Konsultasi Agama, FIQIH — October 16, 2017 at 18:12

Kehalalan Makanan dan Minuman Hotel Berbintang di Indonesia

by
Kehalalan Makanan dan Minuman Hotel Berbintang di Indonesia

Jadi mengenai alat-alat makan, seperti piring, sendok, garpu atau yang lainnya walaupun sebelumnya digunakan untuk menyajikan daging anjing atau babi namun apabila tukang cuci restoran tersebut sudah mencucinya dengan air serta menggosoknya dengan sabun maka itu sudah cukup untuk menjadikan alat-alat tersebut suci dan bisa digunakan.

Allah swt menjadikan syariat ini penuh dengan berbagai kemudahan tidak dengan kesempitan. Tatkala seseorang tidak bisa menggunakan air untuk berwudhu maka ia diperbolehkan bertayamum, tatkala seeorang didalam suatu perjalanan maka ia bisa mengqoshor atau menjama’ sholatnya.

Firman Allah swt,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya : “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqoroh : 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Artinya :” dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj : 78)

Syeikhul islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tentang suci atau najisnya anjing ini terdapat tiga pendapat ulama :

  1. Bahwa seluruhnya najis kecuali bulunya, sebagaimana perkataan Syafi’i, Ahmad dalam salah satu riwayatnya.
  2. Bahwa seluruhnya suci bahkan air liurnya, sebagaimana pendapat yang termasyhur dari Malik.
  3. Bahwa air liurnya najis sedangkan bulunya suci, sebagaimana pendapat yang termasyhur dari Abi Hanifah dan ini adalah pendapat kebanyakan para sahabat. (Majmu’ Fatawa juz XXI hal 617)

Imam Nawawi menyebutkan bahwa hadits Rasulullah saw,”Bersihkan bejana salah seorang dari kalian apabila dijilat anjing ialah dengan mencucinya sebanyak tujuh kal. Cucian yang pertama kalinya hendaklah dengan tanah.” (HR. Muslim) merupakan dalil diwajibkannya mencuci sesuatu yang terkena najis jilatan anjing sebanyak tujuh kali dan ini merupakan madzhab kami, Imam Malik, Ahmad dan juga jumhur ulama.

Sedangkan Abu Hanifah mengatakan : “Cukup dengan mencucinya sebanyak tiga kali.” (Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi juz III hal 238)

Terjadi perbedaan juga dikalangan para ulama apakah sabun atau yang sejenisnya bisa dipakai untuk menggantikan tanah yang menyertai air saat pencucian dari najis anjing :

  1. Pendapat yang mengatakan bahwa sabun, garam abu atau yang sejenisnya tidak bisa menggantikan tanah.
  2. Pendapat yang mengatakan bahwa sabun, garam abu atau yang sejenisnya bisa menggantikan tanah.
  3. Pendapat yang mengatakan jika ada tanah maka ia tidak bisa menggantikannya namun jika tidak ada tanah maka ia bisa menggantikannya. (Roudhotuth Tholibin wa ‘Umdatul Muttaqin juz I hal 9, Maktabah Syamilah)

Jadi mengenai alat-alat makan, seperti piring, sendok, garpu atau yang lainnya walaupun sebelumnya digunakan untuk menyajikan daging anjing atau babi namun apabila tukang cuci restoran tersebut sudah mencucinya dengan air serta menggosoknya dengan sabun maka itu sudah cukup untuk menjadikan alat-alat tersebut suci dan bisa digunakan.

Dengan demikian apabila seorang muslim diundang makan di restoran atau hotel-hotel berbintang maka tidak perlu baginya membawa makanan, minuman atau alat-alat makan maupun minum sendiri. Hal ini, selain akan merepotkan diri juga akan menambah pembiayaan pembelian makanan maupun minuman baginya terlebih lagi jika intensitas acara yang seperti ini sering dilakukan.

Wallahu A’lam


sumber: https://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/kehalalan-makanan-minuman-di-hotel-berbintang.htm

%d bloggers like this: