Keluarga Samara, MUSLIMAH — December 27, 2017 at 21:06

Suami Ingat Masakan Ibu dan Saudarinya? Begini Solusinya

by
Suami Ingat Masakan Ibu dan Saudarinya? Begini Solusinya

Setiap perempuan memasak dengan cara yang telah ia pelajari dan terbiasa di rumah keluarganya, tetapi tidak semua yang dipelajarinya itu benar dan merupakan cara yang ideal, karena sebagian dari apa yang kita pelajari perlu ada penambahan atau pengurangan berdasarkan pengalaman…

 

Tak dapat disangkal bahwa seorang suami berhak merindukan keluarganya, begitu juga bagi seorang istri. Namun, permasalahannya adalah sampai di manakah kerinduan dan pengaruhnya pada tingkat pemikiran dan perlakuan sehari-hari?

Sungguh, gambaran ideal sosok wanita yang senantiasa ada dalam otak laki-laki adalah ibu dan saudarinya.

Ia akan selalu membandingkan apa yang dilakukan oleh istrinya dengan apa yang telah dilakukan oleh ibu dan saudarinya sebelum berkeluarga.

Setiap perempuan memasak dengan cara yang telah ia pelajari dan terbiasa di rumah keluarganya, tetapi tidak semua yang dipelajarinya itu benar dan merupakan cara yang ideal, karena sebagian dari apa yang kita pelajari perlu ada penambahan atau pengurangan berdasarkan pengalaman.

Bukankah begitu?

Hal ini sama dengan makanan yang perlu sedikit lagi garam dan cabai, atau makanan yang asin yang butuh dikurangi garam dan cabainya.

Tidak pernah ada dua rumah kembar yang tingkat kesamaannya seratus persen.

Maksudnya, harus ada perbedaan antara cara ibu yang disenangi suami dan cara istri yang ia pelajari di rumah keluarganya, atau baru pertama kali mencobanya di rumah suaminya dengan panduan buku menu masakan.

Suami berhak memprotes istri yang rasa masakannya kurang mengundang selera atau makanan itu rusak karena tidak dimasukkan ke dalam kulkas, sehingga makanan itu basi karena tingkat suhu panas yang naik dan serangan bakteri.

Suami juga berhak menyuruh istrinya untuk kursus mendalami seni membuat makanan dan manisan. Tetapi ia tidak berhak menyalahkan istrinya terus menerus dan membanding-bandingkannya di depan umum.

Jika seperti itu, bagaimanakah seorang istri yang tidak pandai memasak ingin membahagiakan suaminya untuk menghindari percekcokan?

Untuk menjawab pertanyaan ini ternyata ada dua model istri.

Pertama, istri yang tidak cerdas akan menjelek-jelekkan suaminya sebagai anak mama dan tidak patut menikah, karena di dalam tempurung otaknya yang ada hanyalah ibunya, ibunya dan ibunya.

Kedua, istri yang cerdas akan berkata,

“Aku akan pergi ke rumah mertua agar aku mengetahui bagaimana mereka kreatif membuat makanan dan jajanan yang khas.”

Istri yang cerdas akan selalu tersenyum dan tidak perlu malu kepada ibu mertuanya, saudari iparnya dan setiap wanita yang dikagumi suaminya.

Ia menulis semua resep, lalu mencobanya di rumah dan ia tidak segan bertanya, sehingga ia mahir melakukannya.

Memasak adalah ilmu dan seni, bukan kebetulan atau sekali tarik nafas langsung jadi.

Memasak adalah ukuran-ukuran terukur yang diletakkan pada saat yang tepat, butuh kesabaran penuh dari seorang koki dan perhatian tanpa bosan, sehingga menjadi hidangan yang sempurna.

Di lapangan, banyak kita temui karyawati yang dizalimi keluarganya karena tidak diajari seni memasak sebelum mereka menikah.

Alasan keluarga adalah kewajiban anak perempuan saat masih sekolah adalah menuntut ilmu saja. Sementara pada hari libur ia harus menyiapkan pelajaran esok dan beristirahat.

Bahkan, mayoritas sekolah yang ada tidak mengajarkan sama sekali seni mengatur rumah, sebagaimana yang pernah diajarkan di beberapa negara pada tahun empat puluhan.

Seorang istri yang melihat suaminya yang terpesona dengan tindakan saudarinya terhadap suaminya, cara mendidik anak-anaknya dan cara memasaknya wajib tidak menampakkan kemarahannya di depan suaminya dan berkata kepadanya,

“Semestinya kamu menikahi saudarimu, tidak menikahiku.”

Istri yang tidak cerdas akan mengucapkan itu.

Sementara itu, istri yang bijaksana akan berkata,

“Sungguh saudarimu itu adalah sosok wanita yang cantik dan istri idaman. Sungguh beruntung laki-laki yang memilikinya.

Apakah mungkin mereka bersedia mengunjungi kita di rumah pada libur mingguan atau libur panjang sekolah anak-anak nanti?”

Sungguh, pujian dan rasa bangga istri terhadap keluarga suami akan menghilangkan karat di hati suami dan menyenangkannya, sehingga ia tidak segan untuk bangga terhadap keluarga istri.

Wahai istri yang terhormat

Tunjukkan rasa banggamu terhadap keluarga suamimu. Sambut mereka dengan hangat saat berkunjung ke rumahmu.

Janganlah sekali-kali menghiasi wajah anggunmu dengan kemasaman dan kebosanan, karena perlakuan yang sama bisa jadi kamu dapatkan dari orang lain.

Semoga bermanfaat. Disarikan dari buku Kuni Aniqah karya Shafa Syamandi.


Sumber : http://bersamadakwah.net/suami-ingat-masakan-ibu-dan-saudarinya-ini-trik-mengatasinya/