Infaq Dakwah Center, NEWS — August 25, 2020 at 19:35

Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu, Dapatkan Istana di Surga.!!!

by
Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu, Dapatkan Istana di Surga.!!!

 

Sudah empat tahun berkiprah, Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Munawaroh aktif berjihad mencerdaskan umat. Namun pesantren para yatim dan kaum dhuafa di kawasan Gunungsari Serang Banten ini belum memiliki masjid sebagai pusat dakwah. Dibutuhkan dana 160 juta rupiah untuk mendirikan masjid untuk menunjang kegiatan santri.

Sisihkan harta untuk investasi properti akhirat. Raih pahala amal jariyah, pahala terus mengalir tak terbatas umur. Ayo Bantu Sedekah Jariyah.!!!

 

GUNUNGSARI, Infaq Dakwah Center (IDC) – Merintis dakwah di desa tertinggal, para pejuang ilmu dari Pesantren Al-Munawaroh harus berjibaku mencerdaskan masyarakat yang mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan. Warga kebanyakan tidak lulus sekolah SD ini lebih memilih bekerja mencari pasir atau bersawah.

Karenanya, tak heran bila sejak awal didirikan pesantren ini sama sekali tidak memungut biaya dari para santri yang notabene adalah anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

“Warga  di sini warga yang tidak mampu, mereka para penggali pasir, buruh tani dan anak-anaknya putus sekolah. Tidak lepas SD, kelas tiga atau kelas empat sudah putus sekolah,” terang Kiyai Haitami, pendiri pesantren yang juga sesepuh masyarakat.

Bersama sang istri, Kiyai Haitami terus memutar otak demi merintis cikal bakal dakwah dan pendidikan di kampungnya. Maka pada tahun 2016 ia mulai wujudkan tekadnya dengan mewakafkan sebidang tanahnya untuk mendirikan Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Munawaroh. Bangunannya pun hanya berupa gubuk bambu karena minimnya dana.

Berbagai tantangan dilalui, alhamdulillah kini dakwahnya mulai berbuah manis. Abah Haitami -sapaan akrabnya- pun bisa tersenyum bahagia melihat perkembangan pendidikan Islam di kampung halamannya. Ia sangat bangga karena warga sekitar sudah mulai terpanggil untuk menuntut ilmu dan tiap tahun jumlah santrinya terus bertambah.

“Kami memulai sekitar tahun 2016 bersama istri. Dulu anak-anak di sini kalau mau sekolah itu nangis, tetapi sekarang alhamdulillah yang tidak sekolah itu yang nangis,” ujar Abah Haitami.

MERANCANG GENERASI UNGGUL: MEMADUKAN AL-QUR’AN DAN SAINS

Meskipun gratisan, para pengasuh pondok tetap berusaha menyajikan pendidikan yang berkualitas. Selain program unggulan Tahfizh (menghafal) Al-Qur’an, kurikulum didesain sedemikian rupa dengan pendalaman ilmu-ilmu agama dan penguasaan kitab-kitab ulama Salaf yang dipadukan dengan bahasa Arab-Inggris, ilmu pengetahuan umum dan kemandirian (leadership).

“Berdirinya pesantren ini bertujuan untuk membina masyarakat, khususnya anak-anak usia belajar supaya bisa mengaji. Alhamdulillah para santri pesantren ini tidak dipungut biaya atau digratiskan. Para santri di sini terdiri dari santri yatim dan dhuafa,” terang Ustadzah Ade Syamsiah, pengasuh santriwati.

“Di samping pembelajaran agama dan tahfizh Al-Qur’an sebagai unggulan, para santri juga belajar ilmu pengetahuan umum, seperti belajar bahasa Inggris, Bahasa Arab dan kegiatan-kegiatan yang lain serta ekskul lain, seperti pramuka dan paskibra,” imbuhnya.

Dalam tekanan keterbatasan pesantren, para santri sangat antusias belajar di ruang kelas pondok hanya berupa bale usang (rombeng) yang terbuat dari anyaman bambu. Tempat  tinggalnya pun sangat sederhana, berupa gubuk dengan tambalan triplek di sana-sini. Untuk menghibur diri, rumah panggung non permanen ini mereka sebut “asrama masa depan.”

Berkat kesungguhan, keikhlasan, kesabaran, keuletan dan tangan-tangan dingin para pengasuh pondok pesantren, perkembangan para  santri yatim dan kaum dhuafa itu sangat menggembirakan. Dalam berbagai lomba ilmiah tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTS) setempat, mereka menjadi langganan juara.

Prestasi ini sangat membanggakan bagi para santri. Puji, santriwati yatim asal Kampung Pagetekan yang pernah menjuarai pidato tingkat MTS, bersyukur menjadi kader masa depan dakwah Islam. Salah satu ilmu yang mahal saat ini adalah syariat birrul walidain. Ia menjadi anak yang berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal dengan kiriman doa-doa surgawi setiap saat.

“Di pesantren ini saya diajarkan untuk menjadi orang yang lebih baik, orang yang bertakwa. Saya sangat senang menimba ilmu di pesantren ini. Suka dukanya banyak saya rasakan di sini,” kata puji.

…Meskipun gratisan, pesantren ini tetap berusaha menyajikan pendidikan berkualitas dengan program unggulan Tahfizh (menghafal) Al-Qur’an…

Hal yang sama juga dialami Nia Suniati, remaja yatim yang memiliki segudang prestasi dalam berbagai musabaqah (perlombaan), baik di bidang agama, maupun keterampilan dan seni. Meski tak merasakan belaian sang ayah yang telah wafat ketika ia masih balita, namun kasih sayang orang tua ia dapatkan dari para asatidz yang mengajarnya dengan penuh welas asih.

“Di pesantren ini Abah dan para ustadz sangat sabar memberikan kasih sayang sama saya. Saya dibimbing dengan baik, berperilaku kepada orang yang lebih tua dari saya. Mengajarkan saya untuk beramal shalih, mendoakan orang tua saya terutama dengan saya beramal shalih dan belajar Al-Qur’an,” tuturnya.

Nia sangat bersyukur dipilih Allah untuk menimba ilmu dari para guru di pesantren ini. “Kepada para ustadz dan ustadzah, saya sangat berterima kasih sudah membimbing Nia ke jalan yang baik sudah memberi tahu ilmu kebaikan dan bisa belajar Al-Quran dengan baik di pesantren ini,” tuturnya.

Masih ada belasan anak-anak yatim lainnya yang menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Munawaroh. Begitu mulianya misi pesantren tersebut, selain memberikan pendidikan gratis, juga mengasuh anak yatim sebagai santri di tengah mereka.

SEPANJANG TAHUN MERINDUKAN MASJID

Kendala utama para santri saat ini adalah ketiadaan masjid sebagai sarana ibadah. Karena tanpa masjid, mereka kesulitan menggelar shalat berjamaah.

“Pesantren ini belum punya sarana ibadah atau masjid. Keadaannya masih seperti ini, ngaji hanya di bale rombeng,” ungkap Ustadz Arwani, pengasuh pesantren.

Selain itu, sanitasi di pesantren tersebut amat tidak layak. MCK yang digunakan para santri hanya tertutup kain usang dan spanduk yang sudah terkoyak. Sehingga untuk mandi dan buang air besar, terkadang para santri harus pergi ke sungai terdekat.

“Pesantren kami ini sangat sederhana, kelasnya cuma gubuk anyaman bambu, kamar mandinya sangat tidak layak. Jadi kalau saya mandi harus ke sungai sama teman-teman. Saat ini kami  membutuhkan masjid di Ponpes Al-Munawaroh untuk menghafal Al-Qur’an dan Shalat berjamaah,” ujar Saiful, sang santri yatim.

Karenanya, untuk menunjang tholabul ilmi, para santri sangat merindukan masjid lengkap dengan sarana mck yang layak.

Pihak pesantren telah menyiapkan lahan wakaf untuk dibangun masjid. Untuk pembangunan masjid dan sarana mck di Pesantren Tahfizh Al-Munawaroh ini, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 160.000.000 (seratus enam puluh juta rupiah).

Mari sisihkan harta amal jariyah untuk mewujudkan masjid di di pesantren ini. Dari setiap aktivitas para santri dan warga yang beribadah, taklim, dan dakwah di masjid ini, insya Allah pahalanya terus mengalir kepada para donatur. Infak jariyah menjadi investasi akhirat yang pahala terus mengalir tak terbatas umur. Mari wakafkan sebagian harta untuk membangun masjid, agar kelak diganti Allah dengan sebuah istana di Surga.

…Sisihkan harta untuk investasi properti akhirat. Raih pahala amal jariyah, pahala terus mengalir tak terbatas umur…

INVESTASI ABADI: PAHALA MENGALIR TIADA AKHIR

Masjid adalah tempat yang paling mulia di muka bumi, tempat terpancarnya syiar Islam, tempat untuk mengagungkan nama Allah dalam sujud dan rukuk. Dari masjid dibangun kebersamaan kaum muslimin melalui shalat jamaah, madrasah dan majlis ilmu bagi kaum muslimin.

Berbahagialah kaum Muslimin yang menginfakkan hartanya sebagai investasi akhirat untuk sedekah jariyah. Hartanya menjadi shadaqah jariyah yang pahalanya terus mengalir tidak pernah putus meski orang yang berinfak telah wafat. Apalagi bila mushalla tersebut dari waktu ke waktu dihidupkan berbagai aktivitas ibadah, dakwah dan thalabul ilmi. Tak bisa dihitung berapa limpahan pahala yang mengalir setiap saat.

Rasulullah SAW menyampaikan kabar gembira tentang keutamaan shadaqah jariyah sebagai infaq yang pahalanya terus mengalir meskipun orang yang bersedekah telah meninggal dunia:

إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ

“Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaat dan anak shalih yang mendoakannya” (HR Muslim).

…Barangsiapa membangun masjid karena Allah walau sebesar sarang burung atau lebih kecil, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga..

CARA CERDAS MEMBELI PROPERTY/ISTANA DI SURGA

Lebih spesifik lagi, Rasulullah SAW menggaransi bagi orang yang membangun masjid, maka Allah Ta’ala akan membangun baginya rumah di surga:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah istana yang semisalnya di surga” (HR Bukhari dan Muslim).

Bila membangun rumah di dunia dibutuhkan dana ratusan juta bahkan miliaran dengan memakan waktu berbulan-bulan. Padahal itu hanyalah rumah sementara, yang tak lama akan ditinggalkan.

Sementara untuk mendapatkan property/rumah di surga yang kenikmatan dan dan kemewahannya tak bisa dibayangkan, cukup ditempuh dengan modal membangun masjid walaupun hanya sebesar sarang burung, atau dengan ikut andil dalam pembangunan masjid di dunia. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga” (HR Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah, dishahihkan oleh Al-Albany).

Donasi pendirian Masjid Pesantren Al-Munawaroh Gunungsari Serang Banten, bisa disalurkan melalui program “Infaq Jariyah” ke Rekening IDC:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  7. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  8. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  9. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  10. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 4.000 (empat ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.004.000,- Rp 504.000,- Rp 204.000,- Rp 104.000,- 54.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: www.infaqdakwahcenter.com.
  • Bila biaya sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • VIDEO: https://youtu.be/WlzJunjIed4
  • INFO: 08122.700020 – 08567.700020