Jihad, FIQIH — April 5, 2017 at 23:05

Kolaborasi Ilmu dan Amal dalam Ilmu Jihad Fii Sabilillah

by
Kolaborasi Ilmu dan Amal dalam Ilmu Jihad Fii Sabilillah

Syaikh Umar bin Mahmud Abu Umar Abu Qatadah Al-Filasthiniy dalam tulisannya “Risalatun li Ahli Al-Jihad bi Asy-Syam” menyebut kerakusan terhadap kepemimpinan adalah Daa’ An-Nafs (penyakit jiwa). Penyakit yang sekiranya seorang benar-benar bertaqwa kepada Rabb-nya dan dia beramal untuk akhirat, bukan untuk memperoleh harta dan kepemimpinan dunia, selalu mengingat kematian dan kehidupan setelahnya…..

 

 

حدَّثنا سويد بن نصر، أخبَرنا عبدالله بن المبارك، عن زكريا بن أبي زائدة، عن محمد بن عبدالرحمن بن سعد بن زُرَارة، عن ابن كعب بن مالك الأنصاري، عن أبيه قال: قال رسولُ الله – صلَّى الله عليه وسلَّم -: ما ذئبان جائعان أُرسِلا في غنَمٍ، بأفسَدَ لها من حِرص المرء على المالِ والشرف لدينه

Dari Zakaria bin abi Zaidah dariMuhammad bin Abdurrahman bin Sa’id bin Zurarah dari Ka’ad bin Malik Al-Anshari dari Ayahnya : Rasulullah bersabda, “Tidaklah dua ekor serigala lapar dilepaskan ke dalam kandang domba lebih merusak dibandingkan rusakanya dien (agama) seseorang akibat rakusnya terhadap harta dan kepemimpinan.”(Imam Tirmidziy, ia berkata “Hadist Hasan Shahih”)

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat gamblang kepada kita akan bahayanya sifat rakus terhadap harta dan kepemimpinan. Sifat ini dapat menimbulkan efek kerusakan terhadap diennya, dimisalkan dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala lapar yang dilepas ke dalam domba yang dikandang, atau bahkan lebih dari itu kerusakannya.

Tamak Kepemimpinan dalam Jihad

Jihad sebagai puncak dari dien ini adalah amalan yang paling dirindukan setiap muslim. Akan tetapi, setan akan tetap menghembuskan godaan dahsyatnya kepada para mujahidin. Salah satunya adalah godaan harta dan haus akan kepemimpinan. Kedua hal ini jika dilakukan seorang muslim atau mujahid, maka akan merusak “ilmu nafi” dan amal sholihnya.

Lebih mengerucut dalam kancah jihad, kerakusan pada harta dan kedudukan berimplikasi pada keinginan untuk meraih legitimasi secara siyasah (politik) untuk mendapatkan hak ketundukan. Untuk meraih legitimasi siyasiy tersebut kadang sampai menumpahkan darah saudara muslim, bahkan sesama mujahid, yang darahnya dilindungi syariat.

Ini merupakan fitrah seorang manusia yang lebih suka memerintah daripada diperintah. Begitu halusnya hembusan godaan syetan kepada para mujahid. Digoda dari berbagai celah yang dapat dimasuki. Hingga darah seorang muslim pun tertumpah dengan murahnya. Padahal terhadap orang musyrik yang bertaubat, diikuti dengan menegakkan shalat danmembayar zakat, orang seperti ini dilarang diperangi karena kedudukannya seperti saudara seiman.

فَإِن تَابُوا۟ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخْوَٰنُكُمْ فِى ٱلدِّينِ

Artinya : “Jika mereka bertobat, mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At-Taubah : 11)

Syaikh Umar bin Mahmud Abu Umar Abu Qatadah Al-Filasthiniy dalam tulisannya “Risalatun li Ahli Al-Jihad bi Asy-Syam” menyebut kerakusan terhadap kepemimpinan adalah Daa’ An-Nafs (penyakit jiwa). Penyakit yang sekiranya seorang benar-benar bertaqwa kepada Rabb-nya dan dia beramal untuk akhirat, bukan untuk memperoleh harta dan kepemimpinan dunia, selalu mengingat kematian dan kehidupan setelahnya.

Syubhat dan Buah Jihad di Suriah, Hasil Usaha Bersama

Abu Qotadah juga mengatakan bahwa tanaman jihad di Suriah, sekalipun para mujahidin yang sekarang ini dimuliakan sebagai pelakunya bukanlah hasil dari usahanya sendiri. Banyak para pelopor maupun perintis yang telah mendahuluinya. Mereka berkolaborasi untuk menggapai pahala jihad di Suriah dimana mereka telah syahid dan tak banyak umat Islam yang mengenalnya.

Mulai Abdussalam Faraj—penulis risalah Al-Faridhah Al-Ghaibah, Syaikh Usamah bin Ladin Rahimahullah dan masih banyak lagi baik yang dikenal ataupun namanya tenggelam oleh waktu hingga hari ini. Jujur, betapa banyak muslim di berbagai belahan dunia yang raganya di tanah dia berpijak, tetapi hatinya berada di Suriah. Ketika mereka mampu berkontribusi untuk jihad Suriah pun akhirnya mendapat berbagai cobaan dan cabaran yang tak sedikit.

Karena itu, ulama Palestina ini menilai mujahidin yang memandang mujahidin lainnya dengan mata memicing, meremahkan, menganggap lebih rendah dan merasa memiliki hak untuk diikuti bahkan mengancam dengan senjata untuk mendapatkan ketaatan, sebagai pengidap “penyakit jiwa”. Penyakit jiwa ini menjangkiti jiwa yang sakit karena kurangnya sentuhan tarbiyah-imaniyah.

Tarbiyah yang memompa semangat dan tidak menyinarinya terus menerus dengan cahaya ilmu, jenuh dan tak sabar melihat keruwetan problem umat dan ingin keluar secepatnya dari belenggu persoalan. Ternyata “niat baik” untuk menyelesaikan masalah umat dengan cepat ini tanpa disadari justru menjadi tambahan problem yang ada.

Syubhat dalam Jihad

Kabut syubhat menyelebungi dalam masalah yang dihadapi umat Islam di Suriah, khususnya berkaitan dengan hubungan antara sesame mujahidin. Al-Muhaisiniy mencermati dalam penilaiannya setiap ada nasehat dari arah manapun, bahkan dari ulama sekaliber Syaikh Aiman, Syaikh Al-Maqdisiy dll selalu muncul bantahan dan upaya untuk merendahkan nasehat dan pemberi nasehat.

Bantahan itu terjulur dari orang-orang tidak diketahui kadar keilmuannya disertai dengan sikap arogan. Keheranan Al-Muhaisiniy ini beralasan, pasalnya para ulama tersebut telah sedemikian alamnya melanglang buana di dunia jihad. Bahkan mereka dipenjara dan tak sedikit siksaan yang diterima tetapi para ulama mujahid ini direndahkan dan dituduh telah berubah manhaj. Kesenioritasan seolah hilang ditelan bumi digantikan arogansi yang mendominasi diri.

Ada persepsi yang berbeda terhadap manhaj Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang dipahami para ulama senior dengan persepsi para pembantah. Untuk menguatkan itu para pembantah menyandarkan pilihan sikap dalam memahami manhaj kepada Syaikh Usamah bin Ladin Rahimahullah yan telah wafat. Penyandaran yang ditolak dan dinafikan para mujahidin senior yang menghabiskan waktunya berkawan dalam jihad dengan bin Ladin.

Persepsi manhaj Ahlu Sunnah di tingkat lanjut, ketika manhaj ini berta’amul dengan waqi’ yang dipandu oleh para ulama senior itu tidak mampu dijangkau oleh para junior yang hanya bermodalkan semangat tetapi kurang memperhatikan ilmu. Untuk menutupi kelemahannya mereka menuduh para senior telah berubah manhaj.

Ketika Abu Qotadah menasehati bahwa uang merusak jihad di Suriah adalah mabuk kepemimpinan, nasehat itu tentu saja bak petir yang menggelegar di kepala. Karena mereka tidak merasa melakukan itu karena rakus kepada kekuasaan dan kepemimpinan.

Kita cermati rilis dari Abu Muhammad Al-Adnaniy yang mengatakan bahwa deklarasi khilafah bukan karena mabuk kepemimpinan, langkah itu tidak dapat ditunda sesaatpun karena menurutnya syaratnya sudah terpenuhi “tanpa ada musyawarah dengan yang lain”. Musyawarah menurutnya hanya akan menunda-nunda deklarasi saja. Dalam persepsinya bahwa langkah itu disegerakan justru karena alasan supaya mendapat ridha Allah dengan mengutip ayar perkataan nabi Musa,

وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَىٰ

Artinya : “Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau rida (kepadaku)”. (QS.Thaahaa:84)

Menjaga Kebersihan Tashawwur

Kebersihan tashawwur terbukti sangat diperlukan dalam setiap amal tak terkecuali jihad. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menempatkan pembinaan untuk membersihkan tashowwur ini pada maraatib besar jihad yang kedua, yakni Jihadu Asy-Syaithan. Dalam rincian berarti martabat yang kelima, Daf’u Syubuhat berurutan dengan Daf’u Syahawat. Sebab jika hal itu diabaikan akibatnya perkara-perkara yang oleh para ulama dipandang bahaya merupakan sebab perpecahan, justru dianggap sebagai perkara yang disangka dengannya akan meraih ridha Allah.

Benarlah Syaikh Aiman yang dalam taujihat ‘ammahnya—Dzulqa’dah 1434 H—menasehati agar upaya jihad pada sisi dakwah harus berusaha memunculkan kafa’ah ilmiyah di tengah-tengah tho’ilah mujahidah. Tujuannya agar orang-orang berilmu ini mampu—dengan izin Allah—menjaga ketulusan dan kelurusan perjuangan jihad, sehingga buah-buah jihad benar-benar dapat dipetik untuk ‘izzul Islam wa muslimin.


Sumber: https://www.kiblat.net/2014/11/11/kolaborasi-ilmu-dan-amal-dalam-jihad/