Tafsir Quran, Manajemen Qalbu, KAJIAN, Hikmah — November 5, 2019 at 14:12

Bersandarlah Hanya Kepada Allah jangan Kepada Amal Ibadah

by
Bersandarlah Hanya Kepada Allah jangan Kepada Amal Ibadah

Diantara tanda bahwa seorang itu bergantung pada kekuatan amal dan usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan atas rahmat dan karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan dan dosa…

Islamkafah.com – Amal ibadah merupakan syarat kita agar dapat masuk kedalam surga yang telah Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya, namun perlu kita ketahui bahwa jangan sampai kita bergantung pada amal yang kita kerjakan dan melupakan berharap Rahmat dan Kasih Sayang dari Allah azza wa jalla, para ulama memberikan nasihat tentang hal ini:

٭ مِنْ علاماتِ الا ِعْتِمادِ عَلىَ العَملِ نـُقـَصَانُ الرَّجاءِعِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلل ِ٭

“Diantara tanda bahwa seorang itu bergantung pada kekuatan amal dan usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan atas rahmat dan karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan dan dosa”.

Orang yang melakukan amal ibadah itu pasti punya pengharapan kepada Allah, meminta kepada Allah supaya pengharapannya mendapatkan hasil, akan tetapi jangan sampai orang beramal itu bergantung pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu Allah, sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada Allah.  sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rohmat Allah, maka amalnyapuan akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal.

Kalimat: Laa Ilaha Illallah. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan Allah.

Pada dasarnya syari’at menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syari’at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat Alloh subhanahu wata’ala.

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wata’ala.

Bahkan Allah dengan tegas melarang kita agar tidak pernah berputus asa dari mengharapkan Rahmat Allah seperti tercantum dalam surat Yusuf ayat 87:

يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَ خِيْهِ وَلَا تَاۡيْـئَسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يَاۡيْـئَسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf 12: Ayat 87)

Bahkan dalam ayat tersebut yang berputus asa dari Rahmat Allah adalah termasuk golongan orang kafir, nauzubillah semoga kita dijauhkan dari sifat bergantung pada amal dan selalu berharap mendapatkan Rahmat Allah. (Abd.N)

%d bloggers like this: