AQIDAH-AKHLAQ, Kuliah Aqidah — Wed 27 Dhul Qidah 1442AH 7-7-2021AD at 12:49

Beriman Sekaligus Menyekutukan Allah?

by
Beriman Sekaligus Menyekutukan Allah?

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” [QS. Yusuf: 106]

Beriman Sekaligus Menyekutukan Allah

Pertanyaan ini mungkin terbetik dalam benak ketika membaca firman Allah Ta’ala dalam al-Quran surat Yusuf ayat 106. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” [QS. Yusuf: 106]

Mengapa Allah Ta’ala menetapkan keberadaan iman pada diri penyembah berhala? Padahal kita tahu bahwa keimanan dan kesyirikan besar (syirik akbar) tidak mungkin bersatu. Jika demikian, apa makna ayat di atas?

Keimanan Penyembah Berhala

Keimanan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah pengakuan (al-iqrar) dan pembenaran (at-tashdiq), yang merupakan hal nyata yang dilakukan oleh kaum musyrikin. Mereka mengakui rububiyah Allah Ta’ala. Mereka tidak mengingkari bahwa Sang Pencipta, Sang Pemberi rezeki, Sang Penguasa, Sang Pengatur, Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha Mematikan adalah Allah Ta’ala. Namun, bersama dengan pengakuan tersebut, mereka membuat tandingan bagi Allah Ta’ala dalam peribadahan alias melakukan kesyirikan.

Pengakuan inilah keimanan mereka yang diisyaratkan dalam ayat tersebut. Demikian pula dengan kesyirikan mereka dalam peribadahan, pun diisyaratkan dalam ayat itu. Hal itu tercermin dan tampak dalam kalimat talbiyah yang diucapkan kaum musyrikin ketika mereka berhaji,

لبيك لا شريك لك، إلا شريكا هو لك، تملكه وما ملك

“Aku menjawab panggilan-Mu, ya Allah; tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu; Engkau menguasainya dan ia tidak berkuasa.” [HR. Muslim no. 1185]

Ternyata meski mengakui rububiyah Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya, mereka juga mempersembahkan peribadahan kepada selain Allah Ta’ala. Tentu hal itu adalah kesyirikan yang nyata.

Hal ini menunjukkan bahwa keimanan yang selaras dengan ajaran agama dan menafikan kesyirikan besar tidak akan terwujud pada diri seseorang dengan hanya mengakui rububiyah Allah Ta’ala. Akan tetapi, keimanan tersebut harus diiringi dengan perbuatan mengesakan Allah Ta’ala dalam peribadahan. Itulah tauhid uluhiyah yang menjadi inti dakwah para rasul ‘alaihim as-salam.


Sumber: https://muslim.or.id/66871-penyembah-berhala-di-masa-jahiliyah-juga-beriman.html