AQIDAH-AKHLAQ, Kuliah Aqidah, Kuliah Akhlaq — November 11, 2020 at 06:18

Kisah Ahli Ibadah yang masuk Neraka karena Mendoakan Saudaranya agar Tidak Masuk Syurga

by
Kisah Ahli Ibadah yang masuk Neraka karena Mendoakan Saudaranya agar Tidak Masuk Syurga

Maka Allah s.w.t berfirman kepada orang yang berdosa, “Pergilah, dan masuklah ke dalam syurga kerana rahmat-Ku.” Sedangkan kepada yang lainnya Allah S.w.t berfirman, “Apakah kamu merasa alim, apakah kamu mampu meraih apa yang ada di tangan kekuasaan-Ku? Bawalah dia ke dalam neraka!”

Islamkafah.com – Kebencian terhadap maksiat itu merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman, namun kita jangan pernah mendo’akan atau mengatakan kepada ahli maksiat bahwa mereka tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah padahal Allah maha pengampun atas hamba-Nya, ada sebuah kisah yang menarik dalam hal ini, yang dikisahkan oleh Imam Ahmad.

Imam Ahmad mengatakan: telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, dari Damdam ibnu Jausy al-Yamami yang mengatakan bahawa Abu Hurairah pernah berkata kepadanya, “Hai Yamami, jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap seseorang “semoga Allah tidak mengampunimu” atau “semoga Allah tidak memasukkan mu ke dalam syurga.”

Aku (Yamami) berkata, “Hai Abu Hurairah, sesungguhnya kalimah tersebut biasa dikatakan oleh seseorang terhadap saudaranya dan temannya jika dia dalam keadaan marah.”

Abu Hurairah berkata, “Jangan kamu katakan hal itu, kerana sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda yaitu;

“Dahulu di kalangan umat Bani Israil terdapat dua orang lelaki; salah seorangnya rajin beribadah, sedangkan yang lainnya zalim terhadap dirinya sendiri (ahli maksiat); keduanya sudah seperti saudara. Orang yang rajin ibadah selalu melihat saudaranya berbuat dosa dan mengatakan kepadanya, “Hai kamu, hentikanlah perbuatanmu.”

Tetapi saudaranya itu menjawab, “Biarlah aku dan Tuhanku, apakah kamu ditugaskan untuk terus mengawasiku?” Hingga pada suatu hari yang rajin beribadah melihat saudaranya ahli maksiat itu melakukan suatu perbuatan dosa yang menurut penilaiannya sangat besar. Maka dia berkata kepadanya, “Hai kamu, hentikanlah perbuatanmu.” Dan orang yang ditegurnya menjawab, “Biarlah aku, ini urusan Tuhanku, apakah engkau diutuskan sebagai pengawasku?” Maka yang rajin beribadah berkata, “Demi Allah, semoga Allah tidak memberi ampunan kepadamu, atau semoga Allah tidak memasukkanmu ke syurga untuk selama-lamanya.”

Abu Hurairah melanjutkan kisahnya, Bahwa setelah itu Allah mengutus seorang malaikat untuk mencabut nyawa kedua orang tersebut, dan keduanya berkumpul di hadapan Allah. Maka Allah berfirman kepada orang yang berdosa, “Pergilah, dan masuklah ke dalam syurga kerana rahmat-Ku.” Sedangkan kepada yang lainnya Allah berfirman, “Apakah kamu merasa alim, apakah kamu mampu meraih apa yang ada di tangan kekuasaan-Ku? Bawalah dia ke dalam neraka!”

Nabi bersabda, “Demi Tuhan yang jiwa Abul Qasim berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya orang tersebut (yang masuk neraka) benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.”

Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui hadits Ikrimah ibnu Ammar, Bahwa Damdam ibnu Jausy menceritakan kepadanya dengan lafaz yang sama.

[Imam Ibnu Katsir – Tafsir Ibnu Katsir, Surah an-Nisaa’, ayat 47 – 48]

Bayangkan, jika ahli ibadah yang mendoakan sedemikian terhadap saudaranya pun sudah dimasukkan ke neraka, apa lagi kalau ucapan itu dibuat oleh bukan ahli ibadah. Na’udzu billahi min dzaalik.

Semoga kita tidak sombong dengan ilmu dan amal kita. Karena ilmu dan amal adalah untuk mendapatkan Keridhoan Allah dan lebih mengenali-Nya, bukannya untuk bermegah-megah dan merasa takjub pada diri.

Dan hendaknya kita selalu berusaha untuk mengajak orang-orang untuk berbuat kebaikan tanpa harus mendo’akan kejelekan atas mereka. (AN)