AQIDAH-AKHLAQ, Kuliah Aqidah — July 5, 2018 at 08:58

Syawwal adalah Bulan yang Baik untuk Menikah

by
Syawwal adalah Bulan yang Baik untuk Menikah

Selain puasa sunnah 6 hari di bulan syawwal terdapat keutamaan yang lain ketika bulan syawwal yaitu waktu yang baik untuk menikah, karena Rasulullah menikah dengan ‘Aisyah pada bulan syawwal…

Islamkafah.com – Selain puasa sunnah 6 hari di bulan syawwal terdapat keutamaan yang lain ketika bulan syawwal yaitu waktu yang baik untuk menikah, karena Rasulullah menikah dengan ‘Aisyah pada bulan syawwal.

Aisyah radiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ))

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

Nabi Muhammad menikah pada bulan syawwal dengan ‘Aisyah untuk mematahkan keyakinan orang Arab Jahiliyah. Ini adalah keyakinan dan aqidah Arab Jahiliyah. Ini tidak benar, karena yang menentukan beruntung atau rugi hanya Allah Ta’ala.

Bulan Syawwal dianggap bulan sial untuk menikah karena anggapan di bulan Syawwal unta betina yang mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha). Ini adalah tanda unta betina tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para walipun enggan menikahkan putri mereka.

Sesungguhnya keyakinan ini sangatlah tidak masuk akal. Yang ingin menikah adalah manusia lalu mengapa harus melihat unta betina yang mengangkat ekornya untuk menentukan baik buruk waktu pernikahan.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenikahi ‘Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua ‘ied (bulan Syawwal termasuk di antara ‘ied fitri dan ‘idul Adha), mereka khawatir akan terjadi perceraian. Keyakinan ini tidaklah benar.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 3/253).

Imam An-Nawawi rahimahullahjuga menjelaskan, “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama syafi’iyyah) telah menegaskan anjuran tersebut dan berdalil dengan hadits ini. Dan Aisyah Radiyallahu ‘anhaa ketika menceritakan hal ini bermaksud membantah apa yang diyakini masyarakat jahiliyyah dahulu dan anggapan takhayul sebagian orang awam pada masa kini yang menyatakan kemakruhan menikah, menikahkan, dan membangun rumah tangga di bulan Syawwal. Dan ini adalah batil, tidak ada dasarnya. Ini termasuk peninggalan jahiliyyah yang ber-tathayyur (menganggap sial) hal itu, dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u(menghilangkan/mengangkat).” (yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka)” (Syarh Shahih Muslim9/209).

Padahal Syawwal memiliki makna peningkatan yang artinya meningkatnya kualitas diri seorang hamba dari beriman menjadi bertaqwa, sesuai dengan tujuan bukan Ramdhan yaitu 1 bulan sebelumnya.

Jadi bulan syawwal merupakan bulan yang baik untuk menikah, dan bertentangan dengan keyakinan Jahiliyah yang mengatakan bulan syawwal merupakan bulan kesialan untuk menikah. (Abd.N)

%d bloggers like this: