Kuliah Aqidah — Tue 7 Safar 1443AH 14-9-2021AD at 05:13

Ahlussunah Tidak Mengingkari Atau Memuji Berlebihan Terhadap Karomah Seseorang

by
Ahlussunah Tidak Mengingkari Atau Memuji Berlebihan Terhadap Karomah Seseorang

Karomah adalah suatu yang tidak asing ditelinga kita sebagai seorang Muslim. Karenanya, banyak di masyarakat sikap-sikap yang kurang tepat sebagai seorang Ahlussunah terkait adanya karomah terhadap seseorang. Ada 2 sikap yang salah terkait hal ini. Yakni, bersikap menolak dan bersikap mumuji (kagum) hingga berlebihan. Dengan adanya dua sikap yang salah tersebut, Ahlussunah berlepas diri daripada keduanya.

Karomah adalah salah satu Khawariq yaitu suatu kejadian luar biasa yang didapatkan seseorang, dimana pada umumnya orang lain tidak dapat melakukannya. Para Ulama membedakan antara mukjizat dan karomah.  Jumhur Ulama menerangkan mukjizat adalah (tanda kekuasaan Allah) yang diberikan kepada para nabi dan rasul, sedangkan Karomah di berikan kepada manusia pilihan yang sholeh atau sering di sebut wali Allah.

Dalam Kitab Syarahu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Ustaimin disebutkan bahwa karomah adalah kejadian di luar tabiat manusia yang Allah anugerahkan kepada hambaNya tanpa disertai pengakuan pemiliknya sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus. Hal ini terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya karomah tersebut ataupun tidak. Karomah ada dalam rangka mengkokohkan hamba tersebut dan agamanya.

اللهُ ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النّور و الذين كفروا أولياؤهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلى الظلمات ألئك أصحاب النار هم فيها خالدون

Artinya: “Allah adalah wali (penolong) bagi orang-orang yang beriman. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir penolong-penolong mereka adalah thogut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan-kegelapan”. (Q.S Al-Baqoroh : 256)

فإذا قرأت القرآن فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم. إنه ليس له سلطان على الذين آمنوا وعلى ربهم يتوكلون. إنما سلطانه على الذين يتولونه و الذين هم به مشركون

Artinya: “Jika engkau membaca Al-Qur’an maka berlindunglah kepada Allah dari (godaan) syaithon yang terkutuk. Sesungguhnya tidak ada kekuatan baginya terhadap orang-orang yang beriman dan mereka bertawakal kepada Raab mereka. Hanyalah kekuatannya terhadap orang-orang yang berwala’ kepadanya dan mereka yang dengannya berbuat syirik”. (Q.S An-Nahl :98-100)

Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah berkata : “dan termasuk dari prinsip Ahlus Sunah Wal Jamaah meyakini adanya karomah para wali dan apa-apa yang Allah perbuat dari keluarbiasaan melalui tangan tangan mereka. Baik yang berkaitan dengan ilmu, mukasyafat, bermacam macam keluarbiasaan atau pengaruh keluarbiasaan) Syarah aqidah washitiyyah”.

Ada tiga kelompok dalam menyikapi karomah:

Golongan Pertama ; Orang yang mengingkari adanya karomah yaitu kelompok ahli bidah muktazilah, jahmiyah. Mereka memakai logika mereka dalam berhujah karena takut masuk dalam khurofat.

Golongan Kedua : Orang orang yang bersifat Ghuluw dalam memandang karomah. Kebanyakan mereka dari kalangan tasawuf, sufi dan torekoh. Yang terlalu mudah menyebut keluar biasaan sebagai karomah tanpa menimbang dan meneliti. Semakin tidak masuk akal semakin suka dan di puja hingga berlebihan.

Golongan ketiga : adalah golongan Ahlus Sunah, yaitu membenarkan adanya karomah dan tidak mengingkari  akan tetapi juga tidak mudah untuk percaya sebelum mengetahui seberapa alim dan sholih dalam berpegang pada al quran dan sunah.

Karomah tidak akan pernah terputus. Akan selalu ada dari waktu ke waktu, hanya saja kepada siapa dan kapan manusia tidak akan pernah tahu karena itu hak murni Allah. Karomah tidak bisa dipelajari, juga tidak akan pernah diulangi apalagi diajarkan kepada orang lain sungguh hal yang demikian bukanlah karomah tapi ilmu hitam. Karena karomah itu bak mukjizat hanya saja di berikan kepada manusia yang bukan seorang nabi.

Allah menurunkan karomah untuk menguji keimanan manusia, agar mereka bertambah yakin dengan keimanan yang ada. Dan bagi mereka yang masih ragu kian mantab adapun mereka yang kafir agar mau befikir.

Allah akan menolong hambaNya yang selalu menolong, karena itulah Allah sering kali memberikan pertolongan kepada penolong agama Allah, siapa lagi kalau bukan para ulama dan mujahidin. Yah mereka para ulama yang pagi siang sore malam mempelajari hukum Allah dan para Mujahid di setiap waktunya berperang di jalan Allah, atau para aktivis yang berdakwah untuk menyebarkan agama Allah.

Di medan jihad fisabilillah Allah turunkan banyak karomah, Allah buka mata hati kita betapa pertolongan Allah itu dekat. Maka tidak percaya dengan adanya karomah di medan jihad adalah sebuah kebodohan serta ketimpangan dalam beraqidah.

Sumber: http://www.voa-islam.com/read/opini/2016/04/07/43310/aqidah-ahlus-sunah-membenarkan-adanya-karomah-dalam-jihad-fisabililah/#sthash.AUlgwNtL.dpbs

Judul Asli: Aqidah Ahlus Sunah Membenarkan Adanya Karomah dalam Jihad Fisabililah