KAJIAN, Hikmah — February 15, 2018 at 13:58

Jika Diminta, Rasulullah Tak Pernah Menolak Sekalipun Selama Baik

by
Jika Diminta, Rasulullah Tak Pernah Menolak Sekalipun Selama Baik

“Ada seseorang yang datang kepadanya lalu beliau memberinya kambing sebanyak antara dua gunung. Kemudian ia pulang ke kaumnya dan berkata: wahai kaumku, masuklah Islam, sesungguhnya Muhammad akan memberi  yang banyak seakan ia tidak pernah takut kemiskinan.” (HR. Muslim)…..

 

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulillah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- keluarga dan para sahabatnya.

Kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dihiasi dengan akhlak mulia. Setiap sisi kehidupan beliau mendatangkan kekaguman bagi siapa yang memperhatikannya. Kemudian atas setiap umat untuk mengikuti dan meneladaninya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Salah satu sifat mulia yang menonjol dalam diri beliau adalah sifat dermawan. Beliau adalah orang yang paling dermawan di antara manusia yang ada. Beliau sangat mudah membagi harta dan kekayaan yang dimilikinya. Bahkan disebutkan, tidak pernah bercokol harta di rumah beliau lebih tiga hari kecuali yang disiapkan untuk bayar hutang. Tanpa diminta beliau banyak memberi, khususnya kepada fakir miskin, orang membutuhkan, dan dijinakkan hatinya untuk Islam. Apalagi kalau diminta, maka beliau tidak pernah menolak dan berkata, “tidak”.

Dari Jabir bin Abdillah ia berkata: Tidak pernah sama sekali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimintai sesuatu lalu beliau berkata, “Tidak”. (HR. Muslim)

Dalam kesaksian sahabat yang lain, Anas bin Malik, ia berkata: Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diminta sesuatu atas nama Islam kecuali beliau akan memberikannya. Anas berkata:

جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ

“Ada seseorang yang datang kepadanya lalu beliau memberinya kambing sebanyak antara dua gunung. Kemudian ia pulang ke kaumnya dan berkata: wahai kaumku, masuklah Islam, sesungguhnya Muhammad akan memberi  yang banyak seakan ia tidak pernah takut kemiskinan.” (HR. Muslim)

Yakni apabila ada seseorang yang meminta harta kepada beliau atas nama Islam –maksudnya: untuk menjinakkan hatinya agar masuk Islam- pasti beliau memberinya, sebanyak apapun itu. Sampai-sampai disebutkan dalam hadits di atas, ada seorang badui yang meminta, lalu beliau memberikan kepadanya kambing yang sangat banyak. Beliau memberikan semua itu karena ada sesuatu yang diharapkan darinya, yakni keislaman dirinya dan orang-orang yang ada di belakangnya.

Melalui kedermawanan beliau ini, orang tadi pulang menemui kaumnya dan mengajak mereka masuk Islam. Dan ternyata benar, orang tadi sangat terpukau dengan akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini sehingga ia menjadi da’i (pendakwah) yang mengajak kaumnya kepada Islam. Ia menyerul “Wahai kaum, masuklah Islam! sesungguhnya Muhammad akan memberi  yang banyak seakan ia tidak pernah takut kemiskinan.” ia tidak berkata, masuklah Islam niscaya kalian akan masuk surga dan selamat dari neraka.

Apabila mereka masuk Islam karena harta maka itu tidak berlangsung lama. Setelah mereka mengenal Islam maka jadilah agama barunya ini menjadi sesuatu yang paling dicintai olehnya, lebih ia cintai dari dunia seisinya. Inilah tujuan yang dikehendaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dari memberikan harta yang banyak kepada orang yang dijinakkan hatinya.

. . . Tidak pernah sama sekali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimintai sesuatu lalu beliau berkata, “Tidak”. . .

Harta Tak Berkurang Karena Disedekahkan

Islam sangat-sangat mendorong umatnya untuk menjadi dermawan dengan menjanjikan pahala yang besar atas infak dan sedekah yang dikeluarkan. Islam menguatkan semangat berinfak dengan menjanjikan keberkahan dan bertambahnya rizki melalui sebab sedekah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276)

Makna Allah menyuburkan sedekah adalah memperbanyak dan mengembangkannya di dunia. Sedangkan di akhirat, Allah menjaganya semenjak di keluarkan harta tersebut untuk infak. Penjagaan ini seperti seseorang menjaga benih yang ditanamnya dengan diperhatikan dan dipupuk sampai benih tersebut menjadi pohon yang besar. Atau seperti seseorang yang menjaga dan memelihara anak kuda yang masih kecil, ia beri makan dan ia rawat dengan baik sehingga menjadi kuda yang besar dan tangguh. Artinya pahala besar akan ia peroleh walaupun melalui infak yang sedikit.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya aku berinfak kepadamu.” (Muttafaq ‘Alaih) Maknanya adalah Aku beri ganti yang lebih baik untukmu. Ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Selain itu, Islam juga mengabarkan hakikat dari harta yang dikeluarkan untuk sedekah itu tidak berkurang. Ini sebagai penawar atas godaaan syetan yang menakut-nakuti orang berinfak dengan kemiskinan sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin berkata, “Apabila seseorang bersedekah maka syetan berkata kepadanya: ‘Apabila kamu sedekah hartamu pasti berkurang. Kamu punya 100 riyal, apabila kamu sedekahkan 10 riyal, maka hartamu tinggal 90 riyal. Jika hartamu berkurang, jangan bersedekah. Setiap engkau sedekah hartamu berkurang.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah)

Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberitahukan hakikat, sebenarnya sedekah tidak mengurangi harta kita. Secara perhitungan, saat kita keluarkan memang berkurang. Tapi setelah itu sedekah akan menambah hartanya, baik jumlah maupun berkah. Sedekah akan menjadi kunci pintu rizki dan sebab bertambahnya. Maka apakah masih disebut, sedekah mengurangi rizki? Wallahu Ta’ala A’lam.

 


Sumber: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2013/02/13/23229/akibat-buruk-ikutikutan-budaya-kafir/#sthash.2qWPmC6B.dpbs

%d bloggers like this: