Khutbah Jum'at, KHUTBAH — June 15, 2018 at 08:41

Khutbah Jum’at: Beriman Pada Kitab Allah

by
Khutbah Jum’at: Beriman Pada Kitab Allah

BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

إنّ الحمد لله نستعينه و نستغفره. و نعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيّئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضلّ له و من يضلل فلا هادي له. و أشهد أن لا إله إلّا الله و أشهد أن محمّدا عبده و رسوله. (سنن الترمذي ٢ : ٢٨٥). و الصلاة و السلام  على نبيّنا محمّد و على أله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أمّا بعد، فيا عباد الله! أوصيكم و نفسي بتقوى الله و طاعته لعلّكم تفلحون. قال الله تعالى في القران الكريم. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ.

Kaum muslimien yang berbahagia

Dalam kesempatan ini saya mengajak para jama’ah untuk mengingat kembali rukun iman ketiga, yaitu iman kepada kitab-kitab Allah. Allah swt. berfirman:

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ (البقرة : ٢٨٥)

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali” (QS. 2 : 285)

Iman kepada kitab-kitab Allah meliputi 4 unsur, yaitu:

  1. Mengimani bahwa kitab-kitab Allah itu benar-benar diturunkan dari Allah.
  2. Mengimani nama-nama kitab Allah itu sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu: suhuf Ibrahim, suhuf Musa, Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.
  3. Mengimani seluruh berita yang benar dari kitab-kitab sebelum Al-Qur’an, yakni sebelum kitab-kitab tersebut dirubah atau diselewengkan, dan mengimani seluruh berita Al-Qur’an serta mengamalkan segala ajarannya.
  4. Mengimani bahwa Al-Qur’an itu sebagai penguji terhadap kebenaran kitab-kitab terdahulu dan bahwa Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an:

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ (المائدة : ٤٨)

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. (QS. 5 : 48)

 إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ (الحجر : ٩)

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. 15 : 9)

Adapun kitab-kitab yang disebut-sebut sebagai Taurat, Zabur/Mazmur dan Injil yang merupakan bagian dari kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang ada sekarang ini bukanlah kitab-kitab Taurat, Zabur dan Injil yang diturunkan Allah. Isi kitab-kitab tersebut banyak mengandung pertentangan satu sama lain dan banyak yang bertentangan dengan pokok-pokok aqidah, syari’ah dan akhlaq yang diajarkan oleh para nabi dan rasul yang menerima kitab Taurat, Zabur dan Injil itu dari Allah swt.

Banyak diantara pemimpin agama penganut kitab Taurat dan Injil sekarang berkata, “Kalau memang Alkitab yang sekarang ini tidak asli, lalu mana yang asli. Darimana orang tahu asli atau tidak, kalau tidak ada yang asli untuk membandingkannya”.

Untuk mengetahui asli atau tidaknya kitab mereka, tidak perlu membandingkannya dengan kitab aslinya yang memang sudah tidak ada lagi, tetapi cukup dengan pernyataan kitab mereka sendiri yang mereka anggap asli itu. Di dalam kitab Taurat mereka yang ada sekarang ini disebutkan: “Bagaimanakah kamu berani berkata: Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat TUHAN? Sesungguhnya, pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi bohong”.

Ayat ini dibacakan oleh Nabi Yeremia pada masa pemerintahan raja Israel Yoyakim sekitar tahun 605 SM. Ini artinya, sejak tahun 605 SM atau bahkan sebelumnya orang Yahudi sudah tidak memiliki Taurat yang asli

Demikian pula halnya dengan Injil. Ketidak-aslian Injil disiratkan oleh Injil itu sendiri. Injil Markus menyebutkan:

  1. “Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mark 1 : 14-15)
  2. “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.(15) Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,(17) Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”.(20) (Mark 16: 15,17,20).
  3. “Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Mark 3 : 14)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Injil itu sudah ada di zaman Nabi Isa dan Nabi Isa menerimanya dari Allah. Nabi Isa mengangkat 12 orang muridnya untuk mengajarkan Injil itu kepada ummatnya. Nama Injil itu adalah Injil Allah, bukan Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes seperti yang ada sekarang, yang ditulis puluhan tahun sesudah Nabi Isa tidak berada di bumi ini lagi.

Ajaran Injil yang diajarkan oleh murid-murid Nabi Isa itu diteruskan oleh jemaat-jemaat kecil, yang keadaannya seperti mazhab Yahudi saja, sebab mereka mengunjungi baitullah serta taat kepada hukum Taurat Musa. Perbedaannya dengan orang Yahudi hanya karena mereka percaya kepada Nabi Isa sebagai Almasih. Kemudian mereka meninggalkan Yerusalem menuju Pella, sebelah timur sungai Yordan. Mereka disebut kaum Ebionit. Mereka menolak ajaran Paulus. Injil mereka disebut “Injil Orang-Orang Ibrani”. Kelompok ini telah punah sejak abad ke-7. (Lihat, Dr. H. Berkhof – Dr. I. H. En Klaar, “Sejarah Gereja” : 7, 9).

Setelah Nabi Isa tidak berada di bumi ini lagi, maka muncullah Paulus, seorang yang tadinya sangat memusuhi pengikut-pengikut Nabi Isa, tetapi kemudian dia menyatakan diri sebagai pengikut Nabi Isa dan mengaku mendapat Injil langsung dari Nabi Isa, padahal selama hidupnya belum pernah bertemu dengan Nabi Isa. (Henry H. Halley, “Penuntun Ke Dalam Perjanjian Baru” : 178).

Paulus berkata: “Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.” (Gal 1 : 11-12).

Kemudian dia menyalahkan Injil yang telah diajarkan oleh pengikut-pengikut Nabi Isa, seolah-olah Injilnya dia saja yang benar. Dia menuduh orang lain memutarbalikkan Injil, padahal dialah yang memutarbalikkan Injil. Dia berkata: “Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia: kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin. Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” (Gal 1 : 1-8).

Di dalam kalangan Kristen pengaruh Paulus luar biasa sehingga Teologi Kristen versi Pauluslah yang mewarnai Injil yang ada sekarang ini. Mengenai keberadaan naskah asli kitab Injil yang ada sekarang, Henry H. Halley mengatakan: “Naskah-naskah asli daripada semua kitab dalam Perjanjian Baru, sebegitu jauh diketahui telah hilang” (“Penuntun Ke Dalam Perjanjian Baru” : 384).

Dengan demikian mereka tidak mempunyai kitab suci yang asli lagi, dan di dalam kalangan mereka pun tidak ada penghafal kitab suci. Berbeda dengan Al-Qur’an, naskah aslinya masih ada, penghafalnya juga sangat banyak sekali di seluruh dunia, sehingga tetap terjaga keasliannya dan dijamin oleh Allah swt..

Sedangkan mengenai pemalsuan Taurat dan Injil, Al-Qur’an menyebutkannya di dalam surah Al-Baqarah ayat 75 dan 79 dan surah Ali Imran ayat 78.

۞أَفَتَطۡمَعُونَ أَن يُؤۡمِنُواْ لَكُمۡ وَقَدۡ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَسۡمَعُونَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُۥ مِنۢ بَعۡدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ٧٥

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (QS. 2 : 75)

فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَٰبَ بِأَيۡدِيهِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلٗاۖ فَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ ٧٩

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan” (QS. 2 : 79)

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقٗا يَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ٧٨

“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui”. (QS. 3 : 78).

Oleh karena itu hendaklah kita waspada terhadap upaya pemurtadan yang mereka lancarkan terhadap kaum muslimin. Jangan sampai tergiur oleh tipu daya mereka. Ingat firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ٥

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah” (QS. 35 : 5).

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ١٩٦ مَتَٰعٞ قَلِيلٞ ثُمَّ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ ١٩٧

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya” (QS. 3 : 196-197).

بارك الله لي و لكم إنه هو الغفور الرحيم.


sumber: Khutbah Jum’at ust Abu ‘Amr

%d bloggers like this: