Manajemen Qalbu, KAJIAN, Hikmah — August 3, 2019 at 13:20

Gunakan Ilmu yang Kita Miliki untuk Kepentingan Akhirat Kita

by
Gunakan Ilmu yang Kita Miliki untuk Kepentingan Akhirat Kita

Orang yang berilmu akan ditanya untuk apa ilmunya digunakan, jika digunakan untuk kebaikan maka ia akan beruntung…

Islamkafah.com – Setiap orang yang memiliki ilmu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah untuk apa ilmu itu digunakan, dan apa tujuannya manusia itu mencari ilmu.

Jika ilmu itu digunakan untuk kebaikan maka ia akan menjadi orang yang beruntung, namun jika digunakan untuk keburukan maka ia termasuk orang yang sangat merugi.

Setiap amalan tergantung pada niatnya, ketahuilah bahwa dalam menuntut ilmu, manusia terbagi atas tiga jenis:

1. Menuntut ilmu dengan tujuan akhirat

Seseorang yang menuntut ilmu guna dijadikan bekal untuk akhirat dimana ia ha­nya ingin mengharap rida Allah dan negeri akhirat. Ini termasuk kelompok yang beruntung.

2. Menuntut ilmu untuk mencari dunia

Seseorang yang menuntut ilmu guna dimanfaatkan dalam kehidupan­nya di dunia sehingga ia bisa memperoleh kemuliaan, kedudukan, dan harta.

Ia tahu dan sadar bahwa keada­annya lemah dan niatnya hina. Orang ini termasuk ke dalam kelompok yang berisiko. Jika ajalnya tiba sebelum sempat bertobat, yang dikhawatirkan adalah peng­habisan yang buruk (su’ ul-khatimah) dan keadaannya menjadi berbahaya.

Tapi jika ia sempat bertobat sebe­lum ajal tiba, lalu berilmu dan beramal serta menutupi kekurangan yang ada, maka ia termasuk orang yang beruntung pula. Sebab, orang yang bertobat dari dosa­nya seperti orang yang tak berdosa.

3. Menuntut ilmu untuk menyesatkan manusia

Seseorang yang terperdaya oleh setan. Ia pergunakan ilmunya sebagai sarana untuk memperbanyak harta, serta untuk berbang­ga dengan kedudukannya dan menyombongkan diri de­ngan besarnya jumlah pengikut.

Ilmunya menjadi tum­puan untuk meraih sasaran duniawi. Bersamaan dengan itu, ia masih mengira bahwa dirinya mempunyai posisi khusus di sisi Allah karena ciri-ciri, pakaian, dan ke­pandaian berbicaranya yang seperti ulama, padahal ia begitu tamak kepada dunia lahir dan batin.

Orang dari kelompok ketiga di atas termasuk golongan yang binasa, dungu, dan tertipu. Ia tak bisa diharap­kan bertobat karena ia tetap beranggapan dirinya ter­masuk orang baik.

Ia lalai dari firman Allah Swt. yang berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman. Mengapa ka­lian mengatakan apa-apa yang tak kalian lakukan?!” (Q.S. ash-Shaff: 2). Ia termasuk mereka yang disebutkan Rasul saw., “Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ke­timbang Dajjal.” Beliau kemudian ditanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ulama su’ (bu­ruk).”

Sebab Dajjal memang bertujuan menyesatkan, se­dangkan ulama ini, walaupun lidah dan ucapannya me­malingkan manusia dari dunia, tapi amal perbuatan dan keadaannya mengajak manusia ke sana.

Padahal, realita lebih berbekas dibandingkan ucapan. Tabiat manusia lebih terpengaruh oleh apa yang dilihat ketimbang meng­ikuti apa yang diucap.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatannya lebih banyak daripada perbaikan yang di­sebabkan oleh ucapannya. Karena, biasanya orang bo­doh mencintai dunia setelah melihat si alim cinta pada dunia.

Ilmu pengetahuan yang dimilikinya, menjadi fak­tor yang menyebabkan para hamba Allah berani ber­maksiat pada-Nya. Nafsunya yang bodoh tertipu, tapi masih memberi angan-angan dan harapan padanya.

Bahka, ia mengajaknya untuk mempersembahkan sesuatu untuk Allah dengan ilmunya. Nafsu tersebut membuat­nya beranggapan bahwa ia lebih baik dibandingkan hamba Allah yang lain. Maka dari itu, jadilah kita ter­masuk golongan yang pertama.

Waspadalah agar tidak menjadi golongan kedua karena betapa banyak orang yang menunda-nunda, ternyata ajalnya tiba sebelum ber­taubat sehingga akhirnya rugi dan kecewa.

Lebih dari itu, waspadalah! Jangan sampai kita menjadi golong­an ketiga karena kita betul-betul akan binasa, tak mungkin selamat dan bahagia.

Wallahu A’lam (Abd.N)

%d bloggers like this: