AQIDAH-AKHLAQ — August 17, 2020 at 22:30

Merdeka yang Sesungguhnya adalah….

by
Merdeka yang Sesungguhnya adalah….

Merdeka yang Sesungguhnya adalah Bebas dari Kesyirikan dan Hanya Beribadah Kepada Allah Saja.

Merdeka yang Sesungguhnya adalah terbebasnya manusia dari peribadatan yang menyekutukan Allah, dan bebas dari segala bentuk kesyirikan yang menggerogoti hati manusia.

Masih banyak umat Islam yang terjajah dari peribadatan kepada selain Allah karena ulah dari musuh-musuh Allah yang ingin membuat manusia menjadi hamba makhluk bukan hamba Allah yang maha pencipta.

Allah berfirman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman yang telah Dia perintahkan agar mereka memusuhi orang-orang kafir, memerangi mereka, menjauhi mereka, dan berlepas diri dari mereka.

{قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ}

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya. (Al-Mumtahanah: 4)

Yakni para pengikutnya yang beriman kepadanya.

{إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ}

ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu.” (Al-Mumtahanah: 4)

Maksudnya, kami adalah orang-orang yang berlepas diri dari kalian.

{وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ}

dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu. (Al-Mumtahanah: 4)

Yaitu kami ingkari agama dan cara kalian.

{وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا}

dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya. (Al-Mumtahanah: 4)

Artinya, telah diperintahkan adanya permusuhan dan kebencian mulai dari sekarang antara kami dan kalian, selama kalian masih tetap dalam kekafiran kalian. Maka selamanya kami berlepas diri dari kalian dan benci kepada kalian.

{حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ}

sampai kamu beriman kepada Allah saja. (Al-Mumtahanah: 4)

Yakni sampai kamu mengesakan Allah dan menyembah-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan kalian tinggalkan semua berhala dan sekutu yang kamu sembah selain Dia.

Firman Allah Swt.:

{إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ}

Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu.” (Al-Mumtahanah: 4)

Yaitu bagi kamu terdapat suri teladan yang baik pada Ibrahim dan kaumnya yang dapat kalian ikuti, kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya.

Karena sesungguhnya hal itu hanyalah semata-mata karena Ibrahim telah berjanji kepada bapaknya akan memohonkan ampunan baginya kepada Allah. Tetapi setelah jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka berlepas dirilah ia dari perbuatan bapaknya.

Demikian itu karena pada asal mulanya ada sebagian kaum mukmin yang mendoakan bagi bapak-bapak mereka yang telah mati dalam kemusyrikannya. Dalam doanya itu mereka memohonkan ampunan bagi bapak-bapak mereka, dengan alasan bahwa Nabi Ibrahim pun pernah memohonkan ampunan bagi bapaknya. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya:

{مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ}

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At-Taubah: 113-114)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

{قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ}

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu.” (Al-Mumtahanah: 4)

sampai dengan firman-Nya:

{إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ}

Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Al-Mumtahanah: 4)

Yakni dalam hal ini tiada suri teladan bagi kamu, yaitu memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, dan Ad-Dahhak serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Kemudian Allah menceritakan tentang perkataan Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia saat mereka memisahkan diri dari kaumnya dan berlepas diri dari mereka, lalu mereka berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya dengan penuh rendah diri. Sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:

{رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ}

Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. (Al-Mumtahanah: 4)

Yakni Kami bertawakal kepada Engkau dalam semua urusan kami, dan kami serahkan kepada Engkau semua urusan kami dan kami berserah diri kepada Engkau dalam semua urusan kami.

{وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ}

dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. (Al-Mumtahanah: 4)

Dalam ayat tersebut nabi Ibrahim berlepas diri dari kekafiran orang lain bahkan dari kekafiran ayahnya sendiri. Ini adalah kemerdekaan yang hakiki dimana manusia terbesar dari peribadatan yang menyekutukan Allah, walaupun ada ancaman yang datang bahkan dari kalangan keluarga terdekat sekalipun.

Maka bebaskanlah diri kita dari belenggu kemusyrikan yang mungkin masih ada dalam diri kita dengan banyak mempelajari ilmu tauhid yang Haq, agar kita selamat dari kesyirikan yang membuat kita tidak bisa masuk ke dalam surga.

(AbuAzzam)