Ibadah, FIQIH — April 24, 2017 at 03:45

Bolehkah Keluarga Memakan Daging ‘Aqiqah?

by
Bolehkah Keluarga Memakan Daging ‘Aqiqah?

Berkata Syekh Kamil Muhammad Uwaidah, ”Penyaluran daging ‘aqiqah sama seperti penyaluran yang berlaku pada daging kurban.” Adapun terkait dengan penyaluan daging kurban, Syekh Kamil Muhammad Uwaidah berkata, “Para ulama mengatakan, yang lebih afdhal bagi orang yang berkurban adalah memakan dagingnya sepertiga, menyedekahkannya sepertiga, dan menyimpannya sepertiga.”…

Saya tidak tahu dari mana mereka mengambil pendapat. Sejauh yang saya ketahui, Rasulullah saw. Tidak pernah mengeluarkan larangan bagi orang yang ber’aqiqah memakan daging yang ia ‘aqiqahkan. Tidak adanya larangan dari Nabi saw. Berarti membolehkan kita untuk ikut memakannya, sebagaimana kita juga ikut memakan daging yang kita kurbankan pada hari raya Idul Adha.

Berkata Syekh Kamil Muhammad Uwaidah, ”Penyaluran daging ‘aqiqah sama seperti penyaluran yang berlaku pada daging kurban.” Adapun terkait dengan penyaluan daging kurban, Syekh Kamil Muhammad Uwaidah berkata, “Para ulama mengatakan, yang lebih afdhal bagi orang yang berkurban adalah memakan dagingnya sepertiga, menyedekahkannya sepertiga, dan menyimpannya sepertiga.”

Senada dengan Uwaidah, Abu Muhammad Ishom bin Mar’i mengatakan, “Karena tidak ada dalil dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam tentang cara penggunaan dan pembagian dagingnya maka kita kembali ke hukum asal, yaitu seseorang yang melaksanakan ‘aqiqah boleh memakannya, memberi makan dengannya, bersedekah kepada fakir miskin atau menghadiahkannya kepada teman-teman atau karib kerabat. Akan tetapi, lebih utama kalau diamalkan semuanya, karena dengan demikian akan membuat senang teman-temannya yang ikut menikmati daging tersebut, berbuat baik kepada fakir miskin, dan akan membuat saling cinta antar sesama teman.”

Lalu dalam bentuk apa daging ‘aqiqah kita bagikan pada tetangga? Tidak ada masalah kita bagikan dalam bentuk daging mentah ataukah dalam bentuk masakan yang sudah siap dinikmati. Akan tetapi, yang lebih utama adalah membagikan daging yang sudah dimasak. Perkara ini perlu saya sampaikan agar tidak jadi halangan bagi mereka yang ingin menyelenggarakan ‘aqiqah, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk membagikan dalam bentuk masakan yang sempurna. Juga, saya harap agar keterangan ini dapat menguatkan kita untuk tidak memaksakan diri menyelenggarakan ‘aqiqah dengan berbagai tambahan yang menyulitkan.

Sungguh, saya melihat bahwa di antara yang menyulitkan langkah kita mengikuti sunnah Nabi adalah berlakunya ketentuan-ketentuan yang agama tidak mengaturnya. Wallahu a’lam bishawab.


Sumber : https://www.muslimahzone.id/bolehkah-keluarga-memakan-daging-aqiqah/