Infaq Dakwah Center, NEWS — April 16, 2020 at 10:20

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu…!!

by
Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu…!!

 

Debby Silvana dan Melani Silvana menjadi yatim piatu di saat sedang butuh belaian kasih orang tua. Diasuh sang nenek, santri Rumah Qur’an Cikarang itu tinggal di rumah kayu yang reyot dan doyong terancam roboh. WC-nya jeblos, dindingnya banyak lubang, tiangnya rapuh dan atapnya bolong-bolong. Jika hujan, bocornya ke mana-mana sehingga susah untuk istirahat. Padahal di musim wabah Corona saat ini, mereka libur sekolah dan harus banyak beraktivitas, ibadah, belajar, tilawah, muraja’ah dan menghafal Al-Qur’an di rumah.

AYO BANTU renovasi rumah yatim piatu, semoga jadi tiket masuk Surga bersama Nabi sedekat dua jari.

 

CIKARANG, Infaq Dakwah Center (IDC) – “Yatim piatu, malang nasibmu.” Sungguh memprihatinkan kondisi anak-anak yatim piatu ini. Dua bersaudara Debby Silvana dan Melani Silvana harus menjadi yatim piatu, justru di saat butuh belaian kasih orang tua dan biaya pendidikan. Debby Silvana (14) saat ini duduk di bangku kelas 1 SMP, sementara Melanie Silvana (10) kelas 5 SD.

Sang ayah, Ahmad Maulana wafat akibat kecelakaan saat akan berangkat kerja pada tahun 2010. Sementara sang ibu, Poppy Silviawati wafat tujuh tahun kemudian akibat sakit keras. Sang kakek, Mad Darip Piyang (65) menyusul wafat beberapa bulan kemudian. Lengkaplah duka cita dan ujian kedua yatim piatu ini.

Kini mereka hidup diasuh nenek Dyah Sunaryah, satu-satunya kerabat yang masih hidup. Di usia menjelang uzur, sang nenek harus menjadi ibu sekaligus ayah bagi para cucu yatim piatu ini. Meski sedemikian susah, ia tetap bersyukur, berprasangka baik kepada Allah Ta’ala dan tidak ingin menjadi peminta-minta. Sebagai tulang punggung, sang nenek berjualan nasi uduk setiap sore kalau kondisinya sehat. Bila kondisinya tidak sehat, maka ia tidak bisa mencari nafkah.

“Waktu masih ada kakeknya beban saya tidak begitu berat. Tapi dua bulan setelahnya beban saya tambah berat, saya berpikir, siapa yang bantu saya jualan ya, terus antar anak-anak sekolah, ini semua memang sudah takdir Allah, jalan terbaik buat saya,” ujar Nenek Sunaryah kepada Relawan IDC.

Karena keterbatasan ekonomi, mereka tinggal di rumah triplex –peninggalan almarhum sang kakek– yang sudah reyot dan doyong terancam roboh. Tripex dindingnya banyak mengelupas berlubang, tiang-tiangnya rapuh dan atapnya bolong-bolong. Jika hujan deras bocornya ke mana-mana sehingga susah untuk istirahat.

Lantainya hanya dialasi karpet plastik, kamar mandinya amblas, dapurnya tumplek jadi satu di ruangan bagian depan. Ditambah dengan kamar mandi yang wc-nya jeblos, kondisi tempat tinggal keluarga yatim piatu ini semakin memprihatinkan.

Kondisi ini sangat menyulitkan keluarga yatim piatu ini karena di musim PSBB wabah Corona (Covid-19) ini, mereka harus banyak tinggal di rumah untuk belajar, beribadah, dan aktivitas harian lainnya.

“Inilah kondisi rumah saya, sudah pada bocor, mikirin anak-anak ini kalau malam saya merasa sedih dan kasihan. Apalagi kalau hujan besar pak, dinding-dindingnya pada bolong, takut hewan masuk aja saya mah,” ungkap Nenek Sunaryah.

…Saya pengen jadi dokter, hafal Al-Qur’an, supaya bisa ngasih mahkota kemuliaan kepada orang tua, bisa ngebanggain orang tua di surga…

AL-QUR’AN JADI PELIPUR LARA PENGUAT IMAN

Bagi nek Sunaryah, kehadiran yatim piatu sangat berharga, menambah spirit dan kekuatan batin untuk menjalani kehidupan yang optimis. Baginya hidup adalah ujian, dan pasti Allah berikan jalan keluar.

“Melani sama Deby di mata sangat berharga buat saya, untuk nambah kekuatan saya pak. Mungkin kalau tidak ada mereka saya tidak akan seperti ini. Jadi kekuatan saya karena adanya mereka, di tengah duka, saya suka terhibur, apalagi saya bangga mereka sudah belajar Al-Qur’an dan menghafalnya,” tutur Nek Sunaryah.

Nek Sunaryah mengungkapkan perasaan bangga dan luapan kesenangan yang tidak terbeli dengan apapun, karena cucu-cucu yatimnya itu tumbuh shalihah, rajin belajar tahfizh Qur’an. “Saya senang melihat mereka sudah mulai belajar Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, karena mereka mulai menghafal Al-Qur’an, mudah-mudahan mereka menjadi anak yang shalihah yang akan memberikan mahkotanya kepada orang tuanya nanti, cuman itu yang bisa saya arahkan buat mereka,” tuturnya lagi.

Masya Allah… duka lara pun berubah menjadi penyejuk hati dan ketentraman jiwa, dengan tekad kuat, tekun dan kemandirian, dua putri yatim Debby dan Melani kini tumbuh menjadi anak shalihah membanggakan, keduanya rajin belajar Al-Qur’an dan Tahfizh di sebuah Rumah Qur’an tak jauh dari tempat tinggalnya.

…Rumah saya pada bocor, WCnya jeblos, harapan saya supaya rumah gak bocor lagi dan tidak jeblos, supaya bisa nyaman ngafalin Qur’an, istirahat tidak terganggu…

DI TENGAH KETERBATASAN MENGEJAR CITA-CITA DOKTER PENGHAFAL AL-QUR’AN

Ananda Debby Silvana dan Melani Silvana masih duduk di bangku pendidikan, merajut asa dan cita-cita. Meski orang tuanya telah tiada, impian mereka melambung tinggi, semakin giat dan rajin untuk menggapai masa depan gemilang. Selain belajar normal di SD dan SMP, keduanya aktif belajar Al-Qur’an mengisi waktu sore hingga bakda isya di Rumah Tahfizh dekat dengan kediamannya.

Bacaan Al-Qur’an keduanya pun cukup bagus, silih bergantian saling menyimak dan mendengarkan bacaan dan hafalan Al-Qur’an masing-masing, saat relawan IDC berkunjung silaturahmi menyapa keduanya, untuk memberikan santunan yatim dan bingkisan sembako, Selasa siang (10/3/2020) di pinggiran Cikarang Utara Bekasi, Jawa Barat.

Melani dan Debby kepada relawan IDC mengungkapnya kronologis ditinggal wafat orang tuanya sewaktu masih kecil.

“Saya ditinggal ayah usia satu tahun, kalau sama ibu pas tujuh tahun. Sekarang saya kelas 5 SD, perasaan saya suka sedih kalo lihat teman-teman punya orang tua lengkap. Pengen punya ibu lagi, orang tua yang lengkap,” ujar Melani berurai isak tangis.

“Perasaan saya sedih setelah ditinggal ayah dan ibu, sedih pengen punya orang tua yang lengkap, saya sering ingat ibu, sedih pengen nangis, saya berdoa untuk orang tua, supaya dimasukin ke surga,” ungkap Debby.

Kedua yatim piatu Debby dan Melani bercita-cita menjadi seorang yang hafal Al Qur’an, dengan itu bisa memberikan mahkota kepada kedua orang tuanya kelak di akhirat. “Saya pengen jadi dokter, hafal Al-Qur’an, supaya bisa ngasih mahkota kemuliaan kepada orang tua, bisa ngebanggain orang tua di surga,” tuturnya.

BEDAH RUMAH YATIM: PELUANG MASUK SURGA BERSAMA NABI SEDEKAT DUA JARI

Besar harapan keluarga yatim piatu ini untuk tinggal bersama neneknya di rumah yang layak untuk ibadah, belajar dan istirahat. Bagi Melani dan Debby, mereka sangat butuh rumah yang nyaman untuk tilawah, muraja’ah dan menambah hafalan Al-Qur’an.

“Rumahnya suka bocor, WCnya jeblos, harapan saya supaya rumahnya gak bocor lagi dan tidak jeblos, kalau rumahnya sudah bagus bisa nyaman ngafalin Qur’an, istirahat tidak terganggu,” harap Debby kepada Relawan IDC.

“Iya pak, atapnya merosot dan bocor. Keinginan saya gak muluk-muluk agar tidak kebocoran, anak-anak belajar juga nyaman, dinding banyak yang bolong, saya mah asalkan tidak ada binatang yang masuk saja,” tambah Nek Sunaryah.

Kondisi rumah Nek Sunaryah dan ketiga cucu yatim piatunya sangat memprihatinkan. Kepedulian sesama muslim sangat diharapkan untuk membantu kehidupan keluarga yatim piatu ini, dengan merenovasi rumah agar hidup lebih layak dan nyaman beribadah.

Untuk membongkar dan merenovasi total rumah, diperlukan dana sekurang-kurangnya Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah).

Beban hidup yang dipikul keluarga yatim piatu ini adalah beban kita juga, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

Cinta kasih dan kepedulian yang kita ulurkan kepada yatim piatu akan membuka peluang masuk surga bersama Nabi SAW sedekat dua jari, sesuai dengan sabdanya:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، يُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ

“Aku dan pengasuh anak yatim kelak di surga seperti dua jari ini.” Rasulullah bersabda demikian sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya (HR Bukhari).

Semoga dengan membantu pendidikan anak yatim ini, kita dijauhkan Allah dari sifat pendusta agama:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْن

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (Qs Al-Ma’un 1-2).

Donasi peduli yatim piatu Debby Silvana dan Melani Silvana bisa disalurkan dalam program Cinta Yatim:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  7. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  8. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  9. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  10. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 2.000 (dua ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.002.000,- Rp 502.000,- Rp 202.000,- Rp 102.000,- 52.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: infaqDakwahCenter.com.
  • Bila biaya sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.