Ibadah, Muamalah, FIQIH — February 7, 2018 at 17:59

Nistanya Menjadi Pengemis, Mulianya Menjaga Kehormatan Diri dari Meminta

by
Nistanya Menjadi Pengemis, Mulianya Menjaga Kehormatan Diri dari Meminta

Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 6470 dan Muslim no. 1053 )…

 

SUDAH menjadi pemandangan yang biasa di zaman sekarang ini, pengemis berkeliaran di jalan raya, berkeliaran dari rumah ke rumah, dari toko ke toko atau yang lainya. Bahkan beberapa penelitian mengatakan, mayoritas mereka menjadikan pengemis sebagai mata pencarian nafkah setiap harinya. Naudzubillah.

Di sisi lain kita sering menyaksikan para pejuang yang tetap tegar dalam menjaga kehormatan diri dengan tetap bekerja dengan cara yang halal, meski jualan sudah tak selaris penjual lainya. Mereka tetap memilih untuk berkarya dan pantang untuk mengemis. Subhanallah.

Persaingan hidup yang semakin tinggi dan keras banyak memunculkan perilaku umat yang melanggar batasan syariat. Bila perbuatan suka meminta-minta sudah bisa menyebabkan kemuliaan seseorang jatuh, maka yang lebih berat dari sekadar meminta-minta, seperti korupsi, mencuri, merampok, dsb. Lebih menghinakan pelakunya.

Namun toh perbuatan tersebut semakin banyak dilakukan. Termasuk maraknya perilaku kaum wanita, hanya demi menginginkan enaknya hidup, mereka rela melakukan perbuatan yang menghilangkan kemuliaan mereka. Padahal agama ini telah menuntunkan agar mereka senantiasa menjaga kemuliaan diri mereka.

 Kewajiban Menahan diri dari Mengemis

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ

Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang berkecukupan karena mereka ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia).” (Al-Baqarah: 273)

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa orang-orang dari kalangan Anshar pernah meminta-minta kepada Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun dari mereka yang minta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan beliau berikan hingga habislah apa yang ada pada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada mereka ketika itu:

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لا أدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّه مَنْ يَسْتَعِفّ يُعِفّه اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرُ يُصَبِّرَهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 6470 dan Muslim no. 1053 )

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan selainnya dari kesulitan (perkara yang tidak disukai) di dunia.” (Syarah Shahih Muslim, 7/145)

Kedua hadits ini menerangkan kepada kita bahwa meminta-minta hanya dibenarkan pada sebagian orang saja dan bukan semua orang. Ada orang-orang tertentu yang boleh mengemis. Orang yang tidak berhak mengemis akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan tidak memiliki daging di wajahnya…”

Menjadi Pengemis adalah perbuatan Hina

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( إِنَّالْمَسْأَلَةَكَدٌّيَكُدُّبِهَاالرَّجُلُوَجْهَهُإِلاَّأَنْيَسْأَلَالرَّجُلُسُلْطَانًاأَوْفِىأَمْرٍلاَبُدَّمِنْهُ.))

“Sesungguhnya meminta-minta adalah cakaran yang seseorang mencakar sendiri wajahnya, kecuali seseorang yang meminta kepada pemimpin atau pada urusan yang harus untuk meminta.” [1]

(( مَايَزَالُالرَّجُلُيَسْأَلُالنَّاسَحَتَّىيَأْتِيَيَوْمَالْقِيَامَةِلَيْسَفِيوَجْهِهِمُزْعَةُلَحْمٍ.))

“Senantiasa seseorang meminta-minta kepada manusia, sampai nanti di hari kiamat wajahnya tidak memiliki daging sedikit pun.”[2]

Kedua hadits ini menerangkan kepada kita bahwa meminta-minta hanya dibenarkan pada sebagian orang saja dan bukan semua orang. Ada orang-orang tertentu yang boleh mengemis. Orang yang tidak berhak mengemis akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan tidak memiliki daging di wajahnya. Hal ini menunjukkan orang tersebut benar-benar hina dan tidak memiliki rasa malu.

Jauhi sifat mengemis dan jagalah kehormatan

Umat Islam wajib yakin bahwa Allah akan selalu memberikan rizki kepada hambanya, terlebih kepada orang yang selalu bertaqwa. Dari dalil ada, maka wajiblah umat Islam menjaga diri dan menjauhi amalan mengemis dan wajibnya menjaga kehormatan diri. Karena Allah akan muliakan setiap orang yang menjaga diri dari mengemis. Semoga Allah selalu memberkahi kita semua. Aamiin. Wallahu ‘alam bish shawab.*

 


Sumber: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2016/02/24/42450/nistanya-menjadi-pengemis-mulianya-menjaga-kehormatan-diri-dari-meminta/#sthash.J2fPqpOX.dpbs

%d bloggers like this: