Ibadah, Konsultasi Agama, FIQIH, Doa & Dzikir — July 26, 2018 at 09:00

Tidak Disyariatkan Shalat Gerhana, Kecuali Bagi Yang Melihatnya?

by
Tidak Disyariatkan Shalat Gerhana, Kecuali Bagi Yang Melihatnya?

Saat terjadi gerhana kita umat muslim disyariatkan untuk melakukan shalat Gerhana serta memperbanyak sedekah dan zikir, namun jika tidak melihat gerhana secara langsung kita tidak disyariatkan untuk melakukan shalat Gerhana, benarkah ?….

Islamkafah.com -Terdapat beberapa hadits shahih tentang disyariatkannya shalat gerhana, berdzikir, dan berdo’a saat kaum muslimin menyaksikan gerhana matahari maupun gerhana bulan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته ، ولكن الله يرسلهما يخوف بهما عباده ، فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا حتى ينكشف ما بك

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah, tidaklah terjadi gerhana pada keduanya karena kematian seseorang ataupun kelahirannya, namun Allah menciptakan peristiwa gerhana matahari dan bulan itu agar membuat para hamba-Nya takut. Jika kalian melihat gerhana, maka shalat dan berdo’alah kepada Allah sampai matahari kembali normal (seperti sedia kala)“.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah bersabda

فإذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى ذكر الله ودعائه واستغفاره

Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir pada Allah, berdoa, dan beristighfar

Nabi shallallahu alaihi wasallam mengaitkan perintah shalat gerhana, berdzikir, berdoa, dan beristighfar dengan rukyat (melihat) gerhana, bukan berdasarkan hisab (perhitungan penanggalan).

Sehingga bagi yang tidak melihat gerhana secara langsung tidak perlu melaksanakan amalan yang disyariatkan ketika terjadi gerhana.

Ini merupakan pendapat sebagian ahli ilmu tentang melaksanakan amalan sunnah ketika terjadi gerhana, namun ada juga yang berpendapat lain bahwa meskipun tidak melihat gerhana secara langsung tapi kita tahu bahwa sebenarnya gerhana sedang terjadi maka dianjurkan untuk melakukan amalan sunnah yang disyariatkan.

Karena kedudukan melihat gerhana secara langsung dengan ilmu hisab adalah sama meyakini bahwa gerhana sedang terjadi, sama halnya dengan waktu shalat, dalam syariat Islam disebutkan waktu shalat berdasarkan gerakan matahari, namun seiring dengan perkembangan zaman dapat diketahui pergerakan matahari itu dengan hitungan jam.

Hal ini menunjukkan kedudukan yang sama antara rukyat (melihat) dengan ilmu hisab, sekali lagi ini hanyalah perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqih, ketika terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama hendaklah kita saling menghargai pendapat yang berbeda selama itu dalam urusan fiqih yang memiliki dalil atau alasan yang jelas berdasarkan hadits ataupun ayat Al Quran.

Dalam hal ini kami mengembalikan pemahaman kepada setiap individu apakah akan mengikuti pendapat pertama atau kedua, tergantung pemahaman masing-masing individu dalam memahami dalil.

Wallahu A’lam. (Abd.N)

%d bloggers like this: