalan lain yang disyariatkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya tentang hukum menyentuh mushaf Al-Qur’an bagi wanita yang sedang haid dan nifas, beliau menjawab: “Orang-orang yang berhadats baik janabah, haid atau nifas, tidak boleh memegang mushaf, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Amr bin Hazm, artinya: “Tidak boleh memegang kecuali orang yang suci.” Hal ini menurut kesepakatan para imam empat. Oleh karena itu, orang yang berhadats besar tidak boleh memegang mushaf kecuali ada penghalang antara ia dengan mushaf tersebut, baik dengan kantong, sampul atau dari belakang penghalang. Adapun memegangnya langsung maka itu tidak diperbolehkan. Lain halnya jika memegang kitab tafsir yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur’an, maka hal itu tidak apa-apa, karena ia tidak dinamakan mushaf. Oleh karena itu, orang yang berhadats boleh memegang kitab tafsir dan boleh membacanya, karena ia bukanlah mushaf akan tetapi hanya kitab tafsir.” [26]

_________________________

[1]         Lihat Zaadul Masiir, 9/182
[2]         Lihat Zaadul Masiir, 9/192
[3]         Lihat Zaadul Masiir, 9/194
[4]         Lihat Lathaa-if Al-Ma’arif, hal. 341
[5]         Zaadul Masiir, 9/191
[6]         HR Bukhari no. 1901
[7]         HR Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169
[8]         HR Bukhari no. 2017
[9]         Fathul Bari, 4/262-266
[10]       HR Bukhari no. 2021
[11]       Fathul Bari, 4/266
[12]       HR Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun…” tidak terdapat dalam satu manuskrip pun. Lihat Tarooju’at hal. 39
[13]       HR Ath-Thayalisi dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475
[14]       HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Abu Daud
[15]       HR Muslim
[16]       HR Ahmad 2/385, dari Abu Hurairah. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih
[17]       HR Muslim no. 1175
[18]       Inilah pendapat yang dipilih oleh para salaf dan ulama masa silam mengenai maksud hadits tersebut. Lihat Lathoif Al-Ma’arif, hal. 332
[19]       HR Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174
[20]       Lathaa-if Al-Ma’arif, hal. 329
[21]       ‘Aunul Ma’bud, 4/176
[22]       HR Bukhari no. 1901
[23]       Lathaa-if Al-Ma’arif, hal. 341
[24]       Dalam At-Tamhid (17/397), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqih dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqih dan hadits di masanya.”
[25]       Lihat Fatwa Al-Islam Su-al wa Jawab no. 26753
[26]       Lihat Fatawa Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Fayiz Musa Abu Syaikhah. Maktabah Ibnu Taimiyah.


Sumber: http://www.panjimas.com/kajian/2016/06/27/memburu-lailatul-qadar-malam-seribu-bulan/

Tags