KAJIAN, Hikmah — December 10, 2020 at 05:11

Ciri-ciri Husnul Khatimah dan Su`ul Khatimah

by
Ciri-ciri Husnul Khatimah dan Su`ul Khatimah

Berakhirnya kehidupan manusia di dunia ini adalah dengan datangnya kematian, dan putusnya hubungan dengan dunia, kemudian bangkit dari kuburnya dan berkumpul di hari kiamat kelak. Pada saat manusia berada dalam keadaan sakaratul maut, itulah jalan awal menuju kehidupan akhirat. Bisa jadi seseorang akan mendapatkan husnul khatimah atau su`ul khatimah. Kita memohon perlindungan Allah Ta’ala agar tidak mendapatkan pilihan kedua…

Husnul Khatimah (akhir yang baik) dan Su`ul Khatimah (akhir yang buruk) adalah dua keadaan manusia ketika meninggalkan dunia yang fana ini.

Berakhirnya kehidupan manusia di dunia ini adalah dengan datangnya kematian, dan putusnya hubungan dengan dunia, kemudian bangkit dari kuburnya dan berkumpul di hari kiamat kelak.

Pada saat manusia berada dalam keadaan sakaratul maut, itulah jalan awal menuju kehidupan akhirat.

Bisa jadi seseorang akan mendapatkan husnul khatimah atau su`ul khatimah. Kita memohon perlindungan Allah Ta’ala agar tidak mendapatkan pilihan kedua.

Husnul khatimah adalah jika seseorang sebelum meninggal dunia dapat menjauhkan diri semua hal yang dimurkai Allah Ta’ala, bertaubat dari segala kesalahan dan kemaksiatan, dan melakukan ketaatan dan amal kebaikan, sampai dia meninggal dunia dalam keadaan yang baik.

Hal ini berdasarkan kepada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ

Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya, maka Dia akan mempekerjakannya.

Para shahabat lantas bertanya, ”Bagaimana Allah Ta’ala mempekerjakannya?”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda,

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ

Allah Ta’ala memberi petunjuk kepadanya untuk melakukan amal shalih sebelum dia meninggal dunia.” (HR. Ahmad)

Husnul khatimah mempunyai banyak tanda, di antaranya dapat diketahui oleh seseorang yang sedang sakaratul maut, dan yang lainnya dapat diketahui oleh banyak orang.

Adapun tanda-tanda yang dapat diketahui seseorang bahwa dia mendapatkan husnul khatimah, adalah berita gembira yang didapatkannya sebelum meninggal dunia, berupa ridha Allah Ta’ala dan kemurahan-Nya.

Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. (QS. Fushshilat: 30).

Berita gembira ini diterima kaum mukminin ketika dalam keadaan sakaratul maut, di dalam kubur, dan ketika dibangkitkan di hari kiamat kelak.

Dalil yang menjelaskan hal tersebut, di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallambersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

Barangsiapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah mencintai perjumpaan dengannya, dan barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah membenci perjumpaan dengannya.”

Maka saya [Aisyah] bertanya, “Wahai nabiyullah, apakah maksudnya kebencian terhadap kematian? Kita semua membenci kematian.”

Beliau bersabda,

لَيْسَ كَذَلِكِ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللهِ وَسَخَطِهِ،كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

Bukan begitu, akan tetapi seorang mukmin jika diberitakan kepadanya tentang kasih sayang Allah Ta’ala, ridha dan surga-Nya, maka dia akan menyukai untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala, dan Allah pun menyukai perjumpaan dengannya.

Adapun seorang kafir jika diberitakan kepadanya tentang siksa Allah Ta’ala dan kemurkaan-Nya, maka dia akan benci untuk berjumpa dengan-Nya, dan Allah pun benci untuk berjumpa dengannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Husnul khatimah memiliki banyak tanda. para ulama telah menelitinya dengan melihat dalil-dalil yang berkaitan dengan hal tersebut, di sini akan sebutkan beberapa di antaranya:

Pertama, ketika seseorang meninggal dunia dia mengucapkan kalimat syahadat.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barang siapa yang ucapan terakhir (dalam hidupnya) adalah La Ilaha Ilallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), maka dia akan masuk surga. (HR. Abu Dawud).

Kedua, kening yang berkeringat ketika meninggal dunia.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam,

مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِيْنِ

Kematian seorang mukmin (ditandai) dengan kening yang berkeringat.” (HR. Ahmad).

Ketiga, meninggal dunia pada malam atau siang hari jum’at, sesuai dengan sabda Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari jum’at atau malamnya, kecuali Allah akan menjaganya dari siksa kubur.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

Keempat, mati syahid, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَا تَعُدُّوْنَ الشَّهِيْدَ فِيْكُمْ؟

“Apa yang dimaksud mati syahid menurut pendapat kalian?”

Mereka (para shahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, seseorang yang terbunuh di jalan Allah, maka dia mati syahid.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِيْ إِذًا لَقَلِيْلٌ

“Jika begitu, orang-orang yang mati syahid dari umatku jumlahnya sedikit.”

Mereka bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُوْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيْدٌ

Seorang yang terbunuh di jalan Allah, maka dia mati syahid; seorang yang meninggal dunia di jalan Allah, maka dia mati syahid; seorang yang meninggal dunia karena Tha’un (terserang wabah penyakit), maka dia mati syahid.

Seorang yang meninggal dunia karena sakit perut, maka dia mati syahid; dan seorang yang meninggal dunia karena tenggelam, maka dia mati syahid.“ (HR. Muslim)

Kelima, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

اَلشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ، الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Orang yang meninggal dunia sebagai syahid ada lima: orang yang meninggal dunia karena Tha’un (terserang wabah penyakit), sakit perut, tenggelam, tertimpa suatu bangunan, dan meninggal di jalan Allah. (HR. Al-Bukhar dan Muslim)

Keenam, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ

Seorang yang meninggal dunia mempertahankan hartanya, maka dia mati syahid; seorang yang meninggal dunia mempertahankan keluarganya, maka dia mati syahid.

Seseorang yang meninggal dunia mempertahankan agamanya, maka dia mati syahid; seseorang yang meninggal dunia mempertahankan jiwanya, maka dia mati syahid.”(HR. An-Nasa`i)

Ketujuh, meninggal dunia dalam menjaga keamanan wilayah dalam perang fi sabilillah (Ribath).

Hal ini sebagaimana sabda nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

رِبَاطُ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، فَإِنْ مَاتَ أَجْرَى اللهُ عَمَلَهُ الَّذِيْ كَانَ يَعْمَلُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

“Ribath sehari semalam lebih baik dari berpuasa dan beribadah sebulan, dan jika seseorang meninggal dunia ketika itu, maka Allah akan melipatgandakan pahala dari amalan yang pernah dilakukannya, dan rezekinya, serta selamat dari fitnah (adzab kubur).” (HR. Abu Uwanah, Ibnu Hibban, dan Abdurrazzaq).

Kedelapan, meninggal dunia dalam keadaan beramal shalih.

Sebagaiamana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mengucapkan kalimat La Ilaha Illallah denganmengharapkan ridha Allah Ta’ala, dan meninggal dunia pada saat itu, maka dia akan masuk surga.

Seseorang yang berpuasa pada suatu hari dengan mengharapkan ridha Allah Ta’ala, dan meninggal dunia pada saat itu, maka dia akan masuk surga; dan seseorang yang bersedekah, dan meninggal dunia pada saat itu, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ahmad)

Adapun su’ul khatimah, adalah di saat seseorang meninggal dunia dalam keadaan berpaling dari Allah Ta’ala, melakukan perbuatan yang dimurkai-Nya, tidak pernah melaksanakan kewajiban bergama.

Tidak diragukan, bahwa hal itu merupakan akhir kehidupan yang buruk.

Orang-orang bertakwa selalu merasa takut jika hal itu terjadi pada diri mereka, dan selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar terjauh darinya.

Pada saat ini, banyak terlihat tanda-tanda su`ul khatimah di sebagian masyarakat, seperti seseorang yang menolak dan enggan untuk mengucapkan kalimat syahadat, meninggal dunia dalam keadaan mengucapkan kata-kata kotor dan haram.

Tingkatan su`ul khatimah ada dua yaitu sebagai berikut:

Pertama, tingkatan yang sangat keji, yaitu ketika seseorang akan meninggal dunia, hatinya diliputi rasa ragu dan ingkar kepada Allah sampai ruhnya dicabut.

Hal ini menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala,dan menyebabkan dirinya mendapatkan siksaan yang kekal dan abadi.

Kedua, pada saat akan meninggal dunia, hati seseorang diliputi kecintaan terhadap sesuatu yang berkaitan dengan dunia, atau mencintai hal-hal yang diharamkan, sehingga rasa cinta tersebut tertancap dalam hatinya.

Seseorang akan meninggal dunia sebagaimana dia hidup, jika dia termasuk orang yang terbiasa mempraktikkan riba, maka dia akan mengakhiri hidupnya dengan kecintaannya terhadap riba.

Su`ul khatimah tidak akan terjadi pada seorang, jika lahir dan batinya bersama Allah Ta’ala dan selalu jujur dalam perkataan dan amal perbuatannya.

Ya Allah, kami memohon husnul khatimah kepada-Mu, dan berlindung kepada-Mu dari su’ul khatimah.

Ya Allah, ridhailah kami untuk selalu beramal shalih ketika ajal menjemput kami, Wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

Demikian ditulis kembali dari Durus Al-Am karya Abdul Malik Al-Qasim.

Sumber : http://bersamadakwah.net/ciri-ciri-husnul-khatimah-dan-suul-khatimah/