Karomah Syuhada, MIRACLE — May 23, 2017 at 02:20

Salman Al Farisi: Syuhada Bosnia DAlam Oprasi Miracle

by
Salman Al Farisi: Syuhada Bosnia DAlam Oprasi Miracle

“Tidak salah lagi, ini adalah aroma wangi yang tidak dapat disamai parfum apapun di dunia ini..”
Salman Al-Farsi suka berlatih. Ia suka berlatih di jalan Allah, agar ia menjadi mujahid yang kuat dan mengakibatkan kerusakan sebesar mungkin pada musuh-musuh Allah. Ia selalu mendorong dirinya berlatih dengan niat untuk menghancurkan musuh-musuh Allah.

 

Salman Al-Farsi, dari Tunisia. Syahid dalam operasi Miracle di utara Bosnia pada
tanggal 21 Juli 1995.

Kisah dari orang pertama
“Tidak salah lagi, ini adalah aroma wangi yang tidak dapat disamai parfum apapun di dunia ini..”
Salman Al-Farsi suka berlatih. Ia suka berlatih di jalan Allah, agar ia menjadi mujahid yang kuat dan mengakibatkan kerusakan sebesar mungkin pada musuh-musuh Allah. Ia selalu mendorong dirinya berlatih dengan niat untuk menghancurkan musuh-musuh Allah.

Salman seorang yang bertubuh besar. Ia tampak menarik perhatian dengan sebuah pedang besar, sepanjang lengan, yang diikatkan pada bahunya. Ia biasa mengenakan kain hitam sebagai ikat kepalanya.

Bila ia berbicara, ia hanya berbicara tentang syahadah (mati syahid) dan jannah (surga). Kedua hal ini yang selalu dibicarakannya, tidak ada yang menarik perhatiannya selain mati syahid dan surga.
Seorang mujahidin bercerita,

“…Dalam operasi kedua saya mengenali rompi yang dipakainya, karena hanya dia yang mengenakan rompi yang dlengkapi pedang. Ia telah syahid, namun para mujahidin tidak berhasil menemukan tubuhnya dan hanya menemukan rompi yang dipakainya. Saya bersama empat mujahidin lainnya mengambil rompi itu dan mencium sebuah aroma yang wangi. Aroma itu berasal dari darahnya. Kami berlima saling melihat satu sama lain karena terkejut dengan aroma wangi itu.
Sebelumnya kami mendengar cerita-cerita tentang aroma wangi itu, begitu pula keajaiban- keajaban lainnya yang terjadi, dan kami tidak pernah meragukannya, namun kami tidak pernah menyangka akan menemui hal ini. Kami mencium wangi itu, begitu pula dua orang tentara Bosnia yang bersama kami.

Tidak salah lagi, ini adalah aroma wangi yang tidak dapat disamai parfum apapun di dunia ini.. Aroma wangi itu begitu indah dan membuat kami merasa tenang dan nyaman. Insya Allah, ini adalah tanda bahwa Salman telah syahid, juga tanda bagi para mujahidin yang mencium aroma ini, bahwa jalan ini (jihad –penerjemah) adalah jalan yang benar dan agar tetap bersabar di jalan ini.”

Sayyad al Filistini, syahid pada 12 Desember 1995 dalam usia 18 tahun, dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-19.
Sayyad berasal dari sebuah keluarga asal Palestinia yang bermukim di Inggris. Ia lahir di London selatan. Saat ia kecil, keluarganya beremigrasi ke Saudi Arabia. Di sanalah ia menghabiskan masa kecilnya. Ketika menginjak remaja ia kembali ke Inggris. Sayyad seorang remaja yang ceria, ia sering bercanda dan tertawa. Saat berumur enam belas tahun, untuk pertama kalinya ia mendengar mengenai konflik Bosnia dari sebuah khutbah yang diberikan seorang pemuda yang pernah terlibat jihad di Bosnia. Saat itu telah timbul keinginannya untuk berangkat ke Bosnia.

Kemudian ia memasuki perguruan tinggi. Di sana ia terpilih menjadi amir organisasi mahasiswa islam. Dengan semakin banyak pengetahuan Islamnya, keinginannya untuk berjihad di Bosnia hidup kembali. Ia mulai bekerja dan memberikan penghasilannya pada ibunya untuk menopang keluarganya. Sisa penghasilannya dikumpulkan untuk persiapan berjihad. Masya Allah, lihatlah kesabarannya. Ia menolak sumbangan orang lain, karena ingin berangkat jihad dengan hasil keringatnya sendiri.
Akhirnya Sayyad memberitahukan keinginannya untuk berjihad ke Bosnia, dan ibunya
benar-benar mendukung, ia ingin anaknya berangkat.
Setelah persiapan berbulan-bulan, ia telah benar-benar siap. Dua orang sahabat muslimnya mengantar Sayyad ke stasiun Victoria Coach. Mereka melihat Sayyad tampak sedih, tidak seperti biasanya, dan berupaya menggali penyebabnya. Akhirnya Sayyad mengutarakan bahwa ia merasa sedih berpisah dengan ibunya.

Akhirnya ia tiba di Bosnia, dan memasuki kamp pelatihan. Ia disukai baik oleh para mujahidin asing dan bosnia, karena keramahan dan keceriaannya. Ia dapat berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris, dan cepat akrab dengan mujahidin bangsa Bosnia.

Setelah pelatihannya selesai, ia pergi ke base camp. Sayyad melakukan tugas jaga di pegunungan, juga ikut dalam beberapa operasi. Ia selalu berbicara tentang syahadah… ia berbicara begitu sering tentang syahadah. Saat rencana penyerangan didiskusikan, wajahnya tampak bercahaya, ia selalu memberikan saran dan menyebut-nyebut syahadah.
Akhirnya musim panas 1995 berlalu, beberapa temannya dari Inggris pulang ke negaranya, namun Sayyad tetap berada di Bosnia dan datanglah musim dingin. Di tengah dinginnya musim salju Bosnia, sifat-sifat Sayyad mulai berubah. Ia mulai rajin shalat malam dan selalu membaca al-Qur’an. Suatu hari ketika ia duduk bersama teman-teman yang sedang bercanda dan tertawa, air matanya mengalir dan dengan marah ia menegur mereka. Saat ini orang-orang kafirlah bisa tertawa-tawa, karena mereka yang berkuasa, sedangkan kaum muslimin saat ini tidak berkuasa, namun mereka juga tertawa-tawa, begitu ujarnya. Sayyad juga mulai membaca buku mengenai sunnah Rasulullah SAW, dan segera mempraktekkan apa yang dipelajarinya begitu ada kesempatan.

Suatu hari pada bulan Desember, ia menelpon ibunya dan memintanya mengirimkan uang, karena Sayyad berniat untuk pulang selama beberapa waktu. Namun pada hari minggu 10 Desember 1995, Sayyad menelpon kembali dan mengatakan agar ibunya tidak mengirimkan uang padanya, karena ia membatalkan niatnya. Pada hari selasa siang, tanggal 12 Desember 1995 itu, saat ia berada di dalam basecamp, sebuah mobil van yang berisi bahan peledak meledak, dan Sayyad berada di sebelahnya. Tubuhnya terlontar ke udara dan ia syahid seketika. Selain Sayyad terdapat beberapa orang lainnya di sebelah van tersebut, namun ajaibnya mereka tidak terluka sedikitpun, meskipun timbul kerusakan material pada daerah yang luas.
Rupanya Allah telah memilih Sayyad sebagai syahid.
Subhanallah…pada malam sebelum syahidnya Sayyad, ibunya, Ummu Sayyad bermimpi
melihat sebuah rumah yang indah di langit. Sebuah suara berkata padanya,’Inilah rumahmu,
engkau mulai membangunnya sejak 20 tahun lalu, dan hari ini rumah ini telah selesai.’

Apa arti mimpi ini? Sayyad telah syahid dua hari sebelum ulang tahun ke-19 nya. Jika engkau menambahkan sembilan bulan saat ia berada dalam rahim, dan engkau mengeceknya berdasarkan tahun hijriah… maka tepat 20 tahun hijriah hingga syahidnya Sayyad Al Filistini.

Dan dua minggu kemudian, Ummu Sayyad mendapat sebuah mimpi, dimana seekor burung kecil dengan sayap bercorak loreng terbang mengelilinginya. Burung itu kemudian hinggap pada Ummu Sayyad dan mencium pipinya. Subhanallah…

 


sumber: http://alzihad.blogspot.co.id/p/syuhada-bosnia.html

%d bloggers like this: