Pemurtadan, Firqah, TBC, Ghazwul Fikri, NAHIMUNKAR — October 23, 2018 at 11:39

Tidak Ada Hukuman yang Paling Baik Bagi Penghina Islam Selain Kematian

by
Tidak Ada Hukuman yang Paling Baik Bagi Penghina Islam Selain Kematian

Belakang ini banyak sekali orang yang menghina Islam, lalu apakah hukuman yang pantas bagi para penghina Islam?…

Islamkafah.com – Semakin hari tantangan bagi kaum muslimin semakin besar, hampir setiap bulan kita lihat banyak orang-orang yang menghina dan melecehkan agama Islam yang mulia ini, sungguh berat tantangan yang dihadapi kaum muslimin di zaman yang penuh dengan fitnah.

Umat Islam di zaman ini bagaikan buih yang berada di lautan, banyak namun tak memiliki kekuatan apapun, saat agama ini dihina dan dilecehkan umat ini hanya bisa mengutuk dengan hatu tanpa bisa melakukan apa-apa, inilah tingkatkan iman yang paling rendah.

Lalu apa sebenarnya hukuman bagi orang-orang yang telah melecehkan agama Islam yang mulia ini?.

Tidak ada hukuman yang paling pantas dan paling indah selain kematian bagi para pelaku yang telah menghina dan melecehkan agama Islam ini, karena hanya dengan menumpahkan darah rasa sakit kaum muslimin akan terobati sekaligus menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang berusaha untuk menghina dan melecehkannya.

Para ulama tak berbeda pendapat bahwa muslim yang melakukan penghinaan terhadap Islam, maka dia telah murtad dan layak mendapatkan hukuman mati. Rasulullah bersabda yang diriwayatkan dari Jaabir:

Dari Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Siapakah yang akan (mencari) Ka’ab bin Al-Asyraf. Sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya ”. Muhammad bin Maslamah pun segera bangkit berdiri dan berkata : “Wahai Rasulullah, apakah engkau suka jika aku membunuhnya ?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Benar”. Maka Muhammad bin Maslamah berkata : “Ijinkanlah aku membuat satu strategi (tipu muslihat)”. Beliau menjawab : “Lakukanlah !”.

Kemudian Muhammad bin Maslamah mendatangi Ka’ab bin Al-Asyraf dan berkata kepadanya : “Sesungguhnya laki-laki ini (maksudnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) meminta kepada kita shadaqah. Sungguh, ia telah menyulitkan kita. Dan aku (sekarang) mendatangimu untuk meminjam kepadamu”. Maka Ka’ab menjawab : “Aku pun juga demikian ! Demi Allah, sungguh engkau akan merasa jemu kepadanya”. Ibnu Maslamah berkata : “Sesungguhnya kamu telah mengikutinya dan kami tidak akan meninggalkannya hingga kami melihat bagaimana keadaan yang ia alami kelak. Dan sesungguhnya kami berkeinginan agar engkau sudi meminjami kami satu atau dua wasaq makanan”. Ka’ab berkata : “Ya, tapi hendaknya engkau menggadaikan sesuatu kepadaku”. Ibnu Maslamah dan kawan-kawannya bertanya : “Jaminan apa yang engkau inginkan ?”. Ka’ab menjawab : “Hendaknya engkau menggadaikan wanita-wanita kalian”. Mereka berkata : “Bagaimana kami bisa menggadaikan wanita-wanita kami kepadamu sementara engkau adalah laki-laki ‘Arab yang paling tampan”. Ka’ab berkata : (Kalau begitu), gadaikanlah anak-anak kalian”. Mereka berkata : “Bagaimana kami bisa menggadaikan anak-anak kami, lantas akan dicaci salah seorang di antara mereka dengan mengatakan : ‘ia digadaikan dengan satu wasaq atau dua wasaq makanan’ ? Yang demikian itu akan membuat kami cemar. Akan tetapi kami akan menggadaikan senjata kami”. Maka Ka’b membuat perjanjian dengan Ibnu Maslamah agar ia (Ibnu Maslamah) mendatanginya (pada hari yang ditentukan). Maka Ibnu Maslamah pun mendatanginya pada suatu malam bersama Abu Naailah – ia adalah saudara sepersusuan Ka’ab. Mereka berdua pun memanggil Ka’ab untuk datang ke tempat senjata yang digadaikan. Ka’ab pun memenuhi panggilan mereka. Istri Ka’ab bertanya kepada Ka’ab : “Mau pergi kemana malam-malam begini ?”. Ka’ab menjawab : “Ia hanyalah Muhammad bin Maslamah dan saudaraku Abu Naailah”. Istrinya berkata : “Sungguh aku mendengar suara bagaikan tetesan darah”. Ka’ab berkata : “Dia itu saudaraku Muhammad bin Maslamah dan saudara sepersusuanku Abu Naailah. Sesungguhnya seorang dermawan jika ia dipanggil di malam hari meskipun untuk ditikam, ia akan tetap memenuhinya”. Muhammad bin Maslamah masuk ke tempat yang telah ditentukan bersama dua orang laki-laki. Ia (Ibnu Maslamah) berkata kepada mereka berdua : “Jika Ka’ab datang, maka aku akan mengucapkan sya’ir kepadanya, dan menciumnya. Jika kalian melihat aku sudah menyentuh kepalanya, maka pukullah ia”. Muhammad bin Maslamah juga berkata : “Kemudin aku juga akan menyilakan kalian menciumnya pula”. Ka’ab pun datang kepada mereka dengan pakaian yang indah dan bau yang harum semerbak. Muhammad bin Maslamah berkata : “Aku belum pernah mencium bau yang lebih harum dibandingkan hari ini”. Ia menjawab : “Aku memang mempunyai istri yang paham dengan minyak wangi yang paling unggul, dan ia adalah orang Arab yang paling baik”. Muhammad bin Maslamah berkata : “Apakah engkau mengijinkan aku untuk mencium kepalamu?”. Ka’b menjawab : “Ya, silakan”. Maka ia pun mencium kepala Ka’b, yang kemudian diikuti dua orang temannya yang ikut mencium kepalanya pula. Muhammad bin Maslamah kembali berkata : “Apakah engkau mengijinkan aku untuk mencium kepalamu lagi ?”. Ka’b menjawab : “Ya”. Ketika ia memegang kepala Ka’ab, ia pun berkata kepada dua orang temannya : “Bunuhlah ia!”. Maka mereka pun membunuhnya. Setelah itu, mereka mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengkhabarkan perihal Ka’b bin Al-Asyraf” (Muttafaq ‘alaih/ HR. Al-Bukhari no. 4037. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 1801].

Itu adalah hukuman yang paling pantas bagi para penghina Islam. (Abd.N)

%d bloggers like this: