AQIDAH-AKHLAQ, Kuliah Aqidah — November 2, 2020 at 07:59

Makna Ibadah dalam Kalimat Laa Ilaaha Ilallah yang Sebenarnya

by
Makna Ibadah dalam Kalimat Laa Ilaaha Ilallah yang Sebenarnya

Kita sebagai umat muslim diperintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah saja tidak kepda yang lain karena itu merupakan bentuk kesyirikan, banyak ayat yang menerangkan agar kita beribadah hanya kepada Allah saja diantaranya yang biasa kit baca dalam surat Al Fatihah “hanya kepada-Mu lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta” kemudian dalam surat Al Isra ayat 23:  “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan Beribadah selain Dia”.

Islamkafah.com – Kita sebagai umat muslim diperintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah saja tidak kepda yang lain karena itu merupakan bentuk kesyirikan, banyak ayat yang menerangkan agar kita beribadah hanya kepada Allah saja diantaranya yang biasa kit baca dalam surat Al Fatihah “hanya kepada-Mu lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta” kemudian dalam surat Al Isra ayat 23:  “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan Beribadah selain Dia”.

Perintah ibadah hanya kepada Allah saja dan itu juga merupakan tauhid atau mengesakan, namun makna ibadah yang sesungguhnya sangat jarang sekali kita bahas, setidaknya ada 3 arti dalam ibadah kepada Allah, yang pertama adalah menyembah, yang kedua patuh yang ketiga yakin.

Kata ilah dalam kalimat laa ilaaha illallah berarti sembahan, yaitu Allah sebagi yang disembah dengan cara kita melaksanakan shalat 5 waktu, seperti orang kafir Quraisy menyemabah berhala, orang Hindu sujud di depan dewa mereka, dan lain sebaginya.

Kata menyembah ini berarti sebuah ritual dengan tujuan ibadah secara langsung kepada Tuhan, dari makna tersebut kita tahu bahwa bentuk ritual apa saja dengan tujuan ibadah dan itu bukan untuk Allah maka itu adalah terlarang dan dapat membawa kemurtadan.

Kemudian makna ibadah yang selanjutnya adalah patuh, kita hanya diwajibkan tunduk dan  patuh kepada Allah saja tidak boleh tunduk pada yang lainnya Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 31: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Ayat ini turun karena orang Nasrani menghalalkan apa yang Allah haramkan karena alasan itu adalah perintah rahib mereka, padahal yang disamapaikan oleh rahib mereka adalah sesat. Jadi kita hanya boleh mentaati manusia selama itu tidak bertentangan dengan hukum Allah, dan jika kita mentaati manusia dalam hal hukum yang bertentangan dengan hukum Allah maka itu adalah bentuk ibadah terhadap manusia dan itu juga membawa kita pada kemurtadan.

Makna yang ketiga adalah yakin, orang yang yakin kepada benda yang bisa mendatangkan manfaat dan madharat saja sudah dikatakan musyrik, yang datang kepada dukun saja shalatnya tidak di terima 40 hari oleh Allah, sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

 مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan. Hadits ini dishahihkan Syikah al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 3047 dan al-Irwa’)

Jadi yakin disini kita harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa perintah dan petunjuk yang datang dari Allah pasti benar dan tidak ada suatu hukum atau aturan yang lebih baik dari hukum dan aturan Allah.

Dari tiga makna ibadah inilah kita bisa menjaga diri kita agar tidak terjerumus ke lembah kesyirikan dan kekufuran dan hanya Allah lah yang berhak diibadahi bukan yang lain. (And.N)