Manajemen Qalbu, KAJIAN — October 17, 2017 at 08:26

Cukuplah Kematian Menjadi Pengingat Kita pada Allah

by
Cukuplah Kematian Menjadi Pengingat Kita pada Allah

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian, Kematian seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Islamkafah.com “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian, Kematian seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

  1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga

Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Seorang muslim akan senantiasa berbuat baik dan beribadah dengan sebaik-baiknya jika sellau teringan dengan kematian, karena kematian bagi seorang muslim adalah kunci untuk berbuat baik mempersiapkan bekal di dunia yang fana ini.

  1. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa

Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Dan Allah lah yang menjadi sutradaranya, kita diatur oleh Allah agar menuruti perintahnya dan yang berperan paling baik tentu akan mendaptkan nilai lebih dimata Allah dan akn mendapatka sesuatu yang baik yaitu berupa surga dan begitu juga sebaliknya.

  1. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa

Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.

Kita lahir tidak membawa apa-apa dan matipun tidak membawa apa-apa, hanya amal yang akan kita bawa mati, baik amal shalih maupun amal yang jelek, itu akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

  1. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara

Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

  1. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga

Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Ketika dunia sudah ditinggalkan maka ladang untuk beribadah mengumpulkan pundi-pundi pahala sudah tidak bisa lagi, maka dari itu seorang muslim akan memanfaatkan denganbetul ehidupan di dunia ini untuk bekal nanti. (RN)

%d bloggers like this: