Jeritan Hati, MUSLIMAH — May 26, 2017 at 06:53

Sepenggal Pengalaman di Balik Oprasi Caesar Seorang Ibu

by
new born laying on his Mothers chest in hospital

Haruskah keputusan untuk operasi caesar diberikan dengan begitu mudah, tidakkah pasien dengan keluarganya menuggu dahulu dan mencoba cara lain dan mengusahakan melahirkan normal?! Karena bila sudah dioperasi caesar, maka dampak akan terasa bagi para wanita muslimah, seperti tidak bisa memiliki anak banyak.

“Sudah lahir anakmu, Sul?” SMS Ibu Ria pada supirnya yang sudah 2 hari minta izin tidak masuk karena istri pertamanya akan melahirkan anak pertama. Semua serba pertama, dan tentu saja Samsul, supir keluarga Ibu Ria yang hanya bergaji 1,5 juta saja sebulan menjadi gelisah tidak karuan, maklum peristiwa pertama yang menegangkan baginya.

Dan ketegangan terus berlanjut, sampai akhirnya, Samsul mendatangi rumah Ibu Ria, majikannya. Dengan wajah pucat, nampak kusut dan lecek, Samsul memohon bantuan Ibu Ria untuk meminjamkan uang sebesar 8 juta rupiah, agar operasi caesar anaknya tidak ada masalah, dan operasi harus dilakukan segera, karena sudah 8 jam, anaknya belum juga keluar, sedangkan air ketuban sudah pecah sejak 8 jam yang lalu. Perkiraan dokter, bila dalam 2 jam tidak lahir juga, maka Samsul harus menandatangani izin operasi caesar, kalau tidak maka anaknya tidak dijamin bisa hidup sehat begitu keluar. Karena bila air ketuban sudah habis, siapa yang berani menanggung resiko keselamatan anaknya, apalagi anak pertama…

“Duh..beratnya hidup ini..,” pikir Samsul.

Dengan biaya 8 juta yang harus dicari dalam waktu 2 jam saja, maka pikiran Samsul langsung membawa dirinya dan sepatunya melangkah ke rumah Ibu Ria. Tentu saja Ibu Ria juga tidak semudah itu meminjamkan. Tidak mudah bagi Ibu Ria menyediakan uang sejumlah itu untuk dipinjamkan, namun, melihat wajah supirnya yang sudah bekerja beberapa tahun lamanya membuat Ibu Ria akhirnya mengeluarkan gumpalan uang kertas sejumlah 3 juta.

Lalu, dengan setengah berlari, Samsul menjumpai suster bagian administrasi dan berjanji akan melunasi sisanya, setelah operasi caesar selesai, yang penting baginya, anaknya selamat dan tidak keracunan air ketuban, begitu pikirnya, seperti keterangan dokter yang diterimanya mentah-mentah dari suster. Padahal air ketuban itu apa dan gunanya apa, Samsul tetap tidak tahu.

“Yang penting, istriku dioperasi caesar dan anakku selamat,” hanya ada dua kalimat yang mengisi benak Samsul pada saat itu. Tanpa mengetahui bagaimana akan terbelahnya perut sang istri dan si anak dikeluarkan dari perut yang terbuka dan berongga dan kemudian perut istrinya yang lembut akan dijahit kembali dan dirapatkan kembali, dan untuk urusan jahit-menjahit perut itu, diperlukan minimal Rp 8 juta, dan bagi seorang supir seperti Samsul dengan gaji sebulan hanya Rp 1,5 juta, sungguh suatu beban yang sangat mencekik leher.

Aku sendiri teringat kisahku ketika melahirkan anak pertamaku, dan sama seperti istrinya Samsul, supir Ibu Ria. Air ketuban pecah ketika sholat isya baru 2 rakaat, dan terus merembes sepanjang malam, dan dengan santainya, Midwife, panggilan untuk seorang bidan yang menerapkan sistem natural, membantuku melahirkan tanpa bantuan obat-obatan penahan sakit, tanpa bantuan operasi caesar, dan lahir dengan normal dan natural. Karena prinsipnya, setiap bayi akan lahir dengan normal lewat tempatnya, sebagaimana bayi kucing, kelinci dan binatang mamalia lainnya. Dan itu sudah fitrah dari sejak zaman Nabi Adam sampai zaman Facebook melanda manusia.

Aku menghitung dalam hati, Subhanalloh, sejak air ketubanku pecah semalam, sampai akhirnya anakku lahir normal pada jam 7 malam keesokan harinya, sekitar 23 jam sudah, hampir 3 kali waktu dari deadline yang dokter berikan pada Samsul, supir Ibu Ria, untuk menyegerakan operasi caesar pada istri Samsul yang tergolek lemah tak berdaya.

Haruskah keputusan untuk operasi caesar diberikan dengan begitu mudah, tidakkah pasien dengan keluarganya menuggu dahulu dan mencoba cara lain dan mengusahakan melahirkan normal?! Karena bila sudah dioperasi caesar, maka dampak akan terasa bagi para wanita muslimah, seperti tidak bisa memiliki anak banyak.

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” [QS. ar-Ra’d (13) : 8]

Bayangkan bila perut harus dibelah berkali-kali, berapa banyak sayatan harus dilakukan pada perut wanita, ketika sayatan itu sudah tidak punya tempat lagi, maka bayi akan dikeluarkan lewat mana lagi?

Tentu keterbatasan wanita muslimah dalam memiliki anak menjadi sangat terbatas. Padahal Rasululloh menganjurkan umat memiliki anak yang banyak, kecuali bila sang wanita memiliki penyakit yang tidak boleh memiliki anak dan suaminya belum mampu menikah lagi. Maka, operasi caesar, kalau bisa, menjadi pilihan yang sangat amat terakhir dan tidak dilakukan dengan tergesa-gesa, apalagi dengan sengaja, dengan alasan untuk menjaga hubungan suami istri.

“Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.” [QS. ar-Ra’d (13) : 9]

Saran saya yang terakhir dalam artikel ini: diperlukan pendamping yang lebih dewasa dan beriman bagi seorang suami yang baru melalui masa kelahiran istri dengan anak pertama, agar bisa dibantu membuat keputusan dengan lebih baik, karena biasanya sang suami, bila baru pertama menghadapi kelahiran anak pertama, biasanya agak panik dan belum bisa berfikir dengan jernih.


sumber: https://www.eramuslim.com/akhwat/wanita-bicara/di-balik-operasi-caesar.htm#.WSdtYtcppj0