Manajemen Qalbu, KAJIAN, Hikmah — September 20, 2018 at 08:42

Malas Merupakan Penyakit yang Disukai Syaithan, Namun Syaithan Tidak Pernah Malas Menggoda

by
Malas Merupakan Penyakit yang Disukai Syaithan, Namun Syaithan Tidak Pernah Malas Menggoda

Malas merupakan sebuah penyakit jiwa yang sangat disukai oleh syaithan, karena dengan kita malas maka kesempatan syaitan mendapatkan sahabat di neraka sangan besar, namun pernahkan syaitahn bermalas-malasan dalam menggoda kita?…

 

Islamkafah.com Futur adalah kemalasan dan berleha-leha setelah semangat dan giat. Tidak diragukan lagi, hal itu merupakan penyakit pada diri seseorang pada suatu waktu. Baik dalam masalah agama atau urusan dunia. Hal itu merupakan tabiat yang Allah telah ciptakan. Setiap orang muslim –bahkan setiap manusia- di dapatkan pada dirinya semangat dalam beribadah, berakhlak nan mulia dan (semangat) dalam mencari ilmu dan berdakwah. Kemudian setelah berjalan beberapa waktu, ditimpa kemalasan. Sehingga semangatnya melemah untuk melakukan kebaikan yang telah dilakukannya beralih pada kemalasan dan  ingin istirahat. Setiap orang sesuai dengan kemalasannya akan diperhitungkan. Barangsiapa yang ketika malas sampai meninggalkan kewajiban dan jatuh ke sesuatu yang diharamkan, maka dia dalam bahaya besar. Maka kemalasannya menjadi suatu kemaksiatan, harus dikhawatirkan sampai pada suul khatimah. Kami momohon kepada Allah kebaikan.

Sedangkan jika malas melaksanakan keutaman dan sunnah, tapi  dia tetap menjaga kewajiban, menjauhi dosa besar dan sesuatu yang diharamkan, hanya saja waktu melakukannya (kebaikan) berkurang   seperti dalam mencari ilmu, qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an. Maka kemalasannya seperti itu diharapkan hanya sesaat saja, semoga selesai dalam waktu dekat insyaallah. Akan tetapi memerlukan sedikit cara yang bijaksana dalam mengobatinya. Inilah yang dimaksudkan dalam riwayat Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, dia berkata:

ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِجَالٌ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعِبَادَةِ اجْتِهَادًا شَدِيدًا فَقَالَ : ( تِلْكَ ضَرَاوَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ ؛ وَلِكُلِّ ضَرَاوَةٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ ، فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ وَسُنَّةٍ : فَلِأُمٍّ مَا هُوَ ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى الْمَعَاصِي : فَذَلِكَ الْهَالِكُ ) رواه أحمد (2/165) وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (رقم/2850)

“Diceritakan kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam tentang orang-orang yang sangat semangat sekali dalam beribadah,  maka beliau berkata, “Itulah puncak semangat (pengamalan) Islam dan kesungguhannya. Setiap setiap semangat akan mencapai puncaknya, dan setiap puncaknya akan ada masa kemalasan. Barangsiapa yang waktu malasnya dalam batas wajar dan tetap dalam sunnah, maka dia telah menempuh jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang kemalasannya melakukan kemaksiatan, maka itulah yang celaka.’ (HR. Ahmad, 2/165. Dihasankah oleh Al-Albany dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah, no. 2850)

Ungkapan ‘Faliammin ma huwa’ adalah bisa kembali di waktu kemalasannya kepada asal yang agung yakni (sesuai dengan) sunnah. Atau ia dalam kondisi di jalan yang lurus selagi masih berpegang teguh dengan Al-Kitab dan Sunnah. Dalam sebagian redaksi lain dikatakan, ‘Faqad aflaha (sungguh dia telah beruntung)’.

Rasa malas ini datangnya dari syaithan yang mengajak kita bermalas-malsan dalam hal mengerjakan keta’atan pada Allah, sehingga dia akan memiliki banyka teman nannti di akhirat kelak, namun pernahkah kita berfikir apakah syaitan juga pernah bermalas-malasan dalam menggoda manusia?, jwabannya tentu tidak karena jika syaithan malas menggoda kita mereka tidak akan mendapatkan teman di neraka nanti.

Seharusnya kita tidak terjebak oleh godaan syaithan agar berbuat malas, karena syiathna juga tidak pernah malas, dan jika kita khawatir terjangkit penyakit malas kita bisa mengamalkan sebuah do’a yang diajarkan oleh Rasulullah agar terhindar dari sifat malas.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Wallahu A’lam. (Abd.N)

%d bloggers like this: