Infaq Dakwah Center, NEWS — October 30, 2020 at 16:31

Hidup Sebatang Kara, Muallaf Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

by
Hidup Sebatang Kara, Muallaf Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

 

Malang betul nasib Suliatin, muallaf mantan Kristen Pantekosta dari Malang Jawa Timur ini. Ujian hidupnya datang silih berganti dan memuncak justru saat ia hijrah menjadi seorang Muslimah.
Setelah biduk rumah tangganya kandas berakhir perceraian, kini ia menjalani hidup sunyi sepi seorang diri di rumah kontrakan yang tidak layak.

Untuk menyambung hidup ia harus banting tulang bekerja sebagai buruh pembuat batu bata. Sebuah pekerjaan yang terlalu berat untuk dijalani oleh seorang wanita di usia menjelang uzur.
Ia butuh modal 65 juta rupiah untuk membangun usaha sendiri dan memiliki tempat tinggal layak agar bisa istirahat dan ibadah dengan khusyuk.

 

MALANG, Infaq Dakwah Center (IDC) – Suliatin (40) terlahir dalam keluarga Kristen yang taat. Suratan hidupnya tak pernah sepi dari ujian hidup sejak kanak-kanak.

Menjalani hidup tertatih-tertatih, Suliatin berusaha untuk selalu tegar menatap masa depan. Saat memasuki usia dewasa ia pun menikah dan dikaruniai seorang anak. Sayangnya, usia pernikahannya tak berjalan lama. Ia bercerai, lantaran permasalahan rumah tangga yang mendera.

Setelah biduk rumah tangganya kandas berakhir perceraian, kini ia tinggal di rumah kontrakan yang sangat tidak layak. Di rumah usang ini ia harus menjalani hidup sunyi sepi seorang diri tanpa suami, anak, kerabat dan orang tua.

“Suami saya diambil orang Pak. Anak saya gak boleh ketemu saya. Sampai akhirnya saya tinggal ngontrak sendiri di sini,” tutur Suliatin sambil menyeka air mata tangis, Selasa (15/9/2020).

Meski hidupnya sunyi sepi tanpa canda ria buah hati maupun pendamping suami di sisinya, Suliatin tetap tegar. Kering sudah rasanya air mata. Tak ada lagi kamus mengeluh, semua ujian Allah diterima dengan ikhlas dan sabar.

Hidup tanpa ujian ibarat lukisan tanpa warna. Ia yakin, ujian berat itu adalah karunia Allah yang membuat imannya makin kuat dan meninggikan derajat. Hanya kepada Allah tempat mengadu dan memohon agar diberi kekuatan, kesehatan dan istiqamah dalam iman dan Islam sebagai muslimah yang taat.

Untuk bertahan hidup, wanita berusia 40 tahun ini harus banting tulang, bekerja kasar sebagai buruh cetak bata merah di Kabupaten Turen Malang. Sebuah pekerjaan yang terhitung berat bagi kaum pria, terlebih untuk dijalani oleh seorang wanita di usia menjelang uzur. Ya, apa boleh buat, hanya itu satu-satunya peluang untuk menyambung hidup saat ini.

Seiring dengan usia terus bertambah dan tenaga yang terus menurun, Suliatin punya harapan sederhana. Ia ingin tinggal di rumah yang khusyuk untuk ibadah dan butuh mesin pembuat bata merah agar pekerjaannya lebih ringan.

…Suliatin sangat berhak menerima zakat karena menyandang status muallaf sekaligus fakir miskin dan gharimin/menanggung hutang (At-Taubah 60)…

HIDAYAH DATANG DI TENGAH GELOMBANG UJIAN HIDUP

Diterjang ujian bertubi-tubi, Suliatin justru mendapatkan hidayah setelah melalui perenungan yang panjang. Padahal sebelum menjadi Muslimah, ia sangat membenci ajaran Islam.

“Selama bertahun-tahun tinggal di sini saya aktif ke gereja terus. Kalau ada Jum’at Legi selalu ada orang yang baca Al-Qur’an di mushalla situ, telinga saya merasa panas, lalu saya pergi ke tempat bikin batu bata supaya tidak sumpek. Sampai suatu saat, dalam hati kecil saya terbersit untuk masuk Islam dan seperti ada petunjuk gaib yang mengarahkan, ‘jalan kamu tidak salah lagi.’ Akhirnya saya putuskan masuk Islam,” kenangnya.

Dalam kurun dua tahun hijrah memeluk Islam, Suliatin berusaha istiqamah dengan pilihan hidup dunia dan akhiratnya. Ia berusaha menjadi Muslimah yang taat dengan belajar mengaji, menutup aurat dan dalam waktu yang relatif singkat sudah bisa membaca Al-Qur’an.

“Saya ingin tahu, belajar gimana caranya shalat, membaca Al-Qur’an. Tiap kali selesai mengaji dengan guru saya di luar, saya ulangi di rumah, mana yang masih kurang benar. Saya pernah dapat bantuan enam ratus ribu dari balai desa, saya belikan Al-Qur’an. Alhamdulillah, sekarang sudah mulai bisa membaca Al-Qur’an,” ujarnya.

Dengan bekal kitab suci itu ia selalu bertafakkur menghayati hakikat hidup dan iman. Di balik ujian hidup yang datang silih berganti, ia tetap bersyukur karena banyak kemudaha untuk menggapai hidayah dan rahmat dari Allah Ta’ala.

“Kalau baca Al-Qur’an, saya sedih. Saya menangis terharu, alhamdulillah Allah masih tuntun saya masih diberi jalan dalam kebenaran,” ungkapnya.

Saat menguji apakah benar Suliatin mantan Kristen, Relawan IDC bertanya apa doktrin gereja dan ayat Alkitab (Bibel) yang masih diingat? Suliatin mengaku sudah membuang jauh-jauh iman lamanya. Ia sedih bila mengingat masa jahiliyah yang mempersekutukan Allah dengan mempertuhankan seorang nabi.

Beberapa saat ia mengingat-ingat, kemudian ia melantun dengan lancar Doa Bapa Kami dalam perjanjian baru yang dulu dihafalnya sejak kecil.

“Bapa Kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”

Ayat ini sudah saya tinggalkan Pak. Saya sudah hijrah, sekarang sudah saya ganti dengan Surat Al-Fatihah, yang dibaca minimal 17 kali sehari.

…“Kalau baca Al-Qur’an saya sering menangis terharu, alhamdulillah Allah masih tuntun saya diberi jalan dalam kebenaran…

BUTUH MODAL USAHA UNTUK HIDUP MANDIRI

Usaha bata merah yang selama ini jadi satu-satunya mata pencaharian Suliatin sempat terbengkalai beberapa bulan. Karena ia harus merawat Kayin (80), ayahanda yang sakit keras. Untuk berbagai keperluan hidup dan birrul walidain itu, ia terpaksa mengandalkan hutang kepada para tetangga.

Sang ayah pun wafat dalam keyakinan sebagai seorang Muslim. Kini hutangnya sudah menggunung karena ia tak bisa bekerja. Sementara itu, ia juga terbebani perjanjian jual beli, yakni harus mencicil tanah yang jadi lahan garapan batu bata dan calon tempat tinggalnya kelak.

“Usaha batu bata saya sempat terbengkalai, karena harus merawat orang tua, saya sebatang kara tidak ada pemasukan. Kemudian, saya harus membayar lahan yang saya beli untuk tempat tinggal saya. Saya ingin usaha saya ini juga lancar, biar barokah, saya bisa hidup selayaknya seperti orang lain,” ungkapnya.

Kini Suliatin harus menatap masa depan. Keinginannya tak muluk-muluk, ia hanya ingin usahanya lancar, bisa membantu sesama, melunasi hutang dan memiliki tempat tinggal layak agar bisa beribadah di rumah dengan khusyuk.

“Saya mohon dengan sangat, kepada para donatur IDC untuk bisa membantu saya membeli mesin batu bata, agar saya bisa membayar hutang-hutang saya. Saat ini saya ingin punya tempat tinggal tetap, supaya bisa ibadah dengan khusyuk tidak mikir ini dan itu. Kalau usaha saya lancar saya bisa mencicil tempat tinggal saya, saya bisa istiqamah dan wafat husnul khatimah,” ujar Suliatin penuh harap.

Pekerjaan yang dilakukan Suliatin hampir mustahil dilakukan seorang wanita. Sebab bekerja mencetak bata bukan pekerjaan ringan. Bak wanita perkasa, Suliatin menghunjam cangkulnya ke tanah liat yang keras. Setelah itu, tanah liat dikumpulkan lalu digemburkan menjadi adonan, hal itu pun dilakukan sendiri oleh Suliatin. Terakhir, adonan dituang dalam cetakan bata.

“Cetakan bata ini biasa hanya tiga cetakan, tapi saya usul ke pembuatnya agar dibikin 12 cetakan. Ini tidak umum memang, habis gimana, kalau cuma tiga cetakan tidak terkejar target cetak batanya,” ujar Suliatin.

Luar biasa, mencetak bata dilakukan Suliatin seorang diri sejak pagi hingga sore. Ia hanya berhenti istirahat hanya saat shalat atau libur bekerja ketika jadwal belajar mengaji tiba.

…Suliatin membutuhkan modal usaha sebesar 65 juta rupiah untuk membeli mesin pencetak bata, biaya pelunasan tanah lahan garapan, dan renovasi hunian yang layak…

PEDULI KASIH MUALLAF, AYO BANTU..!!

Allah Ta’ala menunjuk muallaf, gharimin dan fakir miskin sebagai salah satu asnaf yang berhak menerima zakat. Suliatin sangat berhak menerima zakat karena menyandang status muallaf sekaligus fakir miskin dan gharimin (menanggung hutang).

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Qs At-Taubah 60).

Selain itu, beban kesulitan hidup yang menimpa Suliatin adalah beban kita semua, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).

Mari wujudkan modal usaha dan hunian yang layak untuk muallaf Suliatin. Semoga dengan membantu meringankan beban muallaf tersebut, Allah menjadikan kita sebagai pribadi beruntung yang berhak mendapat kemudahan dan pertolongan Allah Ta’ala.

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat…” (HR Muslim).

Donasi untuk membantu muallaf Suliatin bisa disalurkan dalam program Peduli Kasih Muallaf:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  7. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  8. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  9. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  10. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 9.000 (sembilan ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.009.000,- Rp 509.000,- Rp 209.000,- Rp 109.000,- 59.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: infaqDakwahCenter.com.
  • Bila biaya sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.