AQIDAH-AKHLAQ, Kuliah Aqidah, Kuliah Akhlaq — July 13, 2018 at 10:04

Sikap Seorang Muslim Terhadap Orang Kafir yang Seharusnya

by
Sikap Seorang Muslim Terhadap Orang Kafir yang Seharusnya

Orang Kafir adalah musuh bagi kita kaum muslimin dan juga musuh bagi Allah Subhaanahu wa Ta’aala, oleh karena itu kita janganlah menjadi lemah dhadapan mereka…

 

Islamkafah.com – Islam mengajarkan bagamana seorang muslim bergaul baik terhadap sesama muslim maupun terhadap orang kafir, semuanya sudah diatur dalam ajaran islam dan kita hanya perlu mengamalkannya saja, lalu baigaimana sikap kita terhadap orang kafir semestinya?.

 

  1. PENGERTIAN KAFIR

Pengertian kafir yang paling umum dan sering dipakai dalam buku-buku akidah ialah menolak kebenaran dari Allah swt. yang disampaikan oleh Rasul-Nya atau secara singkat kafir adalah kebalikan dari iman. (Ensiklopedi Islam 2 : 343)

Pihak Kristen juga menggunakan istilah kafir dengan pengertian : 1. Orang yang bukan Yahudi, 2. Orang asing, 3. Orang yang tidak menyembah Allah yang sejati. (WN. Mc Elrath dan Billy Mathias, “Ensiklopedi Alkitab Praktis” : 61).

Didalam “Ensiklopedi Islam” 2 : 343-345 dan “Ensiklopedi Hukum Islam” 3 : 857-860 dijelaskan 12 jenis kafir, tetapi itu semua bisa kita ringkas menjadi 2 bagian saja, yaitu kafir asli dan kafir murtad.

  1. Kafir asli. Orang kafir yang belum pernah menjadi muslim.
  2. Kafir murtad. Orang kafir yang sebelumnya muslim, kemudian keluar dari Islam. Diantara penyebab murtad adalah :
  3. Memberikan pengakuan secara sadar dan bebas, tanpa paksaan bahwa keluar dari Islam.
  4. Meyakini sesuatu keyakinan (agama) yang bertentangan dengan ajaran dasar akidah dan syari’at Islam. Syeikh Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Malibary dalam kitab “Fathul-Mu’in” nya memberikan contoh keyakinan yang bertentangan dengan ajaran dasar akidah dan syari’at Islam adalah menentang hukum yang disepakati benarnya serta diketahui dari dalil agama dengan jelas, misalnya kewajiban shalat 5 waktu, penghalalan jual beli dan nikah, pengharaman minum khamr, liwath, zina dan pungli. (Lihat,Terj. Fathul-Mu’in 3 : 280).

Tetapi kemudian kita dengar dan lihat seorang tokoh dari suatu kelompok dengan pongahnya mengatakan : “Tidak ada sepotong ayatpun yang mengharamkan perkawinan sesama jenis”. Padahal dengan berkata begitu dia telah menjadi murtad.

Didalam “Ensiklopedi Ijmak”, terjemahan KHA. Sahal Machfudz dan HA. Mustofa Bisri, yang diberi kata pengantar oleh Gusdur disebutkan “Ahlul Ilmi sepakat, perbuatan tersebut (liwath/sodomy, pen) haram, dan termasuk dosa besar.

Kalau ahlul ilmi sepakat, berarti telah terjadi ijmak (Consensus of Opinion) terhadap hukum tersebut. Sedangkan menyelisihi ijma’ adalah kufur. (Lihat, “Ensiklopedi Ijmak” : 343-344, 353-353).

Nash-nash Al-Qur’an yang mengharamkan liwath/sodomy bisa dibaca dengan jelas didalam QS. 7:80-84 ; 11:77-82 ; 15:67-74 ; 51:32-34.

Timbulnya kemurtadan seperti itu adalah akibat tidak memahami ushul fiqh (dasar-dasar pembinaan hukum Islam) tetapi berlagak pakar hukum Islam. Didalam ushul fiqh dikenal istilah amr, nahiy dan ibahah, yang dalam hukum Romawi sebanding dengan obligere, prohibere dan permitere.

Diantara ketentuan “nahiy” adalah : اَلْأَصْلُ فِي النَّهْيِ لِلتَّحْرِيْمِ

Pada dasarnya larangan menunjukkan haram (Lihat, Abdul Qadir Hassan, “Ushul Fiqh” : 181; Prof. Dr. Mukhtar Yahya & Prof. Drs.  Fatchurrahman, “Dasar-dasar Pembinaan Hukum Islam” : 210 ; Prof. Dr. H. Amir Syariefuddin, “Ushul-Fiqh” 2 : 148).

Diantara uslub (gaya) nahyi dalam Al-Qur’an adalah menyatakan dosa, ancaman siksa atau siksa bagi pelanggar larangan haram itu, contoh :

١- وَمَن يَكۡسِبۡ خَطِيٓ‍َٔةً أَوۡ إِثۡمٗا ثُمَّ يَرۡمِ بِهِۦ بَرِيٓ‍ٔٗا فَقَدِ ٱحۡتَمَلَ بُهۡتَٰنٗا وَإِثۡمٗا مُّبِينٗا ١١٢

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata”. (QS. 4 : 112)

٢- وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ٣٤

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih” (QS. 9 : 34)

٣- وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ٨٤

“Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu” (QS. 7 : 84)

٤- فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا جَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ مَّنضُودٖ ٨٢

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi” (QS. 11 : 82)

٥-  فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ٧٣ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ٧٤

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras” (QS. 15 : 73-74)

٦- قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ٣٢  لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ ٣٣ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ ٣٤

“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth). agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah. yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas” (QS. 51 : 32-34)

Hal-hal seperti inilah yang tidak dipahami oleh orang-orang yang sok tahu tentang hukum islam, lalu mereka mengikuti cara berpikir pakar-pakar Yahudi dan Kristen Liberal dalam menyikapi kitab suci mereka.

Pada tanggal 9 April 1976 TV Ikon di Nederland menayangkan debat sengit antara dua pakar theologi kristen tentang pandangan mereka yang bertentangan terhadap kitab Bible, kitab suci mereka. Perdebatan itu dibukukan dengan judul “Een Bijbel Twee Gedachten” (Satu Bible Dua Pemahaman). Bagian yang diperdebatkan adalah Kitab Kejadian pasal 19, yang menceritakan peristiwa zaman Nabi Luth tentang Sodom & Gomora. Prof. Dr. Graafland menyatakan bahwa secara keseluruhan kitab tersebut adalah firman Allah, sehingga disimpulkannya bahwa sodomy itu bertentangan dengan aturan Allah. Sedangkan Prof. Dr. Deurloo secara tajam menyatakan bahwa tidak secuilpun dari kitab Kejadian fasal 19 yang terdiri dari 38 ayat itu firman Allah. (Lihat, Prof. O.E.CH. Wuwungan, D.Th, “Pemahaman Alkitab dan Warga Gereja” : 49-51).

Oleh karena itu dia menyimpulkan bahwa perkawinan sejenis / sodomy boleh-boleh saja dan tidak ada larangan maupun adzab Allah terhadap kaum homofil, walaupun kitab Kej. 19 : 24-26 menyebutkan bahwa bangsa Sodom & Gomora diadzab oleh Allah dengan hujan belerang dan api, kotanya dijungkir balikkan dan istri Nabi Luth menjadi tiang garam.

Pendapat inilah yang diikuti oleh sebagian orang-orang munafiq yang berlagak pintar tentang Qur’an. Mereka mau menyamakan Al-Qur’an dengan Bible, padahal perbedaannya sangat jauh.

Penolakan Deurloo terhadap kitab sucinya sendiri itu sebenarnya sangat wajar, sebab 9 ayat dalam fasal itu, yaitu dari ayat 30 sampai 38 menceritakan bahwa Nabi Luth minum anggur sampai mabuk dua kali dan berzina dengan 2 orang putri kandungnya sampai punya anak yang dinamai Moab dan  Ben Ami.

Berbeda dengan Bible, Al-Qur’an mengajarkan bahwa para rasul/nabi itu ma’shum (terpelihara dari perbuatan dosa). (QS. 3:161 ; 6:89-90 ; 21:90).

  1. SIKAP TERHADAP ORANG KAFIR

KERAS DALAM MEMEGANG PRINSIP. Dalilnya :

١- أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ

“bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir” (QS. 5 : 54)

٢- مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. 48 : 29)

Diantara contoh bersikap keras dalam memegang prinsip itu ialah:

  1. Jangan mengikuti keinginan mereka.

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan pembela bagimu”. (QS. 2 : 120)

  1. Jangan menjadikan mereka sebagai bithanah (teman kepercayaan).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ بِطَانَةٗ مِّن دُونِكُمۡ لَا يَأۡلُونَكُمۡ خَبَالٗا وَدُّواْ مَا عَنِتُّمۡ قَدۡ بَدَتِ ٱلۡبَغۡضَآءُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَمَا تُخۡفِي صُدُورُهُمۡ أَكۡبَرُۚ قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡقِلُونَ ١١٨

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”. (QS. 3 : 118).

  1. Jangan berkasih sayang dengan mereka

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. 58 : 22).

  1. Jangan memberi salam kepada mereka.

١- وَٱلسَّلَٰمُ عَلَىٰ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلۡهُدَىٰٓ ٤٧

“Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk”. (QS. 20 : 47)

٢- لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ، فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ (رواه مسلم ؛ صحيح مسلم بشرح النووى ٤ : ١٧٠٧)

Kitab Sucinya orang Kristen pun menyebutkan tentang salam sebagai berikut:

“Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat”. (II Yoh. 1 : 10-11)

  1. Jangan menjadikan mereka pemimpin.

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. 5 : 51)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ دِينَكُمۡ هُزُوٗا وَلَعِبٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَٱلۡكُفَّارَ أَوۡلِيَآءَۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٥٧

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. (QS. 5 : 57)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ١٤٤

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)” (QS. 4 : 144)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُوٓاْ ءَابَآءَكُمۡ وَإِخۡوَٰنَكُمۡ أَوۡلِيَآءَ إِنِ ٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡكُفۡرَ عَلَى ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٢٣

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. 9 : 23)

Mengapa mereka tidak boleh menjadi pemimpin ?

  1. Mereka sejahat-jahat makhluq.

إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ٥٥

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling jahat di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman”. (QS. 8 : 55)

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ٧

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. (QS. 98 : 6-7)

  1. Mereka orang-orang zhalim.

وَٱلۡكَٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٢٥٤

“Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim”. (QS. 2 : 254)

  1. Mereka dikutuk oleh Allah.

فَلَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٨٩

“Maka kutukan Allah-lah atas orang-orang yang kafir itu”. (QS. 2 : 89)

  1. Mereka musuh Allah.

فَإِنَّ ٱللَّهَ عَدُوّٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ ٩٨

“maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”. (QS. 2 : 98)

  1. Pemimpin orang mu’min adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمۡ رَٰكِعُونَ ٥٥

“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”. (QS. 5 : 55)

  • PENUTUP

بَلۡ هُوَ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ فِي صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِ‍َٔايَٰتِنَآ إِلَّا ٱلظَّٰلِمُونَ

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”. (QS. 29 : 49)

بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ١١

“Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata”. (QS. 31 : 11)

وَٱلظَّٰلِمُونَ مَا لَهُم مِّن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ٨

“Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang pembela”. (QS. 42 : 8)

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١٤٧

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. (QS. 2 : 147)

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ٦٠

“Kebenaran itu adalah yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu”. (QS. 3 : 60)

فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ١١٢

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. 11 : 112)

Wallahu A’lam.. (Abd.N)

%d bloggers like this: