AQIDAH-AKHLAQ, Kuliah Aqidah, Kuliah Akhlaq — December 15, 2020 at 11:38

Perkataan yang Buruk dan Celaan adalah Sesuatu yang tidak Disukai Rasulullah

by
Perkataan yang Buruk dan Celaan adalah Sesuatu yang tidak Disukai Rasulullah

Tutur kata yang baik merupakan ciri akhlaq mulia seorang muslim dan perkataan yang kotor sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya…

Islamkafah.com – Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الله عزّ وجلّ لاَ يُحِبُ الفُحْشَ وَلَا التَفَحُش

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak suka dengan perbuatan keji dan kata-kata yang kotor (kasar).” (Hadits Riwayat Ahmad nomor 24735)

Dalam satu hadits tatkala datang sekelompok orang-orang Yahudi datang menemui Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, kemudian mereka mengejek Nabi, mereka mendo’akan keburukan kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Kata mereka:

 السَّامُ عَلَيك

‌‌”Asamu’alaik, Ya Abu Qassim.”

(Kebinasaan atasmu Wahai Abu Qassim)

Kalau orang mendengar sepintas, seakan-akan mereka berkata, “Assalamu’alaik (keselamatan bagi engkau),” tetapi huruf “lam” nya mereka hilangkan.

Sehingga artinya menjadi semoga engkau cepat mati. Maka Nabi menjawab, “Wa’alaikum (kalian juga).”

Cukup Nabi menjawab do’a keburukan mereka juga.

Ternyata ‘aisyah radhiyallahu Ta’ala ‘anha tidak kuat (tidak sabar) tatkala mendengar suaminya (Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam) dicerca oleh orang-orang Yahudi.

Maka ‘aisyahpun marah (membalas), ‘aisyah berkata:

وعليكم السام، لعنة الله عليكم وغضب الله عليكم إخوة القراد والخنازير

“Wa’alaikumussam laknatullahi alaikum, wa ghadhabullahi’alaikum, Ikhwatalqiradatul walkhanazir”

(Semoga kalian yang cepat mati, laknat Allah bagi kalian, Allah murka bagi kalian, wahai saudara-saudara babi-babi dan monyet-monyet).

Maka ‘aisyah ditegur oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

يَا عَائِشَةَ لَا تَكُوْنِيْ فَاحِشَةَ

“Wahai ‘aisyah jangan engkau menjadi orang yang mulutnya kotor.” (Hadits Riwayat Muslim nomor 2165)

Padahal kalau kita perhatikan, bagaimana sikap ‘Aisyah? Perkataanya benar, tidak ada yang salah semua perkataannya (dalilnya) ada dalam Al Quran.

Kata ‘Aisyah radhiyallahu Ta’ala ‘anha (ummul mu’minin), “Laknatullah alaih,” benar bahwasanya, “Laknatullah alaikum,” bahwasanya orang Yahudi terlaknat.

Allah yang berfirman:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Telah terlaknat orang-orang kafir dari Bani Israil (Yahudi) dengan lisan Daud dan ‘isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”(QS Al Maidah: 78)

Ternyata perkataan ‘aisyah benar, tidak ada salahnya tatkala ‘aisyah mencela orang-orang Yahudi.

Bahkan ‘Aisyah radhiyallahu Ta’ala ‘anha mencela karena membela Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, membela sumber sunnah, bukan hanya sunnah tetapi membela orangnya.

Siapa sumber sunnah?

Sumber sunnah adalah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. ‘Aisyah membela Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam tapi ternyata salah dan ‘Aisyah ditegur oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Oleh karenanya tatkala kita menyeru kepada tauhid, kepada sunnah, kita membantah orang-orang yang bersalah sampaikan dengan kata-kata yang lembut apalagi kepada orang-orang kafir.

Kepada orang-orang Yahudi saja kita diminta memilih kata-kata yang baik apalagi kepada sesama muslim.

Kalau kita mendebat, kita mendebat dengan cara yang baik.

Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Janganlah kalian mendebat ahlul kitab, kecuali dengan cara yang terbaik.” (QS Al ‘Ankabut: 46)

Boleh berdebat dengan ahlu kitab tapi dengan cara yang baik. Bila dengan ahlul kitab saja kita disuruh berdebat dengan cara yang baik,

Apalagi dengan berdebat sesama muslim.

Apalagi dengan orang yang sama-sama mengucapkan “La ilaha illallah”.

Apalagi dengan yang sama-sama menginginkan kebaikan.

Maka jaga lisan kita.

Kalau kita tidak menjaga lisan kita, ingat! dosanya (akibatnya) bahaya, kita akan di murkai oleh Allah (dibenci oleh Allah).

Ingat dalam hadits tadi dalam sunan Tirmidzi, kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ

Dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah sangat benci kepada orang yang berkata-kata kasar dan kotor.

Di sini Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mendatangkan ” انّ ” taukid untuk penekanan dan lam taukid, kalau kita artikan dalam bahasa Indonesia “dan”.

Meskipun benar isinya tetapi bila kotor dan kasar maka Allah tidak suka.

Ya Akhi, jangan-jangan kita kemudian menjadi orang yang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kenapa?

Karena Allah benci orang yang seperti ini, orang yang berakhlaq buruk, kalau anda sudah dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa yang bisa kita harapkan?

Dibenci oleh pencipta alam semesta, gara-gara lisan anda yang kotor.

Maka jagalah lisan.

Berusahalah berkata-kata yang baik tidak menyinggung perasaan orang lain.

Bukan hanya dalam berdakwah, bahkan dalam skala kecil (misalnya) terhadap istri kita, terhadap suami, terhadap anak-anak, jangan terbiasa kata-kata kotor.

Supaya kita bisa berakhlaq mulia, supaya lebih dekat dengan Al habieb Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dihari kiamat kelak.

Wallahu A’lam (AN)