AQIDAH-AKHLAQ, Kuliah Akhlaq — October 17, 2017 at 23:11

Inilah Manfaat Akhlakul Karimah yang Sering Terlupakan

by
27 Nov 2005, Libya --- Men Leading Camels in Desert --- Image by © Frank Lukasseck/Corbis

Budi pekerti yang baik dapat menumbuhkan rasa saling mengasihi dan kesetiakawanan. Sementara itu, perangai buruk dapat memantik iri hati, dengki, dan perpecahan…

Sesungguhnya akhlakul karimah (budi pekerti yang mulia) merupakan karakter dasar yang dimiliki para nabi, orang-orang yang ahli ibadah, dan orang-orang shalih.

Mereka mendapatkan derajat yang tinggi dan tempat yang mulia di sisi Allah Ta’ala. Karena budi pekertinya yang tinggi, dan akhlaknya yang mulia, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan sanjungan dari Allah Ta’ala dalam ayat yang sangat simpel, tetapi sangat dalam arti dan maknanya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.(QS. Al-Qalam: 4).

Budi pekerti yang baik dapat menumbuhkan rasa saling mengasihi dan kesetiakawanan. Sementara itu, perangai buruk dapat memantik iri hati, dengki, dan perpecahan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat menganjurkan umatnya untuk berpegang teguh pada akhlakul karimah. Bahkan, beliau menyejajarkan antara ketakwaan kepada Allah Ta’ala dan akhlak yang mulia ini.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya tentang sesuatu yang paling banyak mengantarkan umat manusia masuk surga, maka beliau menjawab,

‘Bertakwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Budi pekerti yang baik meliputi wajah yang senantiasa dihiasi senyuman, memberikan kebaikan, tidak menyakiti sesama, pembicaraan yang bagus, menahan amarah, sabar dan tabah menghadapi segala macam ujian dan cobaan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepada Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu dengan satu wasiat yang sangat dalam. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

يَا عُقْبَةُ، أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ أَخْلاقِ أَهْلِ الدُّنْيَا، وَأَهْلِ الآخِرَةِ؟ تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ، وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ

“Wahai Uqbah, maukah aku tunjukkan kepadamu akhlak yang paling utama, yang dimiliki oleh penduduk dunia dan penduduk akhirat? Kamu menyambung tali silaturrahim dengan orang yang memutusnya denganmu, memberi orang yang dulu menutup pintunya untukmu, dan memaafkan orang yang telah menganiayamu.” (HR. Al-Hakim, Ahmad, dan Ath-Thabarani).

Raihlah hal-hal yang positif dan pahala yang sangat besar yang tersedia untuk orang-orang yang berbudi luhur itu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesungguhnya seseorang dapat mencapai derajat orang yang ahli puasa dan ahli shalat, hanya dengan budi pekerti yang luhur.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan akhlakul karimah ini sebagai bukti yang menunjukkan keimanan yang sempurna. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang-orang mukmin yang paling sempurna kadar keimanannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Lakukanlah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut ini,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى سُرُوْرٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا، وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِيْنَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Amal perbuatan yang paling disukai Allah Ta’ala adalah perbuatan yang dapat memasukkan kebahagiaan dalam hati orang muslim, meringankan bebannya, membayar utangnya, atau membantunya agar tidak lapar.

Sungguh, usahaku untuk membantu menyelesaikan urusan saudaraku yang muslim itu, lebih aku senangi daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid madinah- selama sebulan penuh.” (HR. Ath-Thabarani).

Seorang muslim hendaknya menggunakan kata-kata lembut dan sopan saat berbicara, agar itu menjadi investasinya di akhirat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

الْكَلِمِةُ الْطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Berkata-kata yang baik saat berbicara adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan, senyuman yang nampak di bibir dan tidak mengeluarkan biaya apapun saat melakukannya, itu juga bernilai pahala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

وَتَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi).

Pengarahan-pengarahan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lewat hadits-haditsnya, agar kaum muslimin berbudi pekerti yang tinggi dan berakhlakul karimah sangat banyak.

Bahkan, perjalanan hidup dan biografi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, adalah teladan berbudi pekerti yang tinggi, baik etika kepada dirinya sendiri, bersama istri-istrinya, kaum papa, orang-orang yang tidak tahu masalah agama, dan bahkan terhadap orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. (QS. Al-Maa`idah: 8).

Wahai saudaraku!

Sesungguhnya tanda-tanda budi pekerti yang mulia terdapat dalam beberapa hal berikut ini. Untuk itu, kenalilah, lalu lakukanlah dengan penuh penghayatan dan kesadaran.

Tanda-tandanya antara lain; sangat pemalu, tidak suka menyakiti, berlaku shalih, berkata jujur, sedikit bicara, banyak bekerja, berhati-hati, tidak membuang-buang waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, lembut, setia, disiplin, tabah, banyak berterima kasih atas segala kebaikan, bijaksana, menjaga kehormatan, pemaaf.

Di samping itu, tidak suka melaknat, mencaci maki, adu domba, menggunjing, tidak bertindak ngawur, pendendam, pendengki. Perbuatan yang utama adalah mencintai karena Allah Ta’ala dan membenci karena-Nya.

Pangkal perangai yang buruk adalah sombong dan hina dina. Sedangkan pangkal semua budi pekerti yang baik adalah khusyuk dan cita-cita yang tinggi.

Di sisi lain, congkak, besar hati, membanggakan diri, dengki, angkuh, berbuat aniaya, keras kepala, semena-mena, tidak mau menerima nasehat, ambisi, rakus kehormatan, ingin dipuji pada sesuatu yang tidak pernah dikerjakan adalah perangai-perangai buruk yang timbul dari kesombongan.

Berdusta, berkhianat, haus pujian, tipu daya, pelit, penakut, malas, tunduk kepada selain Allah Ta’ala, mudah beralih dari kebaikan kepada keburukan, dan lain sebagainya, merupakan sifat-sifat yang tumbuh dari kehinaan dan tidak percaya diri.

Wahai saudaraku!

Sudah saatnya menciptakan momentum yang sangat baik untuk menghiasi diri dengan akhlakul karimah. Maka, ajaklah dirimu untuk senantiasa memperbaiki diri, berbudi luhur dan sopan santun.

 


Sumber : http://bersamadakwah.net/inilah-manfaat-akhlakul-karimah-yang-sering-terlupakan/

Tags
%d bloggers like this: