Tarbiyatul Aulad, MUSLIMAH — July 24, 2017 at 21:22

Kewajiban Kaum Muslimin untuk Memperhatikan Perkara Birul Walidain dengan Sungguh-sungguh!

by
Kewajiban Kaum Muslimin untuk Memperhatikan Perkara Birul Walidain dengan Sungguh-sungguh!

Setiap kaum muslimin yang beriman kepada Allah azza wa Jalla, pasti akan sangat sadar betul tentang kewajibannya mematuhi segala perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangannya. Dan, diantara perintah dan larangan Allah kepada hamba-Nya adalah bagaimana menjaga sikap kita sebagai anak kepada orang tuanya…

(Islamkafah.com) – Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada orang tua, pun melarang berbuat keburukan yang bisa membuat orang tua kita murka. Karena, ridha orang tua adalah ridha Allah azza wa Jalla. Bahkan, meskipun kedua orang kita seorang yang terlahir cacat kita tidak boleh memakinya, mempermalukannya. Akan tetapi wajib bagi kita menyayanginya, menghormatinya, dan memuliakannya.

Dan, meskipun Allah azza wa jalla menjadikan orang tua kita seorang yang Kafir, tetap wajib bagi kita berbuat baik kepadanya, mengikuti segala perintahnya (hanya kepada yang ma’ruf) yang tidak bertentangan terhadap perintah Allah Ta’ala.

Allah Azza wa Jalla, berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمً

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia…..” (Q.S Al-Isra’ : 23)

Dan, juga firman Allah Azza wa Jalla,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Al-Luqman : 14)

Kedua ayat di atas, dengan tegas dan jelas memerintahkan kita sebagai umat Allah Azza wa Jalla untuk berbuat baik kepada orang tua kita denga semaksimal mungkin. Dan, memberikan apa yang terbaik kepada mereka, dan menyisakan yang lain untuk diri kita sendiri dan keluarga kita. Inilah bentuk kasih sayang dan bakti yang agung, serta tulus ikhlas. Dan, jangan pula kita lupa meminta kepada Allah agar Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ridho-Nya dengan sebab perantara kebaktian kita kepada orang tua kita.

Ada sebuah Hadits shahih yang menjelaskan tentang bagaimana kita harus berbuat baik kepada ibu dan bapak kita. Ketika ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wassalam- “Siapakah orang yang paling berhak untuk aku paling berbuat baik kepadanya?” Beliau –Shallallahu alaihi wassalam- menjawab, “Ibumu”. Orang itu kemudian bertanya kembali, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Ayahmu” (HR. Bukhari & Muslim)

Juga, Rasulullah –Shallallahu alaihi wassalam- bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُم بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلاَثًا قُلْنَا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ : أَلأِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّوُرِ، فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا : لَيْتَهُ سَكَتَ

Maukah aku beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, ‘Baiklah, ya Rasulullah’, bersabda Nabi. “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong”. Maka Nabi selalu megulangi, “Dan persaksian palsu”, sehingga kami berkata, “semoga Nabi diam” (HR. Bukhari 3/151-152 -Fathul Baari 5/261, No. 2654, dan Muslim 87).

Dan,

إِنَّاللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ اْللأَمَّهَاتِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu….”

Dengan dalil Nash di atas, maka sudah jelas kita wajib untuk bersegera bertaubat kepada Allah Ta’ala apabila kita berbuat buruk kepada kedua orang tua kita, dan segera meminta maaf kepada orang tua kita yang masih hidup, agar Allah pun mengampuni kita.

Semoga sedikit tulisan dari redaksi Islamkafah.com ini bisa membuat menjadi sebuah perantara akan pencerahan dan hidayah dari Allah Azza wa Jalla kepada anda pembaca sekalian. Dan, jangan lupa untuk selalu membaca tulisan-tulisan kami, serta bagikan atau share ke teman dan kerabat kalian agar menjadi sebuah pahala amal jariyyah yang tidak akan terputus-putus hingga yaumil qiyyamah.

Wallahu ‘Alam. (AUS)