Jihad, FIQIH — April 5, 2017 at 22:25

Mengenal Tiga Pengikat Kemenangan di Dunia dan Akhirat

by
Mengenal Tiga Pengikat Kemenangan di Dunia dan Akhirat

“Suatu ketika para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling utama itu?” Beliau menjawab: “Seorang mukmin yang berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah”. Lalu mereka bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?”, Beliau menjawab:  “Orang mukmin yang menyendiri dalam sebuah syi’ib (celah lembah), beribadat kepada Allah dan menjauhkan diri dari kejahatan manusia”. (HR. Bukhari Muslim)…..

 

 

Unsur Penopang Ribath

Sabar dan taqwa adalah dua penopang utama Ribath karena tidak ada ibadah yang tingkat kesulitannya melebihi Ribath. Pasalnya, ribath itu sepi, menjenuhkan, juga kewaspadaan dan penantian yang tidak pasti batas waktunya. Bisa jadi seorang mujahid tinggal sebulan di atas puncak-puncak gunung atau di dasar lembah. Tak melihat orang lain di sekitar kecuali empat atau lima orang yang berada satu kemah dengannya.

Padahal tabiat hati manusia lebih suka bergaul dengan orang ramai. Suka melihat orang, senang dan merasa terhibur melihat orang-orang yang dikenalnya. Merasa kesepian apabila berada jauh dengan ibunya, bapaknya, familinya, kota kelahirannya, orang-orang yang dicintainya, dan sebagainya. Ia akan merasa kesepian kecuali jika Allah melapangkan dadanya untuk menyenangi ibadah yang tengah dijalaninya.

Oleh karena itulah, Allah ‘Azza wa Jalla berkenan melapangkan dada sebagian orang-orang shalih untuk ber’uzlah. Mereka senang berada jauh dari keramaian manusia untuk ribath, untuk mencari ilmu, untuk berdzikir agar mereka selalu dekat dengan Rabb mereka. Lantas bagaimana jika dzikir, ibadah, ribath, jihad dan khalwat bergabung menjadi satu? amalan apa yang dapat menandinginya?

Ribath atau jihad yang disertai khalwat adalah dua jalan paling utama yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana hal tersebut tertuang dalam isi hadits berikut ini:

قَالَ رَجُلٌ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

“Suatu ketika para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling utama itu?” Beliau menjawab: “Seorang mukmin yang berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah”. Lalu mereka bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?”, Beliau menjawab:  “Orang mukmin yang menyendiri dalam sebuah syi’ib (celah lembah), beribadat kepada Allah dan menjauhkan diri dari kejahatan manusia”. (HR. Bukhari Muslim)

Ribath tegak di atas landasan sabar. Hati yang tidak memiliki kesabaran tidak akan mampu menjalankan ibadah secara konsisten. Hati yang tidak memiliki kesabaran, tidak mempunyai iman yang sempurna. Kedudukan sabar dalam iman tak ubahnya seperti kedudukan kepala bagi anggota tubuh. Sebagaimana tidak ada jasad (anggota tubuh) tanpa kepala, maka demikian juga tidak ada iman tanpa ada sabar.

Seluruh ibadah membutuhkan kesabaran. Mengerjakan shalat malam membutuhkan kesabaran. Bangun di waktu fajar untuk mengerjakan shalat Subuh membutuhkan kesabaran. Shiyam membutuhkan kesabaran. Haji membutuhkan kesabaran. I’dad membutuhkan kesabaran. Semuanya membutuhkan kesabaran dan harus disertai dengan kesabaran.

Sesuatu yang menjadi lawan sabar adalah melampiaskan syahwat. Setiap kali hati menginginkan sesuatu, si empunya hati memberikannya. Jika perut lapar, ia akan makan. Jika hati menginginkan buah-buahan, ia akan membeli dan kemudian memakannya. Jika menginginkan tidur, iapun tidur. Jika hati ingin berkumpul dengan orang, ia akan pergi ke Amerika, ke Eropa, ke Bangkok, ke stadion-stadion olahraga serta ke tempat-tempat lain yang disukainya.

Oleh karena itu, jika seseorang mampu memutuskan syahwatnya, maka ia akan sabar. Apabila ia mampu meninggalkan syubhat (sesuatu yang masih diragukan), maka ia akan yakin. Sebagian besar kesesatan yang menimpa manusia disebabkan oleh syubhat dan syahwat.

Memenuhi syahwat, meskipun terhadap yang halal, akan menyebabkan hati menjadi lembek (tidak tegar), dan membawa kepada sikap negatif seperti: royal, bersenang-senang, bermewah-mewahan, dan senang menikmati kehidupan dunia. Sikap inilah yang diperangi oleh Dienul Islam, karena sikap tadi bertentangan dengan sikap zuhud dan bertentangan dengan sabar yang menjadi landasan jihad. Dan jihad adalah tiang kehidupan ummat.

Hati itu selalu ingin mengikuti syahwat dan syubhat. Oleh karena itu, jika kita mampu melawan hati dengan meninggalkan syahwat,  kita telah menjadi orang yang sabar. Dan jika kita mampu melawan hati dengan meninggalkan syubhat, kita telah menjadi orang yang yakin. Jika sudah demikian, kita telah mulai melangkah di atas jalan para pemimpin agama.

Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami tatkala mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (Qs. As Sajdah : 24)

Sebagaimana ucapan Ibnu Qayyim:

“Imamah fiddien (kepemimpinan dalam agama) tidak akan diberikan kecuali dengan sabar dan yakin”. Kemudian beliau membaca ayat di atas.

Tiadalah manusia menjadi hina, bangsa-bangsa menjadi binasa, tempat-tempat suci diinjak-injak, harta benda dijarah, dan kehormatan dirusak; jika bukan karena ketidaksabaran mereka terhadap syahwat. Wallahu a’lam bi shawab.


Sumber: https://www.kiblat.net/2016/02/05/tiga-pengikat-kemenangan-di-dunia-dan-akhirat/