Ibadah, FIQIH — March 24, 2018 at 04:22

Wasapada Exhibitionis Merebak, Muslimah Rawan Jadi Korban!

by
Wasapada Exhibitionis Merebak, Muslimah Rawan Jadi Korban!

Pelecehan seksual tidak lagi menjadi milik mereka yang berbusana terbuka. Muslimah yang menutup rapat auratnya, juga berpeluang untuk mengalami hal seperti ini. Yah…kita memang hidup dalam sebuah masyarakat yang sakit. Selagi proses ‘penyembuhan’ dilakukan dengan dakwah di berbagai bidang, harus ada langkah praktis untuk menghindari diri menjadi salah satu korban…

 

 

Di sebuah bus kota yang penuh sesak di salah satu kota besar di Indonesia, banyak perempuan yang terpaksa harus berdiri. Teman saya salah satu dari mereka, ibu hamil yang juga terpaksa berdiri karena tidak ada satu pun orang yang menawarinya untuk duduk.

Di sebelahnya ada seorang akhwat yang menutup aurat dengan rapi dan rapat juga berjuang untuk mempertahan posisi berdirinya agar tidak terjatuh. Semakin lama wajah akhwat ini menunjukkan ekspresi ketakutan, jijik dan matanya berkaca-kaca. Mulutnya terlihat komat-kamit seperti sedang melafalkan doa.

Ibu hamil ini penasaran, apa yang membuat si akhwat sedemikian tegang dan gelisah. Ketika ia menengok ke belakang, tahulah ia apa permasalahannya. Ada laki-laki yang posisi berdirinya mepet dengan si akhwat sedang menggosok-gosokkan (maaf) kemaluannya yang sengaja di keluarkan kebagian belakang akhwat tersebut. Langsung saja si akhwat ditarik menjauh dan ibu hamil ini berdiri di antara akhwat dan laki-laki tersebut. Bukan itu saja, dengan suara lantang ibu hamil ini meminta laki-laki tersebut untuk memasukkan ‘barangnya’ tersebut supaya tidak masuk angin. Hal ini sengaja dilakukannya untuk mempermalukan laki-laki tersebut yang memang pantas mendapatkannya. Selain itu, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka akan banyak pihak yang tahu karena telah mendengar kata-katanya dengan jelas. Pak kondektur pun mendengar dan segera memarahi serta mengusir laki-laki tersebut untuk turun dari busnya.

Sahabat muslimah, hal demikian sangat mungkin terjadi pada kita, saudara, teman atau siapa pun dia adanya. Pelecehan seksual tidak lagi menjadi milik mereka yang berbusana terbuka. Muslimah yang menutup rapat auratnya, juga berpeluang untuk mengalami hal seperti ini. Yah…kita memang hidup dalam sebuah masyarakat yang sakit. Selagi proses ‘penyembuhan’ dilakukan dengan dakwah di berbagai bidang, harus ada langkah praktis untuk menghindari diri menjadi salah satu korban.

Perlindungan diri, itu penting. Muslimah harus bisa melindungi paling tidak dirinya sendiri. Bila berada di tempat umum, entah taman, angkutan kota, jalan menuju kampus atau dimana pun, usahakan tidak sendirian. Ada satu atau dua teman perempuan untuk menjadi teman seperjalanan. Hal ini untuk meminimalisir kejahatan yang biasanya menyasar perempuan yang sedang sendirian.

Langkah berikutnya adalah bekali diri dengan kemampuan bela diri standar. Paling tidak ada langkah pertama untuk mempertahankan diri bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Bila misalnya ini agak susah dilakukan oleh muslimah, entah karena kesibukan atau memang karakternya yang tidak menyukai aktivitas fisik, maka jangan lupa untuk berteriak. Teriakan adalah satu langkah mendasar ketika perempuan merasa terancam. Ingat, teriakan ini hanya efektif ketika kita berada dalam keramaian. Bila lingkungan sekitar sepi, maka teriakan ini pun rasanya tidak begitu banyak berguna.

Hal utama dari semua poin di atas adalah doa. Jangan pernah melupakan kekuatan tak kasat mata yang satu ini. Dzikir yaitu mengingat Allah dimana pun dan kapan pun adalah satu wahana untuk melakukan kontak dengan Sang Mahamelindungi. Komat-kamit akhwat di atas yang mengalami pelecehan seksual di dalam bis kota bisa jadi merupakan dzikirnya untuk meminta perlindungan padaNya. Reaksi ibu hamil tersebut mungkin saja merupakan jawaban atas rapalan doa sang akhwat yangbegitu ketakutan dengan kejadian yang menimpanya.

Bayangkan, berapa banyak perempuan, sedang hamil lagi, yang berani melakukan tindakan seheroik itu. Bila bukan karena Allah yang menggerakkan hatinya, sungguh sulit membayangkan ada orang di zaman ini yang masih peduli dengan sesama. Tapi, tidak selamanya kita berharap ada orang yang akan menolong ketika kita dalam kesusahan. Meskipun lazimnya sesama muslim adalah bersaudara. Tapi sekali lagi, masyarakat kita sedang dalam kondisi sakit. Kita tak begitu bisa berharap terhadap masyarakat yang penyakitan.

Akhir kata, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bahwa di luar sana bahaya pelecehan seksual mengancam. Bila kita tidak atau belum bisa menanggulanginya, langkah kecil yang bisa kita ambil adalah dengan tidak menjadi korbannya. Wallahu alam.


Sumber : http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/06/02/30726/exhibitionist-merebak-muslimah-rawan-jadi-korban/#sthash.eQpPe069.dpuf