Kolom — August 5, 2016 at 16:18

Waspada Dusta Syi’ah Tentang Hari Raya Ghadir Hum

by
Waspada Dusta Syi’ah Tentang Hari Raya Ghadir Hum

Usaha pemurtadan yang dilakukan oleh kelomok syi’ah lakhnatullahu begitu beragam. Salah satunya adalah tentang hadits ghadir khum yang kemudian dijadikan mereka sebagai dalil adanya perayaan hari raya Ghadir Hum.

Ustadz Anung Al-Hamat, intelektual muda alumnus fakultas Hadits Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir menyampaikan catatan kritis atas sejumlah dalil yang menjadi argumentasi kalangan sekte sesat Syiah terkait perayaan Idul Ghadir.
Ketua Forum Studi Sekte-Sekte Islam (FS3I) itu mengirimkan sebuah file audio kepada redaksi Panjimas.com, pada Senin (13/10/2014) kemudian ditranskrip menjadi sebuah tulisan. Berikut ini tulisan selengkapnya.

Catatan Kritis Soal Dalil Perayaan Idul Ghadir

Oleh Ustadz Anung Al-Hamat. Lc, M.PD.I.

Berkaitan dengan adanya pertanyaan tentang seputar Ghadir Khum yang diyakini oleh kalangan Syiah yang merupakan kelompok yang sesat, bahwasannya dalam peristiwa Ghadir Khum itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib yang merupakan menantu dan sepupu beliau, sehingga dalam riwayat yang biasa mereka gembar-gemborkan adalah hadist yang menyebutkan

مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌّ مَوْلاَهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالاَهُ ، وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ

”Barangsiapa yang menganggap aku sebagai Maulanya, maka Ali sebagai Maulanya juga, Ya Allah, cintailah siapa saja yang menganggapnya sebagai walinya dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.”

Hadist ini termasuk juga dinukil oleh Dr Umar Hasyim di dalam bukunya “Berhaji Mengikuti Jalur para Nabi” dan kemudian hadist itu dijadikan sebagai dalil akan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Dan kalau diartikan hadist itu adalah ”Barangsiapa yang menganggap aku sebagai Maulanya, maka Ali sebagai Maulanya juga, Ya Allah, cintailah siapa saja yang menganggapnya sebagai walinya dan musuhilah yang memusuhinya.”

Terjemahan ini saya ambil dari buku yang ditulis salah seorang tokoh Syi’ah Indonesia juga yaitu Umar Hasyim dan dia mengartikan kata [اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالاَهُ ، وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ] ialah dengan kata-kata ‘ya Allah cintailah seorang yang menganggapnya sebagai walinya yaitu sebagai kasihnya, dan musuhilah yang memusuhinya.

Hadist ini kalau dalam aliran syiah suka dijadikan sebagai dasar bahwasannnya Ali yang berhak menjadi khalifah adapun para sahabat yang lain Abu Bakar, Umar dan Utsman -radhiallahu ‘anhum- ini dianggap sebagai kalangan yang melakukan sabotase yang merampas hak kekhalifahan yang seharusnya diberikan kepada sahabat Ali bin Abi Thalib.

Kemudian Umar Hasyim -tokoh Syiah yang sudah meninggal- dia mengatakan bahwasannya Ghadir Khum adalah suatu tempat beberapa kilometer dari Mekkah ke arah Madinah, yang kita garis bawahi ia mengatakan Ghadir Khum berapa kilo meter saja dari Mekkah yang kemudian Umar hasyim juga mengatakan bahwasannya di Ghadir Khum tempat berkumpulnya seluruh manusia dari berbagai jurusan dan dari berbagai penjuru baik dari Madinah, baik dari Mesir, Suriah, baik dari Irak dan negara-negara yang lainnya.

Oleh sebab itu, ada beberapa catatan dan ada beberapa kritikan yang berkaitan dengan perkataan dengan Umar Hasyim ini.

Kalangan syiah senantiasa memperingati hari Ghadir Khum ini pada setiap tanggal 18 Dzulhijjah, tentunya hari ini bertepatan dengan hari Senin (13/10/2014) atau hari Selasa (14/10/2014), mereka merayakan hari raya Idul Gadhir yang merupakan salah satu dari tiga dari hari raya besar dari sembilan hari raya kalangan Syiah.

Pada saat hari raya ini riwayat-riwayat yang mereka kemukakan diantara keutamaannya misalnya seseorang yang melakukan puasa pada hari raya Idul Gadhir, balasannya adalah akan mendapatkan ampunan dosa selama enam puluh tahun.

Jadi ketidakberesan kalangan Syiah ini justru adalah berpuasa di hari raya sedangkan dalam ajaran Islam jika bertemu dengan hari raya itu tidak berpuasa. Pahala yang dikemukakan dalam riwayatnya sehari berpuasa di hari raya Idul Gadhir itu dosa selama enam puluh tahun dihapus.

Demikian juga shalat dua raka’at sebelum zawal pahalanya menurut kalangan Syiah adalah sama dengan seratus ribu kali melaksanakan Umrah dan seratus ribu kali melakukan Haji, ini luar biasa.

Catatan berikutnya yang berkaitan dengan hadist di atas, hadist ini bukanlah merupakan dalil yang menunjukan akan kepemimpinan Ali bin Abi thalib yang berhak menjadi khalifah yang pertama.

Jadi dalil di atas bukan merupakan dalil yang tepat digunakan oleh kalangan Syiah, akan tetapi hadist itu justru bertentangan dengan potongan hadist selanjutnya -terlepas dari perbedaan para ulama menyikapi hadist tersebut- yaitu kata-kata [اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالاَهُ ، وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ] “ya Allah cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Jadi hadist itu menjelaskan bahwasannya Ali merupakan salah satu diantara wali-wali Allah Ta’ala dan yang namanya wali bukanlah hanya Ali bin Abi Thalib saja tapi para sahabat yang lainnya juga termasuk bagian dari wali Allah Ta’ala.

Kemudian catatan yang lain yang perlu kita sampaikan yang berkaitan dengan hari raya Idul Gadhir ini, setelah disampaikan keutamaan yang mereka klaim tadi, dimana mereka yakini pada tanggal 18 Dulhijjah itu merupakan hari pengangkatan Idul Ghadir ini jelas terbantahkan dengan hadist yang digunakandari kalangan Syiah itu sendiri, yang tentunya bertentangan dengan potongnan akhir hadist itu.

Kemudian, ketika Umar Hasyim dan tokoh Syiah lainnya mengatakan bahwa Ghadir Khum itu merupakan tempat yang dekat, jaraknya beberapa kilo meter dari Mekkah, lalu Ghadir Khum merupakan tempat berkumpulnya manusia dari seluruh penjuru duna, ini adalah tidak benar!

Mengapa demikian? dikarenakan yang namanya Ghadir Khum itu jaraknya adalah 250 Km dari Mekkah. Jadi kalau dari Mekkah ke Madinah ke madinah 400 Km maka Ghadir Khum itu berada 250 Km dari arah Mekkah, artinya Ghadir Khum lebih dekat kepada Madinah.

Jadi tidak benar juga jika Ghadir Khum yang berjarak 250 Km itu sebagai pusat berkumpulnya manusia. Justru tempat berkumpulnya manusia bukan di Khum tetapi di Mekkah itu sendiri.

Kemudian yang perlu ditegaskan kembali bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengumpulkan para sahabatnya di Khum itu bukan dalam rangka mengukuhkan Ali bin abi Thalib sebagai khalifah. Akan tetapi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan Ghadir Khum itu sebagai transit, sebagai tempat untuk pemberhentian , sebagai tempat untuk beristirahat sebagaimana tempat-tempat yang lainnya. Jadi tidak benar jika Ghadir Khum itu dijadikan tempat untuk pengangkatan sahabat Ali bin Abi Thalib.

Kemudian Umar Hasyim dia mengemukakan beberapa dalil diantaranya adalah dalil dari Al-Qur’an yang mana Allah Ta’ala berfirman

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Q.S. Al-Ma’idah : 67)

Ayat ini digunakan oleh Umar hasyim dan kalangan Syiah lainnya yang menyatakan bahwasannya ayat ini turun di Ghadir Khum, kemudian ayat ini memberikan perintah kepada Rasulullah untuk mengangkat Ali bin Abi thalib sebagai khalifah.

Kalangan Syiah seperti Umar Hasyim itu tidak amanah, ia melakukan pengkhianatan dan menisbatkan pendapat kepada Ibnu Jarir At-Thabari, dimana ia mengatakan bahwasannya seorang mufasir dan seorang sejarawan besar, yaitu Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir Ath-Thabari termasuk yang menyatakan bahwa ayat itu turun berkaitan dengan pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.

Setelah saya merujuk kepada tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari ternyata sama sekali tidak ditemukan ada pernyataan bahwasannya Jarir Ath-Thabari menyatakan ayat itu turun berkaitan dengan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Akan tetapi Ibnu Jarir menyatakan bahwasannya sepakat para ulama tafsir ayat itu berbicara berkaitan dengan kalangan Yahudi dan kalangan Nashara yang mana Allah Ta’ala menjelaskan keburukan dan penyimpangan kalangan Yahudi dan Nasara. Sehingga, ayat tersebut berakhir dengan kata-kata “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepda orang-orang yang kafir.”

Namun, Umar Hasyim menyatakan dengan terjemah yang diselewengkan, yaitu dari kata-kata kata “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepda orang-orang yang kafir” diartikan dengan orang-orang yang ingkar dengan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Pada dasarnya yang dinukil oleh Umar Hasyim itu sebenarnya bukan Ibnu Jarir Ath-Thabari, akan tetapi justru pernyataan At-Thusi. Dalam tafsirnya At-Tibyan, At-Thusi yang merupakan tokoh dari Syiah Ja’fariyah, Syiah Imamiyah, Syiah Itsna ‘Asyariyah ini yang menyatakan bahwasannya ayat itu adalah berkaitan dengan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Oleh sebab itu, kalangan Ahli Sunnah, kalangan Sunni, kalangan kaum muslimin tidak usah terjebak dengan provokasi yang dilakukan oleh kalangan Syiah yang kemudian menisbatkan pendapat di atas kepada ulama Sunni, namun ketika dirujuk ternyata bukanlah pendapat dari kalangan ulama Sunni akan tetapi justru datang dari ulama-ulama Syiah sendiri.

Sumber: http://www.panjimas.com/kolom/2014/10/14/catatan-kritis-soal-dalil-perayaan-sesat-idul-ghadir-agama-syiah/

Judul Asli: Catatan kritis soal dalil perayaan sesat idul ghadir agama syi’ah

Tags