Keluarga Samara, MUSLIMAH — December 27, 2017 at 20:50

Wahai Istri, Sambutlah Suami Ketika Ia Telah Pulang Mencari Nafkah

by
Wahai Istri, Sambutlah Suami Ketika Ia Telah Pulang Mencari Nafkah

Istri yang menyenangkan adalah istri yang menyempatkan diri untuk melepas suami bekerja setiap pagi…

 

Wahai istri, bisakah kamu menyambut suamimu sepulang kerja dengan menyenangkan? Baik siang, sore bahkan malam hari?

Sungguh, istri yang mampu menyebarkan aroma wangi kasih sayangnya, perhatiannya dan cintanya kepada suaminya adalah gudang emas yang tak ternilai harganya.

Pekerjaan harian yang berat, pengapnya kendaraan umum, macetnya perjalanan, gesekan dengan rekan kerja di kantor, dan kerasnya perintah mandor, menjadikan seorang suami membutuhkan sentuhan kasih sayang dan cinta dari istrinya agar menjadi obat penawar yang ampuh baginya.

Sedikit sekali suami yang dikaruniai seorang istri yang menjadi obat untuk sakitnya dan menjadi mahkota kehidupannya.

Istri yang cerdas akan selalu memberikan kesempatan menghirup napas dalam-dalam bagi suaminya setelah bergelut dengan kerasnya pekerjaan di kantor.

Seorang periset ilmu antropologi menyatakan, suami tidak hanya butuh beberapa menit saja untuk beristirahat sepulang dari kerja, tetapi ia membutuhkan sembilan puluh menit penuh untuk sekadar melepas pakaian dinasnya, mengganjal perutnya dan berbaring di atas kasur untuk melepas lelahnya.

Sebagian istri lupa atau melupakan bahwa suaminya juga manusia.

Maksudnya, diri suami tersusun dari daging, tulang dan otot. Di saat sakit, dia butuh ketenangan, pada saat sedih, dia butuh kebahagiaan, dan pada saat letih, dia butuh akan istirahat.

Jika pekerjaan adalah ladang perjuangan, pergumulan, peras keringat dan banting tulang, maka hendaknya rumah tidak berwujud sebagai tempat kerja.

Sejatinya, rumah ideal adalah berwujud lain dan berbeda sama sekali dengan ruangan dan suasana di kantor.

Rumah harus menjadi tempat peristirahatan yang tenang, nyaman, teratur, penuh kasih dan cinta.

Ini semua mengandaikan seorang istri tidak memberondong suaminya dengan seribu pertanyaan, seperti:

Kenapa terlambat pulang?

Kenapa tidak mengirim SMS atau meneleponku jika jalanan macet?

Di mana saja kamu berada?

Apakah kamu mampir di rumah ibumu seperti biasanya?

Apakah kamu ke rumah saudarimu yang menyebalkan itu?

Mengapa engkau lupa sehingga tidak membelikan permintaanku?

Malam ini ulang tahun pernikahan kita, hadiah apakah yang engkau haturkan kepadaku?

Mengapa engkau lupa ini dan itu?

Kenapa engkau seolah-olah ingin selalu mengusirku dengan tindakanmu yang tidak bertanggung jawab itu?

Kapan kamu ingat permintaanku?

Sungguh, gerimis yang jatuh pada musim panas dapat menghilangkan kelembutan baju, merusak gemerlap setrikaannya dan membasahinya.

Sementara itu, berondongan pertanyaan bodoh seorang istri kepada suaminya dapat menghilangkan selera makannya dan ketenangannya.

Untuk itu, wahai para istri yang terhormat, hindarilah tindakan-tindakan bodoh dan berondongan pertanyaan dan tuduhan sepulang suamimu dari kerja.

Mungkin kamu heran dengan nasihat seperti ini.

Namun demikian, ada satu hal yang harus kamu mengerti, bahwa keadaan suamimu yang terlambat pulang akan terus berulang, jika ia terpengaruh dengan tindakanmu sesampai dia di rumah.

Suamimu juga akan menjauh dari rumah agar ia tidak marah-marah membalas semua tuduhanmu sehingga pikirannya tidak tertumpuk masalah denganmu.

Terkadang istri yang tak tahu malu itu menyatakan, bahwa motif ia melakukan itu semua karena cintanya yang besar, agar suaminya datang tepat waktu dan niatnya tulus saat melakukan itu semua.

Namun, satu hal yang menjadi pertanyaannya adalah apakah kesuksesan hidup secara umum terutama kehidupan rumah tangga dapat tercipta hanya dengan niat yang tulus?

Jawabnya, pasti tidak, karena ketulusan hati tanpa disertai dengan tindakan yang benar hasilnya berbalik seratus delapan puluh derajat.

Tensi darah naik, lambung bocor dan penyumbatan urat syaraf mudah menghinggapi orang-orang bertipikal perasa dan bergaul dengan orang yang membuatnya marah setiap hari, baik mereka di rumah, di jalan atau pun di tempat kerja.

Banyak sekali warung-warung makan yang sesak ramai dipadati oleh para suami untuk makan sarapan pagi, siang dan malam hanya untuk menjauh dari istri-istri mereka yang tidak pandai memasak, tidak pandai berbicara, tidak bisa bercengkerama dengan baik dan tersenyum saat melepas dan menyambut kedatangan mereka.

Sungguh, para suami yang baik tidak ingin dihargai secara berlebihan. Mereka hanya ingin mengetahui, bahwa kepulangannya ke rumah ditunggu-tunggu oleh istrinya.

Mereka ingin senyuman pertama yang dia lihat sebelum meninggalkan rumah adalah senyuman istri dan anak-anaknya. Hal yang sama juga ingin mereka lihat saat pulang ke rumah.

Dikutip dari buku Kuni Aniqah karya Shafa Syamandi.


Sumber : http://bersamadakwah.net/wahai-istri-sambutlah-suami-ketika-pulang-kerja/