Pemurtadan, Firqah, TBC, Ghazwul Fikri, NAHIMUNKAR — February 16, 2018 at 20:50

Opini Redaksi: Benarkah Seorang Muslim Diperbolehkan Merayakan Tahun Baru Imlek?

by
Opini Redaksi: Benarkah Seorang Muslim Diperbolehkan Merayakan Tahun Baru Imlek?

Dewasa ini banyak sekali para penceramaah (Baca: Ustad Suu’) yang jahil dari kitabullah dan sunnah dengan berani mengatakan bahwa merayakan tahun baru Imlek adalah sama sekali tidak bertentangan dengan agama Islam, karena Imlek bukanlah berasal dari agama tertentu. Sungguh pernyataan ini adalah sebuah kedustaan dan kebodohan mereka yang sangat nyata…

Islamkafah.com – Ikhwah fillah. Tahukah anda, bahwa tepat pada hari ini manusia diberbagai belahan dunia telah sibuk untuk merayakan hari raya tahun baru cina atau biasa dikenal dengan hari raya Imlek. Sebuah hari raya yang ditetapkan berdasarkan kalender Tionghoa.

Dihari Imlek ini maka kita akan mendapati orang-orang Tionghoa dan keturunannya yang tersebar diberbagai belahan dunia ini sedang asyik ria merayakan hari raya tahun baru mereka. Bahkan, karena begitu besar budaya dan pengaruhnya, perayaan Imlek ini pun ini begitu cepat populer pun banyak diresmikan sebagai hari libur Nasional diberbagai negara pada belahan dunia. Sehingga, dengan adanya hal itu maka tidak menjadi mengherankan apabila banyak sekali diantara manusia yang ingin dan ikut merayakannya, tidak terkecuali juga dibumi Allah wilayah Indonesia ini.

Naga, salah satu simbol orang-orang kafir Cina dalam merayakan tahun baru Imlek

Akan tetapi yang begitu mengherankan dibenak penulis adalah, mengapa diantara banyaknya manusia yang merayakan Imlek terdapat banyak pula kaum muslimin yang ikut andil didalam mensukseskan serta memeriahkan acara tersebut.

Maka kini timbul sebuah pertanyaan, yakni apakah pantas seorang yang mengaku beragama Islam, yang hanya menyembah Allah Ta’ala dan mencintai Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam ikut andil dalam merayakan Imlek?

Mereka ikut bersenang-senang bersama mereka, ikut mengenakan pakaian ala-ala mereka, ikut mengucapkan semboyan-semboyan mereka, saling berbagi hadiah dan mengucapkan selamat tanpa adanya sama sekali dalam hati sikap al-wala’ wal bara’ yang diajarkan oleh Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam.

 

Mengenal Apa Itu Perayaan Imlek

Imlek adalah sebuah perayaan penting bagi orang-orang Tionghoa. Dari sumber yang penulis dapatkan ternyata tahun baru Imlek mulai ditetapkan sejak bulan yang pertama dan tepat dihari pertama pula dalam kalender mereka.

Hal ini dalam bahasa mereka adalah dikenal sebagai pinyin: zhēng yuè (正月.)

Kemudian, perayaan Imlek tersebut berakhir tepat pada tanggal kelima belas, yakni saat bulan purnama. Dan, berakhirnya perayaan ini biasa kita kenal dan sering pula kita dengar dengan istilah “Cap Go Meh” (十五冥 元宵节.)

Sebuah perayaan Imlek oleh orang-orang keturunan Tionghoa

Di negeri asalnya, yakni Cina, acara Imlek dirayakan dengan berbagai adat dan tradisi yang sangat beragam. Hampir semua tradisi dan adat didalamnya sangat jauh dari tuntunan agama Islam.

Salah satu diantara perayaan tersebut adalah pesta penyulutan kembang api yang dalam Islam termasuk sebagai sebuah pemborosan yang perlu dijauhi. Selain itu, perayaan Imlek ini adalah perayaan yang dilatar belakangi dengan agama Konghuchu yang tentunya merupakan sebuah kekafiran dimata agama Islam. Makanya tidak heran jika kita mendapati perayaan tersebut sangat jauh dari tuntunan agama Islam yang mulia.

Lebih jauh lagi, perayaan imlek juga berisi dengan hal-hal yang berbau kemusyrikan yakni sembahyang Imlek yang kegiatannya adalah sembahyang kepada Thian (Tuhan) mereka. Dan, didalam kegiatan tersebut ditujukan untuk mengucap syukur beserta memohon rezeki yang lebih baik dari pada tahun sebelumnya serta keinginan untuk menjamu para leluhur mereka yang sudah meninggal.

 

Kesyirikan dan Mitos Kental di Hari Raya Imlek

Ketika hendak tiba waktu perayaan Imlek, maka etnis Tionghoa akan mempersiapkan sebuah ritual tepat satu hari sebelum perayaan. Dalam ritual ini adalah sebuah keharusan atau kewajiban yang digunkan oleh orang Tionghoa untuk memuja leluhur mereka yang sudah meninggal. Hal ini sesuai dengan tulisan dibawah ini:

Seperti dalam upacara kematian, memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), bersembahyang leluhur seperti yang dilakukan di hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur). Oleh sebab itu, satu hari sebelumnya atau pada saat Hari Raya Imlek para anggota keluarga akan datang ke rumah anggota keluarga yang memelihara lingwei (meja abu) leluhur untuk bersembahyang, atau mengunjungi rumah abu tempat penitipan lingwei leluhur untuk bersembahyang. Sebagai bentuk penghormatan dan sebagai tanda balas-budi maka pada saat acara sembahyang dilakukan pula persembahan jamuan makan untuk arwah para leluhur. Makna dari adanya jamuan makan untuk arwah leluhur adalah agar kegembiraan dan kebahagian saat menyambut hari raya Imlek yang dilakukan di alam manusia oleh keturunannya juga dapat turut serta dinikmati oleh para leluhur di alam lain. Selain jamuan makan juga dilakukan persembahan bakaran Jinzhi (Hanzi=金紙;sederhana=金纸;hanyu pinyin=jīnzhǐ;Hokkien= kimcoa;harafiah=kertas emas) yang umumnya dikenal sebagai uang arwah (uang orang mati) serta berbagai kesenian kertas (紙紮) zhǐzhā (pakaian, rumah-rumahan, mobil-mobilan, perlengkapan sehari-hari, dan pembantu). Makna persembahan bakaran Jinzhi dan zhǐzhā yang dilakukan oleh keturunannya adalah agar arwah para leluhur tidak menderita kekurangan serta sebagai bekal untuk mencukupi kebutuhannya di alam lain. Praktik jamuan makan dan persembahan bakaran Jinzhi dan zhǐzhā yang dilakukan oleh keturunannya untuk arwah para leluhur di alam lain merupakan bentuk perwujudan tanda bakti dan balas-budi atas apa yang telah dilakukan oleh orang-tuanya saat masih hidup kepada anak-anaknya di alam manusia.

Pada malam tanggal 8 menjelang tanggal 9 pada saat Cu Si (jam 23:00-01:00) Umat melakukan sembahyang lagi. Sembahyang ini disebut Sembahyang “King Thi Kong” (Sembahyang Tuhan Yang Maha Esa) dan dilakukan di depan pintu rumah menghadap langit lepas dengan menggunakan altar yang terbuat dari meja tinggi berikut sesaji, berupa Sam-Poo (teh, bunga, air jernih), Tee-Liau (teh dan manisan 3 macam), Mi Swa, Ngo Koo (lima macam buah), sepasang Tebu, dan tidak lupa beberapa peralatan seperti Hio-Lo (tempat dupa), Swan-Loo (tempat dupa ratus/bubuk), Bun-Loo (tempat menyempurnakan surat doa) dan Lilin Besar.

Pada hari Cap Go Meh, tanggal 15 Imlek saat bulan purnama, Umat melakukan sembahyang penutupan tahun baru pada saat antara Shien Si (jam 15:00-17:00) dan Cu Si (jam 23:00-01:00). Upacara sembahyang dengan menggunakan Thiam hio atau upacara besar ini disebut Sembahyang Gwan Siau (Yuanxiaojie). Sembahyang kepada Tuhan adalah wajib dilakukan, tidak saja pada hari-hari besar, namun setiap hari pagi dan malam, tanggal 1 dan 15 Imlek dan hari-hari lainnya. Sumber: Wikipedia.)

Seorang yang merayakan Imlek dengan ritual kemusyrikan

Selain daripada itu, ternyata imlek pun dipenuhi dengan unsur mitos yang sangat kental, hal ini terbukti dari apa yang kami temukan pada tulisan di Wikipedia berikut ini:

Menurut legenda, dahulu kala, Nián () adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri mereka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Dipercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen. Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengusiran Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru. Guò nián (Hanzi tradisional: 過年; bahasa Tionghoa: 过年), yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harafiah berarti “mengusir Nian”.[2][3]

Dalam buku Jingchu sui shi ji 荊楚歲時記,  catatan kebisaan tahun baru Jingchu yang dibuat di zaman dinasti selatan ( 420-589 BE ) dan ditulis oleh Zong Lin ( 501-565 BE ). Buku itu yang menulis mitos tentang nian .

Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap oleh 鸿钧老祖 atau 鸿钧天尊Hongjun Laozu, dewa Taoisme dalam kisah Fengsheng Yanyi. Dan Nian kemudian menjadi kendaraan Honjun Laozu.

Dalam keterangan tersebut dikatakan bahwa asal usul warna merah, beserta semua perabotan seperti lampion dan segala yang berbau imlek adalah berasal dari seekor raksasa pemakan manusia yang jahat. Sungguh ini adalah sangat tidak masuk akal dan hanyalah mitos dan dongeng belaka.

Sebuah lampion yang populer di tahun baru Imlek, ternyata berasal dari sebuah mitos belaka yang tidak masuk akal.

Nah, setelah kita mengetahui apa dan bagaimana perayaan serta asal usul perayaan Imlek, maka InsyaaAllah penulis akan membahas tentang apa hukum untuk seorang muslim merayakan hari raya kafir ini, dan silahkan simak selalu tulisan kami hingga selesai agar para pembaca dapat memahami semua maksud dari penulis.

 

Hukum Merayakan Tahun Baru Imlek bagi Kaum Muslimin

Seperti kita ketahui bersama bahwa perayaan ini adalah berasal dari agama non Islam dan dipenuhi dengan berbagai mitos, dan ritual yang musyrik. Maka dengan adanya fakta ini telah jelas kita dapati bahwa hukum merayakan Imlek adalah haram dalam Islam.

Selain haram, merayakan hal ini mengancam gugurnya keimanan seseorang. Artinya, seorang yang merayakan hari raya ini, seandainya dia adalah seorang muslim maka dia telah jatuh kekafiran dan langsung dicap sebagai seorang murtadin (Murtadin: Orang yang keluar dari agama Islam).

Anak-anak Tionghoa yang terlihat gembira merayakan Imlek

Hal ini penulis simpulkan bukan hanya dengan prasangka belaka saja, akan tetapi hal ini bersumberkan dari hukum yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallalallahu ‘alaihi wassalam sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah, berikut ini:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 ”Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Zumar: 65)

Kemudian,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.(QS. Al-Maidah: 72)

Allah Ta’ala berfirman:

لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al Mujadalah: 22).

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud no. 4031 dan Ahmad 2: 92, Shahih.)

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth.)

Kemudian,

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن لكل قوم عيدا ، وهذا عيدنا

Setiap kaum memiliki ‘Id sendiri dan ‘Idul Fithri ini adalah ‘Id kita (kaum muslimin)” (HR. Bukhari no. 952, 3931, Muslim no. 892).

Dan juga,

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim.)

 

Larangan dari Shahabat dan Generasai Salaf tentang Perayaan Orang Kafir

Umar bin Khathab radhiallahu’anhu juga mengatakan:

اجْتَنِبُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ فِي عِيدِهِمْ

Jauhi perayaan hari-hari raya musuh-musuh Allah” (HR. Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir no. 1804, dengan sanad hasan.)

Selain itu juga,

Abdullah bin Amr bin Ash juga berkata:

من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة

“Barang siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”

Hari Raya Nairuz dan Mihrajan adalah hari raya kaum Majusi yang kafir kepada Allah. Dan, hal ini ditegaskan bagi kaum muslimin yang tinggal diwailayah Majusi zaman dahulu, seandanya mereka ikut-ikutan merayakan tersebut maka dia akan rugi, yakni dia akan menyesal akan kemusyrikan yang ia lakukan kelak di Yaumil Qiyyamah.

Kemudian perkataan dari Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullahu

……….وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول: عيد مبارك عليك ، أو تهْنأ بهذا العيد ونحوه

“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal dan selamat tahun baru imlek, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” ….. (Lihat: Kitab Ahkam Ahli Dzimmah Juz 1 : 441.)

Kesimpulan Tulisan

Dari semua yang sudah kita baca bersama, maka kini penulis akan memberikan kesimpulan terkait hal ini. Yakni, apabila  ada seorang muslim yang ikut andil dalam merayakan Imlek, maka ia akan langsung menjadi seorang murtadin. Sehingga, kami nasihatkan kepada siapa saja diantara mereka yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wassalam dan kemudian mereka merayakan pernah atau usai merayakan Imlek, hendaklah bertaubat dengan taubatan nasuha beserta memperbaharui syahadatnya kembali.

Sebuah perayaan Imlek yang megah dan terkesan menghamburkan-hamburkan uang untuk hal yang tidak perlu, (Baca: Boros)

Semoga dari sedikit tulisan penulis yang begitu singkat ini dapat memberikan manfaat atau pencerahan kepada para pembaca Islamkafah.com sekalian. Dan, semoga Allah senantiasa menambahkan keimanan dan keilmuan kepada kita, memberikan petunjukNya, serta melimpahkan taufiq-Nya.

Amin yaa Rabbal ‘alamin – Barakallahu fiikum. (aus) []

Reverensi dan daftar pustaka:
%d bloggers like this: