Keluarga Samara, MUSLIMAH — Thu 13 Ramadan 1443AH 14-4-2022AD at 17:31

Memilih Pasangan Berlandaskan Pondasi Agama Islam

by
Memilih Pasangan Berlandaskan Pondasi Agama Islam

Agama Islam dengan syariatnya yang tinggi dan universal telah meletakkan kaidah, hukum-hukum dan adab bagi seorang laki-laki yang hendak melamar maupun wanita yang dilamar…

Islamkafah.com – Agama Islam dengan syariatnya yang tinggi dan universal telah meletakkan kaidah, hukum-hukum dan adab bagi seorang laki-laki yang hendak melamar maupun wanita yang dilamar.

Seandainya manusia mau mengambil petunjuknya dan berjalan diatas aturannya maka pernikahan akan membuahkan rasa saling memahami, saling mencintai, dan keserasian.

Dan jadilah keluarga yang terdiri dari anak laki-laki dan perempuan berada di atas puncak keimanan yang kuat, jasmani yang sehat, akhlak yang lurus, pikiran yang matang, serta jiwa yang tenang dan jernih. Memilih pasangan Berdasarkan Pondasi Agama.

Ketika seseorang yang hendak melamar dan wanita yang akan dilamar memiliki tingkatan berupa pemahaman, pengamalan dan konsekuensi (menerima konsekuensi penerapan syariat islam) maka akan kita katakan kepada salah satunya bahwa ia memiliki agama dan akhlak yang baik.

Dan sebaliknya, apabila seseorang yang hendak melamar, atau wanita yang akan dilamar tidak memiliki pemahaman, pengamalan dan penerimaan konsekuensi syariat maka selayaknya kita hukumi dirinya adalah orang yang menyimpang dan jauh dari islam, meskipun secara lahiriyah dia tampak baik, takwa, dan mengaku dirinya adalah seorang mukmin.

Alangkah telitinya apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Al-Khattab ketika menetapkan pertimbangan yang baik untuk mengetahui kepribadian seseorang dan mengetahui sosok lelaki sejati.

Ketika ada seseorang yang datang kepadanya memberitakan kepribadian orang lain, Umar bertanya kepadanya,

“Apakah kamu mengenal lelaki ini?”

Ia menjawab, “Ya.”

Umar bertanya, “Apakah kamu ini tetangganya yang mengetahui aktivitas keluar masuknya dari rumah?”

Lelaki itu menjawab, “Bukan”

Umar kembali bertanya, “Apakah kamu pernah berpergian bersamanya sehingga kamu dapati darinya suatu akhlak yang mulia?”

Lelaki itu menjawab, “Tidak”

Umar bertanya lagi, “Apakah kamu pernah bermuamalah bersamanya dengan dinar dan dirham sehingga kami temukan kewara’annya?”

Lelaki itu menjawab, “Tidak.”

Kemudian Umar berteriak, “Sekiranya engkau pernah melihatnya shalat di masjid baik dengan duduk atau berdiri, kadang ia mengangkat kepala dan kadang merendahkannya?”

Lelaki itu menjawab, “Ya.”

Umar lalu berkata, “Pergilah, karena engkau tidak mengenalnya.”

Kemudian Ia menoleh kepada laki-laki tersebut (yg dimaksud lelaki yang dikenalkan)

Umar berkata, “Datangkan kepada orang lain yang mengenalmu.”

Dalam perkara ini Umar tidak pernah tertipu dengan bentuk dan penampilan seseorang.

Dia mengetahui hakikat kebenaran itu dengan timbangan yang benar yang bisa menyingkap keadaannya serta bisa menunjukkan keadaan agama seseorang dan akhlaknya.

Maka perlu lah kita memiliki standar ukuran untuk menentukan apakah orang tersebut baik atau buruk akhlaknya, seperti halnya apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab.

Akhlak yang baik akan membawa kepada kebaikan, begitu juga sebaliknya, untuk memulai sesuatu yang baik dalam berumah tangga maka haruslah didasarkan pada standar kriteria calon suami atau istri yang memiliki akhlak yang baik.

(Abd.N)