Salafus Shalih, Inspiratif — Wed 15 Safar 1443AH 22-9-2021AD at 05:37

Kisah Tukang Sol Sepatu Dapat Pahala Haji Mabrur walau Gagal Berangkat

by
Kisah Tukang Sol Sepatu Dapat Pahala Haji Mabrur walau Gagal Berangkat

 

Segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, termasuk gagalnya pergi ibadah haji. Hal ini bukan kali pertamanya terjadi, bahkan seseorang bisa mendapat pahala haji mabrur walau tidak jadi berangkat ke Tanah Suci untuk menyempurnakan rukun Islam kelima tersebut. Salah satunya seorang laki-laki yang bekerja sebagai tukang sol sepatu ini.

Dikisahkan, seorang ulama ahli fikih dan hadits bernama Abdurrahman Abdullah ibn Al Mubarak setelah selesai menjalankan prosesi ibadah haji kemudian tertidur. Saat tidur, ia bermimpi dua malaikat turun dari langit dan saling bercakap.

Dalam percakapan kedua malaikat tersebut membahas tentang jamaah haji yang tidak diterima ibadahnya. Padahal ketika itu jumlah jamaahnya mencapai 600 ribu orang.

Abdurrahman Abdullah ibn Al Mubarak pun menangis. Ia bergetar karena khawatir jika ibadah hajinya itu sia-sia dan tidak diterima Allah Subhanahu wa ta’ala seperti apa yang diperbincangkan kedua malaikat tersebut.

Ulama itu berpikir semua orang telah datang dari belahan bumi yang jauh hanya untuk beribadah haji dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanannya. Mereka telah berkelana, namun sayangnya semua usahanya menjadi sia-sia.

Sambil gemetar, ia melanjutkan percakapan kedua malaikat itu yang masih membahas tentang ibadah haji. Tiba-tiba salah satu malaikat itu mengatakan bahwa ada seseorang yang mendapatkan pahala haji meski tidak jadi berangkat.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, akan tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh ibadah haji mereka diterima oleh Allah,” kata salah satu malaikat itu.

“Kenapa bisa begitu?”

“Itu kehendak Allah.”

“Siapa orang tersebut?”

“Ali bin Al Muwaffaq, tukang sol sepatu di Kota Dimasyq (Damaskus).”

Mendengar pernyataan malaikat itu Abdullah ibn Al Mubarak pun terbangun dari tidurnya. Ketika sepulangnya berhaji, ia langsung menuju Damaskus, Syiria, mencari keberadaan tukang sol sepetu yang mendapatkan nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala berupa pahala haji.

Setiap sudut Kota Damaskus ia telusuri, mencari tukang sol sepatu yang disebutkan kedua malaikat di dalam mimpinya waktu itu.

Kemudian ia mendapatkan kabar bahwa Ali bin Al Muwaffaq berada di tepi kota. Abdullah Al Mubarak bergegas ke lokasi tersebut.

Pencariannya berhasil. Ia menemui seorang pria dengan pakaian lusuh.

“Benarkah Anda Ali bin Al Muwaffaq?” Tanya Abdullah Al Mubarak.

“Betul tuan. Ada yang bisa saya bantu?” kata Ali.

Kemudian Abdullah Al Mubarak pun bertanya, mengapa Ali bisa sampai mendapatkan pahala haji mabrur. Mendengar itu Ali kebingungan, karena ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya mendapatkan pahala tersebut.

Abdullah Al Mubarak meminta Ali menceritakan apa saja yang ia lakukan di dalam kehidupannya selama ini. Ali pun akhirnya menceritakannya.

“Sejak puluhan tahun lalu, setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan, hingga akhirnya pada tahun ini, saya memiliki 350 dirham, cukup untuk saya berhaji, saya sudah siap berhaji,” kata Ali.

Tapi sayangnya Ali gagal berangkat karena istrinya saat itu sedang mengidam yang sangat berat. Saat itu istrinya menginginkan masakan yang aromanya ia cium. Kemudian Ali mencarinya dan menemukan asal sumber aroma masakan tersebut dari dalam gubuk reyot.

“Di situ ada seorang janda dan enam anaknya. Saya mengatakan kepadanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya,” ujar Ali bin Al Muwaffaq.

Tapi janda itu tidak ingin memberikan makanan yang dimasaknya, dengan alasan makan itu halal baginya dan haram untuk orang lain. Ternyata daging yang sedang ia olah itu bangkai kedelai, mereka tidak bisa makan dan terpaksa mengambil bangkai tersebut.

Merasa iba, Ali akhirnya kembali ke rumahnya untuk memasak makanan sehat dan halal, kemudian kembali lagi ke gubuk itu dan sekaligus memberikan uang tabungan hajinya.

“Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakanlah untuk usaha agar engkau tidak kelaparan lagi.”

Mendengar cerita tersebut, Abdullah Al Mubarak tak bisa menahan air matanya. Terungkap sudah rahasia mimpinya itu, ternyata inilah amalan yang dilakukan oleh Ali bin Al Muwaffaq sehingga Allah menerima amalan hajinya, meski ia tidak berkesempatan menunaikan ibadah haji.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ جَابِرٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌُ إِلاَّ الْجَنَّةَ قِيْلَ وَمَا بِرُّهُ ؟ قَالَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيْبُ الْكَلاَمِ (رواه أحمد والطبرانى وغيره)

Artinya: “Dari Jabir Radiallahuanhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga.’ Rasul ditanya, ‘Apa tanda-tanda mabrurnya?’ Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, ‘Senang membantu memberikan makanan dan santun dalam berbicara’.” (HR Ahmad, Al Tabranl)

Berniat ibadah haji dengan sungguh-sungguh, menyiapkan diri dengan keteguhan hati dan totalitas kepasrahan, ikhtiar serta kesadaran diri untuk meraih keutamaan adalah proses yang diganjar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, walaupun mungkin tidak kesampaian dalam melaksanakan ibadah haji tersebut dikarenakan beberapa faktor atau kendala, sehingga belum terlaksana atau tertunda.

 


https://muslim.okezone.com/read/2020/06/04/330/2224311/kisah-tukang-sol-sepatu-dapat-pahala-haji-mabrur-walau-gagal-berangkat