Pemurtadan, Ghazwul Fikri, NAHIMUNKAR — Tue 22 Jumada Al Akhira 1438AH 21-3-2017AD at 01:22

Minilik Historisitas Kristenisasi dan Komunisme di Kota Solo

by
Minilik Historisitas Kristenisasi dan Komunisme di Kota Solo

 

“Di Solo inilah   secara historis, adalah pusat   dan   tempat   bertemunya   berbagai ideologi, kristenisasi dan komunisme juga merupakan 2 misi yang tak bisa lepas dari dinamika di Solo. Hasil kajian forum lintas gerakan   melihat bahwa dalam   konteks historis, kristenisasi dan komunisme   sebenarnya berkolaborasi     di   Solo   dalam   memecah   belah   organisasi   Islam yang besar di Solo, misalnya Sarekat Islam [SI]”ujar   Adhytiawan, aktivis   Islam yang juga   mahasiswa Ilmu Sejarah UNS.

Ia menambahkan, Infiltran komunis yang masuk dalam tubuh Sarekat Islam [SI], telah   memecah   belah organisasi itu, tak luput terbelahnya tubuh SI cabang Solo ternyata memiliki dampak besar di kota lain, misalnya juga di SI Cabang Semarang yang kemudian tumbuh pesat menjadi SI merah yang berhaluan komunias, Peristiwa Solo dan Semarang ternyata memiliki dampak besar di kota-kota lain.

Lebih lanjut mahasiswa Ilmu Sejarah UNS ini juga mengatakan, kristenisasi pun juga berperan besar untuk memecah belah organisasi Islam di Solo, misalnya Tokoh Kristenisasi Solo bernama Van Andel, seorang Pastur yang cukup berhasil memurtadkan Muslim di Solo terutama daerah Manahan, Timuran, Danukusuman, dan   Banjarsari. Sistem memecah belah kekuatan Islam ini semakin jelas ketika Van Andel mulai membangun Rumah Sakit, Lembaga Pendidikan, Yayasan dsb.

Ia pun menambahkan, “saat itu kondisi mulai memanas ketika organisasi Muhammadiyah juga mendirikan sekolah dan Rumah Sakit, persaingan menjadi cukup tajam di Solo, sampai akhirnya Muhammadiyah cabang Solo mulai tidak disukai pihak Mangkunegaran, dimana dalam internal Mangkunegaran saat itu sendiri ada beberapa pejabat yang beragama Kristen, ini merupakan titik dimana kristenisasi telah masuk dalam tubuh kekuasaan di tubuh Mangkunegaran.”, jelasnya

Dalam konteks historis di Solo, kristenisasi dan komunisme   jelas memukul   beberapa organisasi Islam, misalnya terjadi perpecahan yang cukup tajam antara kubu Haji Misbach yang mulai terpengaruh komunisme menggawangi laskar Islam Sidiq Amanah Fathonah Tabligh [SATV] vis a vis dengan para redaktur Islam dengan Muhammadiyah dan kubu SI Putih.

Sebagaimana diketahui, di Solo pasca Pemilihan Umum tahun 1955, hampir seluruh pejabat dari tingkat kota hingga pengurus RT dikuasai oleh anggota ataupun simpatisan PKI. Oleh karena itu, tak heran jika kehidupan para Ulama dan keluarganya saat itu selalu mengalami intimidasi yang tidak menyenangkan. pasca pemilu 1955 itu pula kemudian rangkaian konfrontasi terhadap umat Islam terus berlanjut.

Mengutip Koran Panji, menjelang aksi pemberontakan atas perintah pusat, terjadilah propaganda yang dialamatkan untuk organisasi-organisasi Islam. Di kota Solo sendiri bentrokan fisik hampir terus terjadi, misalnya terjadi pengeroyokan dan pembunuhan sekelompok remaja Masjid di Desa Giriroto,Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Selain itu ada juga bentrokan yang terjadi di daerah Jayengan, Jagalan, Pajang, Sambeng, dan beberapa tempat lainnya. Peristiwa ini juga dibarengi dengan munculnya tanda silang merah pada setiap rumah masyarakat Muslim yang ideologis. Diketahui, bahwa tanda tersebut merupakan kode, dimana rumah yang bertanda adalah target “pembersihan” musuh PKI.

Puncaknya bersamaan dengan terjadinya pemberontakan di Jakarta pada 30 September hingga 1 Oktober dinihari 1965, dengan kekuatan Batalion M Kodam IV Dipenogoro, G30S/PKI juga melakukan gerakannya di Solo. Mereka menculik Komandan Brigade 6 Kolonel Azahari, Kepala Staf Brigade 6 Letnan Kolonel Parwoto, Kepala Staf Kodim 735 Mayor Soeparman, Komandan Polisi Militer Detasemen Surakarta Kapten   Prawoto dan Komandan Batalion M, Mayor Darso, seperti   diberitakan   dalam Koran Panji Edisi 6 tahun 2015.

Selain melakukan penculikan, mereka juga melakukan pendudukan terhadap kantor RRI. Telekomunikasi, dan Bank-Bank Negara. Bahkan pada tanggal 2 Oktober tahun 1965, Walikota Solo, Oetomo Ramelan, melalui RRI mengumumkan dukungannya kepada G30S/PKI.

Menurut salah satu saksi sejarah peristiwa pemberontakan PKI, Moedrick Sangidu, mengatakan “Menjelang peristiwa tahun 1965 sedikitnya ada 23 orang yang dibunuh secara terbuka di bundaran Gladak, dan   lebih   dari 285 umat Muslim di Boyolali dan Klaten juga dibunuh secara sadis,”. Katanya. Penguasaan pemeintahan oleh PKI di Kota Solo bisa ditumpas setelah adanya gerakan pengambil alihan kekuasaan oleh ABRI

Seperti diketahui pula, Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central PKI juga berhasil ditangkap d di daerah Sambeng, Solo, melihat perjalanan sejarah panjang komunisme di Solo tak heran jika kembali ingin merebut kekuasaan di Indonesia, PKI perlu terlebih dahulu menguasai Solo, yang sejarahnya merupakan kota basis PKI.

Sementara menyoal perkembangan   Kristenisasi,   mengutip Arif   Wibowo, Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam [PSPI], dapat dilihat   pula   sebelum   tahun 1965   presentase jumlah   umat Kristen se-Surakarta tak sampai 20 %, namun pasca G30S/PKI, menurut Mc. Ricklefs, hingga tahun 1990 presentase jumlah umat Kristen se-Surakarta mencapai angka 25 %

M.C Ricklefs   dalam   buku   Mengislamkan Jawa : Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai sekarang, hal 250   dengan   mengutip   Avey T Willis, Indonesian Revival : Why two million came to Christ, menunjukkan   antara   tahun 19760 – 1971, jumlah   jemaat   dari   5 denominasi   Protestan yang   menjadi   subyek     kajian Willis tumbuh   secara   fenomenal   dari   96.872   menjadi   311.778, sebuah   peningkatan   lebih dari 220 %. Pada tahun 1965-1967, tingkat pertumbuhan   tahunannya   adalah 27,6 %, sementara pada   tahun   1968-1971, tingkat   pertumbuhannya 13,7 %. Sebagian besar peralihan keyakinan atau konversi di dalam kajiannya   terjadi   secara   berkelompok. Individu-individu, biasanya   adalah   pemimpin   desa, berbicara diantara mereka, mengenai kemungkinan   menjadi orang Kristen secara bersama-sama. Kadang mereka melakukannya sebagai suatu.

Avery T Willis, seorang  missionaris   asal   Amerika   yang   menjadi   missionaries di   Indonesia sejak tahun   1964 dan memimpin   Seminari Teologi Baptis Indonesia menyebutkan   ada 11   faktor   yang   menyebabkan   perpindahan   massal   keagamaan ke agama Kristen/ Katolik ini. 3 diantaranya berkait dengan posisi pengikut PKI yang secara psikologis mengalami ketertindasan akibat agitasi lawan-lawan politiknya, yang berhasil dimanfaatkan oleh para rohaniawan Kristen dan   Katolik. Pertama, Reaction Factor, reaksi berlebihan dari sebagian pemimpin kelompok Islam terhadap orang-orang Islam statistik yang menjadi anggota dan simpatisan PKI telah   mendorong orang-orang itu menoleh ke   tempat lain untuk memperoleh bantuan spiritual dan perlindungan politik. Kedua, Protection Factor, Perlindungan   gereja   terhadap   orang-orang yang dituduh PKI dan orang yan g belum beragama secara sungguh-sungguh, dari   pembunuhan dan kehilangan status sosialnya telah memberi rasa simpati banyak orang untuk memeluk Kristen. Ketiga, Service, perhatian dan pelayanan dari lembaga gereja, termasuk di dalamnya pendidikan, bantuan medis dan kebutuhan fisik lainnya, telah mendorong orang-orang untuk tertarik dan masuk ke agama Kristen.

Yang paling terbaru dari gerakan kristenisasi adalah aksi Show of Force nya dengan   melakukan pawai Salib di Kota Solo, Selain itu terkait dengan pembangunan Rumah Sakit Siloam 23 lantai yang akan   dibangun di   Jl.Honggowongso   tepat di selatan SMA Kristen 1 Solo, yang mana Yayasan Siloam dikenal merupakan Yayasan Kristen yang cukup agresif melakukan misi penginjilan. Sementara yang masih berlangsung hingga kini, adalah upaya-upaya pendirian Gereja secara illegal, misalnya seperti kasus GIDI di Joyontakan.


Sumber: http://www.panjimas.com/nahi-munkar/2015/12/01/historisitas-kristenisasi-dan-komunisme-di-kota-solo/