Salafus Shalih, PROFIL — Wed 2 Dhul Qidah 1443AH 1-6-2022AD at 11:44

Demi Ilmu, Menjadi Pengemis pun Ia Lakoni

by
Demi Ilmu, Menjadi Pengemis pun Ia Lakoni

Menuntut ilmu bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Penuh rintangan dan cobaan yang menghadang. Apalagi menuntut ilmu langit yang hakiki, sungguh menuntut ilmu di jalan Allah adalah setara dengan jihad fii sabilillah jika ia mati ketika menuntut ilmu. Seorang Imam besar dari Andalusia bernama Imam Baqi bin Makhlad Al-Andalusi rela menjadi pengemis guna mendapatkan ilmu hadits dari seorang Imam besar. Yakni, Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahumullah. Pada masa tersebut, Imam Ahmad sedang mendapatkan cobaan yang berat, karena ia dilarang oleh pemerintahan saat itu untuk menyampaikan ilmu kepada siapapun. Ia diasingkan. Namun, Iman Baqi menyamar sebagai pengemis hanya untuk mendengar hadits dari Imam Ahmad Bin Hanbal. Barakallahu.

Imam Baqi bin Makhlad Al-Andalusi, seorang alim daerah Maghrib, Aqsha, dikisahkan telah berhasil berguru kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Padahal ketika itu Imam Ahmad sedang tertimpa fitnah, dicekal, tak boleh bertemu dan mengajarkan ilmu kepada orang luar.

Lalu bagaimana Imam Baqi bisa meretas hijab itu? Pastinya karena kecerdikan beliau yang didorong oleh ghirah besarnya untuk menuntut ilmu. Dan tentunya, semua dapat berjalan semata atas pertolongan dan kuasa Allah SWT. Mari kita simak kisah selengkapnya.

Kitab Al-Manhajul Ahmad fi Tarajim Ashhabil Imam Ahmad, karya Al-Ulaimi, I: 177; dan Ikhtisarun Nablusi li Thabaqatil Hanabilah, karya Ibnu Ya’la, hlm.79, memuat sosok Imam Baqi bin Makhlad Al-Andalusi. Bernama Abu Abdurrahman Baqi bin Makhlad Al-Andalusi Al-Hafidz, beliau lahir pada 201 H.

Sebagai penuntut ilmu sejati, dari Maghrib, Imam Baqi pergi ke Baghdad dengan berjalan kaki. Hal itu beliau lakukan demi terwujudnya satu mimpi besar, bertemu dan berguru kepada Imam Ahmad bin Hanbal.

Alkisah, Imam Baqi bercerita, “Ketika diriku nyaris tiba di Baghdad, kudengar kabar akan fitnah yang menimpa Ahmad bin Hanbal. Orang-orang dilarang berdekat dan menyimak tuturan ilmu dari beliau. Amat sangatlah aku sedih karena itu. Kemudian diriku mencari tempat menginap. Dan usai kuletakkan barang bawaan di kamar yang aku sewa, maka tak lagi kulakukan apa pun kecuali melangkah menuju masjid jami’ yang besar. Aku hendak turut duduk dalam halaqah-halaqah yang ada, dan menyimak pembicaraan orang-orang di sana.”

Lanjut beliau, “Aku bergabung di satu halaqah yang mulia. Di mana ada seorang pria membeberkan kondisi-kondisi para perawi hadits. Beliau men-dha’if-kan dan menguatkan riwayat-riwayat mereka. Aku bertanya kepada seorang yang duduk di dekatku, ‘Siapa beliau itu?’ orang ini menjawab, ‘Adalah Yahya bin Ma’in.’. Lalu kulihat celah yang terbuka, dan aku pun gegas mendekati Yahya bin Ma’in, lalu berkata, ‘Wahai Abu Zakariya, semoga Allah merahmatimu. Aku adalah seorang lelaki perantau dari negeri nun jauh. Biarkan kubertanya, kumohon jangan kauanggap sederhana.’ Dia berkata kepadaku, ‘Sampaikanlah…’ Lalu kubertanya tentang sebagian ahli hadits yang aku temui. Beliau pun menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing mereka. Kemudian di akhir pertanyaan, aku bertanya tentang Hisyam bin Ammar. Aku sendiri telah banyak berguru pada beliau. Lalu Yahya berucap, ‘Abul Walid Hisyam bin Ammar adalah ahli shalat dari Damaskus. Beliau tsiqah, bahkan di atas tsiqah. Bila pun di balik pakaian beliau terdapat kesombongan atau dia menenteng kesombongan, maka itu tidak berpengaruh apa pun, karena kebaikan dan kemulian beliau.’”

“Lalu,” lanjut Imam Baqi, “orang-orang di situ kompak berteriak padaku, ‘Cukup bagimu, semoga Allah merahmatimu. Giliran yang lain akan bertanya.’ Tapi kemudian sontak aku berdiri dan berkata, ‘Aku bertanya kepada Engkau tentang seorang pria, yakni Ahmad bin Hanbal.’ Maka Yahya bin Ma’in memandangiku dengan heran, dan berkata, ‘Orang seperti kita membeberkan Ahmad bin Hanbal? Beliaulah Imam kaum Muslim, orang terbaik dan termulia dari mereka.’”

Imam Baqi pun segera keluar dengan penuh semangat untuk segera menemui Imam Ahmad.

“Diriku pun keluar mencari tahu rumah Ahmad bin Hanbal. Dan seseorang menunjukkannya padaku. Aku berjanan menujunya, dan sesampainya, kuketuk pintu rumah beliau. Beliau lantas membukanya dan menatap seorang lelaki asing yang datang, diriku. Lalu diriku segera berkata, ‘Wahai Abu Abdillah, inilah seorang pria perantau dari negeri nun jauh. Inilah kedatanganku pertama kali di negeri ini. Aku ini pencari hadits dan penghimpun sunnah. Aku tidak mengadakan perjalanan selain hanya untuk menemui Engkau.’ Beliau berucap, ‘Masuklah ke lorong itu, dan jangan sampai seorang pun melihat Engkau.’”

Setelah berhasil masuk ke lorong dengan aman, mereka berbincang. Imam Baqi menceritakan perbincangan itu.

“Beliau bertanya kepadaku, ‘Di mana negerimu?’ Kujawab, ‘Daerah Maghrib yang jauh.’Beliau bertanya lagi, ‘Afrika?’ Kujawab, ‘Lebih jauh dari itu. Aku menyeberangi lautan untuk tiba di Afrika. Negeriku adalah Andalusia.’ Beliau berkata, ‘Negerimu benar-benar jauh. Tiada sesuatu yang lebih aku suka daripada membantu orang seperti Engkau dengan baik, demi terwujudnya cita-cita. Namun saat ini aku sedang menghadapi cobaan, dan mungkin Engkau pun telah tahu.’ Aku berkata, ‘Benar, aku telah mendengar akan hal itu waktu nyaris tiba di sini.’ Aku pun lanjut bertanya, ‘Wahai Abu Abdillah, ini adalah kedatanganku yang pertama. Aku orang yang tidak di kenal di sini. Jika Engkau setuju, biarkan aku datang saban hari dengan berpura-pura sebagai pengemis. Biar kuucapkan apa yang lazim para pengemis ucapkan, lalu Engkau keluar ke tempat ini. Sekali pun hanya satu hadits saja Engkau sampaikan kepadaku setiap harinya, maka itu sudah cukup.’ Beliau menjawab, ‘Baiklah, tapi dengan syarat Engkau jangan muncul di halaqah-halaqah, dan tak jua kepada para ahli hadits.’ Kujawab, ‘Insya Allah.’

Penyamaran pun dimulai esoknya. Imam Baqi menceritakan, “Di hari berikutnya, aku mengambil ranting pohon (untuk tongkat) dan membebat kepalaku dengan kain. Kertas dan tinta kusembunyikan di balik lengan baju. Lalu kuberjalan menuju pintu rumah beliau seraya berteriak, ‘Pahala, semoga Allah merahmati kalian.’ Begitulah ucapan yang lazim diterikkan para pengemis di sana. Lalu beliau keluar menemuiku, dan menyampaikan dua atau tiga hadits, atau lebih kepadaku.”

Lanjut beliau, “Aku terus melakukannya sampai orang yang menimpakan fitnah kepada Ahmad bin Hanbal meninggal dunia. Dimana setelah itu, kepemimpinan diambil alih oleh kalangan ahlussunnah. Dan sejak saat itulah Ahmad bin Hanbal kembali tampil di tengah ummat. Nama beliau kembali bersinar. Beliau sangat dihormati dan disegani. Orang-orang berduyun-duyun datang guna menimba ilmu.”

Demikian kisah singkat perjuangan Imam Baqi bin Makhlad dalam berguru hadits kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Semangat dan tekad beliau sungguh luar biasa. Sangat layak menjadi teladan bagi kaum Muslim di setiap zaman, pun saat sekarang.

Imam Baqi wafat pada 276 H di Andalusia. Semoga Allah merahamati beliau, dan kita dapat mengambil inspirasi dari semangat dan kecerdikan yang telah beliau buktikan, aamiin. Wallahu a’lam. [IB]

Sumber:http://www.panjimas.com/inspirasi/2016/07/03/baqi-bin-makhlad-demi-hadits-rela-menyamar-sebagai-pengemis/

Judul Asli: Baqi bin Makhlad, Demi Hadits, Rela Menyamar Sebagai Pengemis