KAJIAN, Hikmah — October 16, 2017 at 23:40

Menjadi Seorang Kaya, Merupakan Anugrah dari Allah. Maka, Bersyukurlah!

by
Menjadi Seorang Kaya, Merupakan Anugrah dari Allah. Maka, Bersyukurlah!

Menjadikan kekayaan untuk meraih ridha Allah adalah sebuah karunia yang diberikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki…

Islamkafah.com – Orang-orang yang diberikan kelebihan oleh Allah azza wa jalla sudah seharusnya bersyukur kepada-Nya. Hal ini dikarenakan, dengan kekayaan yang mereka miliki, mereka mudah untuk beramal shalih. Misalnya saja, orang-orang kaya akan lebih mudah dalam menunaikan ibadah Haji, kemudian melakukan amal shalih yang berhubungan dengan infaq, zakat, dan shodaqoh, serta wakaf.

Akan tetapi, menjadi seorang yang miskin dan mampu bersabar bukanlah hal yang buruk. Karena, hidup ini hanyalah sementara saja. Namun, jika seorang miskin tersebut memahami dienullah maka ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh demi meraih kekayaan. Karena, menjadikan kekeyaan sebagai ladang akhirat adalah sebuah karunia dari Allah azza wa jalla.

Ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang bagaimana keutamaan menjadi seorang yang kaya raya namun menggunakan anugrah tersebut untuk meraih ridha Allah azza wa jalla. Mari, kita simak hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata,

ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنَ الأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلاَ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا ، وَيَعْتَمِرُونَ ، وَيُجَاهِدُونَ ، وَيَتَصَدَّقُونَ

“Orang-orang kaya dengan harta selalu mendapatkan kedudukan tinggi dan nikmat yang terus menerus. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami puasa. Mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa pergi berhaji, berumrah, berjihad serta bershodaqoh.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ بِأَمْرٍ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ ، وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ ، إِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ ، وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ

“Maukah kuberitahu pada kalian jika kalian mau mengamalkannya, maka kalian akan mengejar ketertinggalan dari orang-orang kaya dan tidak ada yang mendapati setelah itu. Engkau akan mendapatkan kebaikan lebih dari mereka. Kecuali jika mereka mengamalkan yang semisal. Amalkanlah tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali.”

فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا فَقَالَ بَعْضُنَا نُسَبِّحُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَنَحْمَدُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَنُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ . فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ « تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، حَتَّى يَكُونَ مِنْهُنَّ كُلِّهِنَّ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ »

“Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 34 kali. Aku pun kembali menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau mengatakan, “Berdzikirlah dengan menyebut “subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar” dari setiap dzikir itu 33 kali.” (HR. Bukhari no. No. 843 dan Muslim no. 595)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, dari Abu Shalih yang meriwayatkan dari Abu Hurairah

فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ »

“Orang-orang fakir dari kaum muhajirin kembali pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, “Saudara-saudara kami yang kaya mendengar apa yang kami lakukan. Maka mereka melakukan. ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Demikianlah karunia yang dianugerahkan pada siapa saja yang Allah kehendaki.” (HR. Muslim, no. 595).

Semoga tulisan kami yang sedikit ini dapat bermanfaat. Barakallahu fiikum. (aus) []

%d bloggers like this: