Pemurtadan, Firqah, TBC, Ghazwul Fikri, NAHIMUNKAR — February 15, 2018 at 22:21

Opini Redaksi: Waspada Pemurtadan Masal di Valentine’s Day

by
Opini Redaksi: Waspada Pemurtadan Masal di Valentine’s Day

Hari valentine yang dirayakan oleh orang-orang kafir di seluruh dunia kini juga telah menjadi racun untuk para pemuda-pemudi di kalangan kaum muslimin. Dan, sungguh ini adalah fitnah dan bencana yang besar….

Islamkafah.com – Hari kasih sayang atau biasa dikenal oleh orang-orang kafir lagi jahil sebagai  Valentine’s Day adalah sebuah perayaan yang berasal dari agama pagan (Penyembah berhala) yang dipenuhi kerusakan yang sangat banyak didalamnya.

Perayaan ini ternyata begitu dinanti-nanti oleh mereka yang tidak beriman kepada Allah dari kalangan orang-orang kafir dan juga orang-orang murtad yang gemar sekali bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka pun sangat tidak sabar ingin merayakan “Hari Zina Sedunia” yang dinanti-nanti oleh banyak kaum penyembah hawa nafsu yang tentu akan merasa “merdeka” melaksanakan zinanya di hari yang menurut mereka “spesial” tersebut.

Akan tetapi, yang sangat memprihatinkan adalah ternyata penyakit ini telah terlanjur menjamur di kalangan kaum muslimin, tidak terkecuali di bumi Allah wilayah Indonesia ini. Penyakit ini pun tidak hanya menjangkit kawula muda saja, akan tetapi ia juga merasuk dikalangan orang-orang dewasa maupun yang sudah tua, waiyyadubillahi.

Sejarah hari Valentine’s Day

Meskipun banyak sekali versi yang bertebaran di Internet tentang asal-usul perayaan ini, namun dalam sebuah buku yang berjudul “The World Book Encyclopedia, 1998” dan juga buku “Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity”, telah jelas sekali bahwa disana menggambarkan kisah asal usulnya perayaan yang sangat bathil ini.

Keterangan yang kita dapatkan dari kedua buku tersebut adalah bahwa hari tersebut berasal dari kebudayaan dan keyakinan bangsa Romawi kuno yang menyembah berhala (Paganisme).

Acara kasih sayang tersebut adalah sebuah perayaan yang dimulai sejak tanggal 13 hingga 18 Februari. Akan tetapi yang menjadi puncaknya adalah tanggal 15 Februari. Tanggal tersebut dinamakan Lupercalia yang menjadi ikon puncak dari perayaan sejak tanggal 13-18. Kemudian, pada tanggal 13 dan 14 Februari perayaan tersebut dinisbatkan kepada dewi cinta (Queen of Feverish Love) yang biasa disebut sebagai Juno Februata. Dalam hari ini para lelaki hidung belang mengundi nama-nama gadis dalam sebuah kotak undian, dan kemudian bagi si gadis yang namanya keluar, maka gadis tersebut harus mau dan rela menemani sang lelaki tersebut selama satu tahun lamanya untuk bersenang-senang berdua layaknya seorang suami dan istri (Baca: Zina.)

Kemudian setelah itu, tepat pada tanggal 15 Februari mereka meminta kepada dewi Lupercalia yang mereka sembah dan mereka pertuhankan. Mereka meminta kepada Thaghut tersebut dari gangguan-gangguan biantang buas srigala yang biasa menyerang mereka. Dan, kemudian setelah itu, mereka kaum lelaki mulai mencambuk para wanita dengan kulit binatang sekeras-kerasnya. Namun, anehnya kaum wanita malah berebut untuk bisa terkena cambukan karena mereka sangat yakin, bahwa cambukan tersebut akan menuai berkah kecantikan dan kesuburan bagi diri mereka.

Sungguh perayaan mereka begitu aneh dan menjijikkan bagaikan binatang yang tak berakal.

Lebih jauh dari itu, setelah agama Katolik mulai menjadi agama resmi di kerajaan Roma, maka penguasa Romawi dan juga ditemani oleh para tokoh-tokoh mereka akhirnya berusaha mengadopsi acara Lupercalia Paganisme ini untuk mereka tambahkan bubuhan nuansa perayaan khas agama Kristiani.

Hal ini tentu tidak bertujuan selain untuk mendekatkan masyarakat Roma yang notabene masih kental dengan ajaran pagan agar mereka mau dan tertarik kepada kepada ajaran Kristen yang seolah-oleh tidak bertentangan dengan ajaran mereka.

Setelah semua kelicikan dan kecurangan penguasa serta tokoh-tokoh Roma dirasa berhasil  pun berjalan mulus untuk mengibuli kaum pagan Roma, maka tepat di Tahun 496 Masehi, acara tradisi  Romawi kuno tersebut akhirnya diresmikan menjadi sebuah perayaan dalam gereja yang diberi nama oleh mereka dengan sebuatan perayaan Saint Valentine’s Day. Peresmian tersebut diputuskan berdasarkan kebijakan pemimpin kafirin Kristiani Paus Gelasius I. Kemudian, pada hari tersebut mereka mengklaimnya sebagai bentuk dan tanda untuk menghormati St. Valentine mereka yang rumornya mati tepat pada tanggal 14 Februari.

Agama Islam melarang tasyabuh dengan orang kafir

Jika kita mau jujur, ternyata telah jauh hari agama Islam yang mulia ini dengan sangat tegas melarang kepada semua pemeluknya untuk jangan sampai mengikuti tradisi kekafiran, menghadiri perayaannya, apalagi malah ikut berpartisipasi meramaikannya. Larangan ini dalam istilah fiqh-nya disebut sebagai Tasyabuh bil kuffar (Menyerupai orang kafir.)

Perlu kita ketahui, bahwa tasyabuh adalah perbuatan seorang muslim yang menyerupai cara hidup orang-orang kafir meliputi dari pakaian mereka, budaya dan tradisi mereka, peribadahan, pun juga hari perayaan-perayaan mereka.

Sebagai seorang muslim, maka kita hendaknya tidak melanggar ketentuan tersebut, karena suatu saat nanti kita pasti akan menyesal jika kita menurutkan hawa nafsu kita untuk mengikuti orang-orang kafir. Bahkan, ancaman dari perbuatan ini adalah sangat tegas sekali, yaitu seorang yang menyerupai orang kafir dari beberapa hal yang kami sebutkan diatas maka ia jelas sekali telah murtad dari agama Islam yang mulia ini, waiiyadubillahi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam kitabnya Iqtidho’ menjelaskan tentang wajibnya kaum muslimin menyelesihi kaum kafirin dengan sekuat tenaga mereka sebagai bentuk menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya shallalalhu ‘alahi wassalam.

Berikut adalah dalil-dalil yang beliau rahimahullahu bawakan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185).

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud.)

Dalam kedua hadits diatas dengan tegas mengatakan bahwa sebagai seorang muslim, kita wajib menyelishi perbuatan kaum kafirin, dan juga menjauhi serta tidak mengikuti dalam semua bentuk merayakan serta berpartisipasi didalamnya. Selain itu, apabila kita masih melakukannya, sungguh ini adalah perbuatan jahil yang menyebabkan kita bisa saja murtad dari agama Islam yang mulia ini, waiyyadubillahi.

Selain itu, perayaan ini sesungguhnya sangatlah tidak berarti dan tidak berfaedah sama sekali. Sedangkan Allah azza wa jalla telah memerintahkan kepada kita perihal sikap yang paling tepat apabila kita dihadapkan dengan segala sesuatu yang tidak berfaedah untuk hidup kita.

Yakni, sebagaimana firman Allah azza wa jalla dibawah ini:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامً

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)

Selain tidak berfaedah, perayaan yang jelas-jelas adalah sebagai sebuah perayaan kaum kafirin Kristen tersebut wajib kita hinakan. Karena, apabila kita tidak menghinakan perayaan tersebut dan malah berpartisipasi didalamnya, maka kita sama saja ber-kiblat kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Kini kami dari redaksi islamkafah.com menasihatkan kepada anda wahai para pembaca setia kami, hendaknya anda yang sudah terlanjur merayakan hari kekafiran tersebut, hendaklah bertaubat dan memperbaharui syahdat  anda! Karena, jika memang benar anda melakukan hal tersebut, ketahuilah bahwa anda sesunggya telah murtad dari agama Islam yang mulia ini.

Bersyukurlah anda masih hidup, dan masih diberi kesempatan oleh Allah untuk membaca artikel kami ini. Karena, ketahuilah bahwa bisa jadi dan mungkin saja ini adalah hidayah serta petunjuk dari Allah untuk anda agar mau kembali kepada Allah azza wa jalla dengan taubatan nasuha.

Demikian sedikit tulisan dan ulasan kami ini tentang acara kekafiran yang kemarin dihebohkan oleh hampir mayoritas manusia di dunia. Semoga tulisan kami ini terdapat manfaat untuk seluruh kaum muslimin, khususnya para pembaca islamkafah.com yang senantiasa selalu setia menanti rilisan artikel dan berita kami.

Barakallahu fiikum – Wallahu ‘alam bishowab. (aus) []

%d bloggers like this: